HIKAYAT KADIROEN SEMAOEN

Sumber: http://www.marxists.org/indonesia/indones/HikayatKadiroen/index.htm

Hikayat Kadiroen


DAFTAR ISI

BAB I. MANTRI POLISI YANG BIJAKSANA
BAB II. JIWA YANG TERGODA
BAB III. TERJEPIT
BAB IV. SUKAR MEMILIH
BAB V. SEORANG SATRIA (ROCH DAN RAH ADHI SEJATI)
BAB VI. MENDAPAT GURU
BAB VII. PEMBELA RAKYAT MULAI MENDAPAT HADIAH


Hikayat Kadiroen Semaoen (1920)

BAB I

Mantri Polisi yang Bijaksana

"Opas, Asisten Wedono ada?"
"Ada Kanjeng Tuan!"
"Saya mau bicara dengannya."
"Saya Kanjeng, hamba akan segera mengatakannya!"
Begitulah tanya jawab antara Tuan Zoetsuiker, administratur pabrik gula Semongan, pagi tanggal 6 Februari 19…, di muka pendopo rumah Tuan Asisten Wedono dari Onderdistrik Semongan juga.

Yang disebut sebagai Opas di sini adalah seorang tua yang bernama Pigi. Ia sudah 33 tahun bekerja menjadi Opas Asisten Wedono Semongan juga. la sudah biasa mendapat pelajaran bagaimana menghormati semua tamu-tamu Belanda. Apalagi jika tamunya itu adalah seorang Tuan Administratur. Tamu orang besar seperti itu pasti akan dia sebut kanjeng. Demikian pula apa yang diperintahkan oleh para tamu-tamu besar semacam itu pasti segera dilaksanakan dengan secepat-cepatnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Opas Pigi segera berlari seperti dikejar harimau, menghadap Tuan Asisten Wedono yang sedang makan pagi di ruang makan rumah belakang. Ketika Tuan Asisten Wedono mengetahui ada tamu Tuan Administratur, ia segera berhenti makan. Ia mengambil baju jas dan dengan tergopoh-gopoh seperti orang yang hendak naik kereta api yang siap berangkat, berlari ke pendopo untuk menemui tamu besar Tuan Administratur tersebut.

"Tabik, Asisten! Saya kasih tahu sama Asisten, tadi malam ada pencuri ambil satu ayam yang nyonya beli di Surabaya. Harganya dulu f.2,50. Jadi seekor ayam bagus itu. Saya mau supaya Asisten cari pencuri dan ayamnya. Besok lusa saya ingin tahu kabarnya.”
“Saya Kanjeng, sebentar lagi saya akan datang ke rumah Kanjeng untuk mengurusnya sendiri.”
"Baik, Asisten. Jadi Asisten mau pigi..."
"Kanjeng...!" Terdengar suara keras Opas Pigi dari luar. Ia segera berlari dan duduk bersila seperti katak menghadap Tuan Administratur. Tuan administratur menjadi sangat terkejut dan marah besar, karena ia tidak merasa memanggil opas.
Tetapi kini datang seorang opas. Ia mengangkat kakinya, dan sambil sepatunya terarah ke muka opas ia berteriak:
“Pigi!”
“Hamba Kanjeng!”
Opas Pigi tetap duduk sambil menyembah-nyembah mendapat usiran Tuan Administratur. Sudah barang tentu, Tuan Administratur bertambah marah dan berkata pada tuan Asisten Wedono
“Asisten, ini opas gila. Apa sebab tidak lekas dipecat?”

Pada saat itu Tuan Asisten baru menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam hal ini terdapat salah pengertian karena opas itu namanya Opas Pigi. Jadi, sewaktu Tuan Administratur berkata “pigi”, maka Opas Pigi mengira ia dipanggil.Tuan Administratur mengerti hal itu ia tertawa terbahak-bahak dan Tuan Asisten Wedono pun berani ikut tertawa. Sedang Opas Pigi keluar dengan wajah menanggung malu.
Baru saja Tuan Administratur pulang, datang Lurah Desa Wonokoyo, membawa seorang desa, yang dari pakaian yang dikenakannya kelihatan amat miskin. Adapun nama orang desa itu adalah Soeket. Ia diantar oleh lurahnya menghadap Tuan Asisten Wedono untuk mengadukan bahwa baru saja ia kecurian. Untuk orang desa macam Soeket, tentu berbeda aturannya dengan Tuan Administratur pabrik gula meskipun keduanya sama-sama melaporkan sedang kecurian. Seorang Administratur pabrik gula, berpangkat besar, kaya dan semua orang mengenal dan mempercayainya. Lain halnya dengan Soeket, ia orang kecil, tak dikenal orang banyak, apalagi oleh Asisten Wedono yang kekuasaannya hampir meliputi 10.000 orang kecil. Itulah sebabnya Tuan Administratur bisa datang sewaktu-waktu dan melaporkan perkaranya begitu saja, tidak usah memakai saksi seorang lurah pada Asisten Wedono. Tetapi bagi orang seperti Soeket, untuk melaporkan perkaranya, ia harus disertai lurahnva sebagai saksi bahwa apa yang menimpanya memang-benar-benar terjadi.
Untuk orang besar, semua urusan menjadi gampang. Tetapi untuk orang kecil, susahnya bukan main.
Tuan Asisten Wedono yang baru saja bertemu dengan Tuan Administratur bertanya pada Lurah, apa sesungguhnya keperluannya.
“O, Tuanku, ini orang dari desa saya. Ia seorang petani yang hanya memiliki seekor kerbau. Tetapi tiba-tiba kerbau itu tadi malam dicuri orang!”
“O, jadi kecurian! Baik, silahkan kalian menunggu dahulu sebab saya akan sarapan lebih dahulu. Selesai makan pagi saya akan segera pergi ke rumah Tuan Zoetsuiker yang juga sedang kecurian. Nanti siang, kalau saya sudah pulang, kau boleh melaporkan lagi. Sudah!”
Begitulah jawaban Tuan Asisten Wedono. la sangat tergopoh-gopoh dan sangat cepat ketika mengurus perkara Tuan Administratur, tetapi ia memandang kecil masalah Soeket. Bahkan ia disuruh menunggu terlebih dahulu. Perbuatan semacam ini memang tidak mengherankan sebab seorang Administratur kelas sosialnya sama dengan pembesar seperti asisten Wedono. Juga dengan pembesar-pembesar lain seperti  Asisten Residen, Kontrolir, Regen, Patih dan sebagainya. Orang-orang besar  semacam itu sangat mudah berhubungan dengan tuan-tuan besar di atas dan mudah saja mengadukan perbuatan-perbuatan amtenar-amtenar seperti Asisten Wedono kepada para pembesar-pembesar di atasan. Sebaliknya, seorang desa seperti  Soeket, sangat susah untuk mengadukan kesalahan para pembesar. Sedangkan untuk  bertemu dengan Asisten Wedono saja ia harus melapor bersama lurah lebih dahulu.
Apalagi ketemu dengan Tuan Regen atau Tuan Kontrolir guna melaporkan kesalahan pejabat macam Asisten Wedono.
Aturan di desa memang sangat menyulitkan orang-orang kecil untuk bertemu dengan pembesar-pembesar negeri. Sehingga hampir-hampir orang desa sama sekali tidak bisa dan tidak suka mengadukan keberatan-keberatannya kepada kepala negeri. Itulah sebabnya mengapa seorang pejabat macam Asisten Wedono tersebut sangat cepat jika mengurus perkara yang menimpa tuan-tuan besar. Tetapi menomorduakan pengaduan orang desa atau orang kecil.
Tidak lama berselang, kita telah melihat antara Tuan Asisten Wedono, Nyonya Administratur dan seorang mantra polisi muda, berada di muka kombong di kebun belakang rumah Tuan Administratur Zoetsuiker.

Nyonya Administratur menjelaskan bahwa ia amat senang memelihara ayam yang
bagus-bagus. Ia punya ayam sepuluh ekor. Tetapi pagi ini tinggal sembilan ekor.
Jadi jelas, yang seekor pasti hilang dicuri maling. Karena nyonya tahu betul
bahwa kemarin sore ayam itu masih genap sepuluh ekor di kandang. Tetapi pagi
ini, ketika ia hendak melihat ayamnya, kandang ayam itu sudah terbuka. Pintunya
rusak seperti dibongkar pencuri. Ketika Nyonya Administratur memperhatikan lebih
lanjut, ia tahu bahwa ayam yang dibelinya dari Surabaya seharga f.2,50 yang
berbulu biru, sudah tak ada sama sekali. Jadi ayam yang langka dan sangat bagus
itu telah hilang. Ia tanya pada koki, babu, jongos, tukang kebun dan tukang kuda
serta semua pegawai di rumah itu, semua tidak tahu. Melihat pintunya yang
sedikit rusak – meski pintu kandang ayam itu memang sudah tua dan amat gampang dirusak – yang mestinya masih tertutup tapi kali ini sudah terbuka, maka ia berpikir pasti ayam itu dicuri orang. Apalagi Nyonya sering mendapat laporan  dari babu-babu dan koki bahwa tetangga kanan-kiri Administratur juga sudah  sering kecurian ayam.

Tuan Asisten Wedono memperhatikan betul cerita Kanjeng Nyonya dan ia percaya begitu saja. Ia melihat-lihat pintu kandang yang rusak. Ia membikin beberapa catatan semua hal yang ia ketahui dan ia dengarkan. Selain itu, ia berjanji  kepada Kanjeng Nyonya bahwa Asisten Wedono sendiri yang siap mengurus dan menyelesaikan perkara ini.

Tetapi Mantri Polisi muda berpikiran lain. Ia menduga ayam itu pasti dicuri dan dimakan oleh seekor garangan sebab pintu kandang ayam itu memang mudah dirusak. Selain itu, di pintu terdapat goresan-goresan seperti bekas cakaran kuku seekor garangan. Mantri Polisi tidak yakin bahwa yang mencuri ayam itu adalah manusia. Karena jika yang mencuri manusia, pasti dia tidak hanya mengambil seekor saja.
Tetapi ia pasti akan mencuri sekuat ia mengangkat. Selain itu, memang sangat mustahil ada pencuri yang berani masuk ke kebun Tuan Zoetsuiker karena tuan besar mempunyai pegawai banyak sedang di muka rumah ada penjaganya. Begitupun, Tuan Zoetsuiker terkenal mempunyai senjata api yang selamanya jelas akan membikin takut pencuri. Mengingat lagi keterangan dari tetangga-tetangga
kanan-kiri Kampung Nyonya sering kecurian ayam. Maka ia menduga, pasti sekitar  perumahan ini terdapat sarang garangan. Tuan Mantri Polisi muda menjelaskan praduga-praduganya ini pada Nyonya Administratur dan Tuan Asisten Wedono. Tetapi Nyonya menjawab:
“Neen Mantri! Mesti ada pencuri sebab Nyonya Kontrolir, saya punya sahabat, dulu juga pernah kecurian ayamnya dan pencurinya juga tertangkap. Tuan Asisten Wedono, dengar kata Nyonya Kontrolir saya punya sahabat, saya menjadi khawatir, jangan-jangan ini perkara nanti diurus oleh Tuan Kontrolir dan tentu akan gampang marah pada Tuan Asisten Wedono jika perkara ini tidak selesai.”
Itulah sebabnya Asisten Wedono sekali lagi berjanji akan mengurus perkara ini sampai selesai. Ia juga menjelaskan bahwa Mantri Polisi ini baru saja lulus sekolah. Jadi apa yang menjadi praduganya memang gampang keliru. Setelah berkata begitu ia permisi pulang untuk memikirkan masalah ini serta bagaimana cara menangkap pencurinya. Mantri Polisi diajak pulang. Tetapi Mantri Polisi merasa tidak enak, sebab ia tetap yakin pada dugaannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan mencari bukti-bukti dan mengurus masalah ini sampai selesai.
Siapa sesungguhnya Mantri Polisi itu? Ia masih muda sekali, baru berumur 20 tahun. Dan baru saja keluar dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (O.S.V.I.A) di Probolinggo. Ia baru saja bekerja sebagai Schrijver Controleur selama tiga bulan. Namun sudah dipandang pantas untuk menjadi mantri polisi. Pada waktu pencurian ini terjadi, ia baru tiga hari ditugaskan jadi mantri polisi di Onderdistrik Semongan. Ia adalah pemuda yang amat bijaksana, meski  ayahnya hanya seorang lurah. Dengan pertolongan Tuan Kontrolir yang membawahi  lurah tersebut, maka anaknya bisa masuk sekolah O.S.V.I.A di Probolinggo. Tuan Kontrolir tersebut sudah mengambil si anak lurah tersebut sebagai anak emas sebab Tuan Kontrolir tahu bahwa anak itu memang cerdas dan bijaksana. Hal serupa  ini memang amat jarang terjadi di tanah Jawa. Dari sekitar 10.000 orang, hanya ada satu. Kita harus tahu bahwa pada masa itu, sekolahan memang amat sedikit jumlahnya. Dan itu khusus untuk anak para priyayi. Sedang anak-anak orang kecil, sampai anak lurah sekalipun, hampir tidak mungkin dapat belajar sampai sempurna. Hanya karena watak, kepribadian dan keberanian lurah tersebut, ia berani mendekati Tuan Kontrolir dengan yakin walau tidak melupakan sopan santun yang berlaku. Maka Tuan Kontrolir menjadi senang pada lurah itu. Apalagi, lurah itu memang terkenal sebagai yang terbijaksana di antara lurah-lurah yang lain. Karena hubungan itulah maka anak lurah itu bisa diambil sebagai anak emas Tuan Kontrolir. Anak emas itu bernama Kadiroen. Di sekolah ternyata ia terpandai, suka belajar, rajin menuntut ilmu. Dan wataknya teguh kuat serta pemberani. Ia tidak akan berhenti berikhtiar  selama apa yang diinginkan tercapai. Ia berjiwa merdeka dan pemberani sehingga  tidak mudah bagi pemuda sebayanya untuk mengalahkannya dalam segala hal termasuk dalam kecerdasan, beradu kekuatan fisik dan lain-lain. Oleh sebab itu, di sekolah ia dianggap sebagai bintang kelas. Ia dicintai oleh guru-gurunya dan dihormati oleh sesama murid.

Kadiroen memiliki perawakan yang sedang, tidak besar tidak juga kecil, tetapi di dalam tubuhnya tampak tersimpan kekuatan yang besar. Wajahnya ganteng. Kulitnya hitam bersemu merah halus. Matanya terbuka lebar, serta bersinar tajam jika memandang. Hal itu menandakan bahwa pemiliknya mempunyai kepribadian yang kuat, berwatak kesatria dan tidak suka berbuat dosa. Selain itu, ia memberani, setia dan mudah dipercaya. Ia hormat dan tidak suka menghina pada sesama, tidak suka
menyakiti hati nurani lain. Sehingga semua orang senang melihatnya.

Kadiroen memang ditakdirkan Tuhan memiliki kebaikan dalam segala hal, melebihi dari yang lain-lain sesamanya. Dan ia memang sangat suka berbuat kebaikan. Meski ayahnya hanya orang kecil atau orang biasa, tetapi ibunya masih memiliki gelar  Raden Ayu. Karena ibunya tahu betul watak, kecerdasan dan kepribadian ayah Kadiroen, ia merasa senang meski hanya kawin dengan seorang lurah. Apalagi ia
memang sudah tidak punya sanak famili lagi. Dan tampaknya semua sifat dan tabiat dari kedua orangtuanya itu, telah melekat, menurun pada diri Kadiroen. Karena ia memang sangat suka berbuat kebaikan, maka ia melebihi sesama pemuda sebayanya. Berkebalikan dengan watak mantri Polisi Kadiroen, yakni atasannya atau Asisten Wedono Semongan; Ia adalah anak seorang regen yang bergelar Raden Panji  Tumenggung. Dan anak yang jadi Asisten Wedono itu bergelar Raden Panji juga. Ia sudah berumur 35 tahun. Meski sudah bekerja selama 12 tahun di Binnenlandsch-Bestuur, tetapi masih saja berpangkat asisten Wedono. Sejak ia disekolah, ia tergolong amat bodoh dan kocak. Tabiatnya sangat berani luar biasa, kalau menghadapi orang kecil dan yang ada dibawahnya. Jadi wajar jika ia suka berbuat sewenang-wenang. Tetapi jika ia menghadapi para pembesar yang ada di atasnya, atau lebih kuat dibanding dirinya, dia menjadi amat penakut dan sangat bersikap hormat. Bahkan saking hormatnya, martabat dirinya sendiri sering direndahkan seperti seekor anjing. Wajar jika ia punya watak penjilat. Memang sudah lumrah jika watak penjilat biasanya disertai dengan watak sewenang-wenang.
Meski tamatan O.S.V.I.A. di Probolinggo, tetapi di sana ia hanya memamerkan kebodohannya, amat tidak suka belajar, tidak disenangi guru dan sesama murid yang lain. Hanya karena ia anak seorang regen karena ayahnya yang berpangkat tinggilah, menggunakan pengaruhnya, ia bisa menjadi asisten wedono tersebut, ia diangkat menjadi asisten tersebut, ia bergelar Raden Panji Kuntjoro Noto-Prodjo-Ningrat, sebuah gelar yang amat panjang dan mentereng.
Begitulah dua orang yang satu dengan yang lainnya saling bertolak belakang, seperti siang dan malam, meski mereka sama-sama bekerja dalam satu instansi. Yang baik hanya menjadi mantri polisi yang diperintah, sedang yang busuk justru menjadi asisten wedono yang memerintah.
Setelah jam satu siang, Tuan Asisten Wedono pulang, Selama itu juga Soeket masih tetap menunggu. Ia sudah ditinggal pulang oleh lurahnya. Lurah itu berjanji sanggup menjadi saksi nanti sore apabila Soeket hendak melaporkan perkaranya pada asisten Wedono. Setelah Tuan Asisten Wedono pulang, Soeket langsung saja datang menghadap. Tetapi kata Tuan Asisten Wedono:

“Tunggu saya makan dahulu.” Selesai makan, ia memanggil Soeket yang segera menjelaskan perkaranya.
“O, Ndoro, hamba orang miskin. Hamba hanya memiliki seekor kerbau, sebagai tumpuan mencari  sesuap nasi. Tetapi tiba-tiba, tadi malam kerbau itu dicuri orang!”
"Kamu amat teledor! Kemana kamu semalaman pergi? Tidur nyenyak itu saja yang kau bisa. Bayangkan kerbau sebesar itu. Dicuri orang kau tidak tahu. Hai pemalas. Sekarang kamu minta tolong sama aku. Apa memang kamu sudah tidak bisa menjaga kerbaumu sendiri. Dasar pemalas!” kata Tuan Asisten Wedono sambil marah besar.

Soeket menjadi amat takut. Dalam benaknya, ia sangat menyesal. Mengapa harus mengadukan masalah ini. Coba kalau tahu bakal begitu. Tentunya ia sebisa-bisanya akan mencari sendiri kerbau serta pencurinya Sekarang nasi telah menjadi bubur. Lalu mau dikata apa. Ia memberanikan diri, menuturkan kejadian yang sebenarnya.

“O, Ndoro, hamba mohon ampun. Tadi pagi jam tiga, hamba berangkat ke kota untuk menjual kelapa. Dan baru pulang setelah jam delapan. Anak hamba hanya seorang tapi tiba-tiba tadi malam sakit. Sedang istri hamba juga turut sakit. Jadi sejak jam tiga pagi tadi, rumah hamba kelihatan sangat sepi, itulah sebabnya sampai kecurian."

"Diam!" Kata Tuan Asisten Wedono yang marah besar. "Kamu dasar bodoh, mengapa semua sedang sakit nekat kau tinggal ke pasar?"
"Hamba mohon ampun Ndoro. Karena hamba memang terpaksa harus pergi ke pasar menjual kelapa untuk membeli beras jatah makan keluarga hari ini."
“Diam kau, berani sekali kau melawan kata-kataku, anjing. Saya sudah bosan bicara denganmu. Nanti sore kau boleh datang lagi. Dan cukup melaporkan perkaramu pada Mantri Polisi. Ayo, cepat pergi”

Itulah watak Tuan Asisten Wedono yang busuk ketika harus menerirna pengaduan rakyat kecil. Asisten Wedono semacam itu namanya tidak mau tahu bahwa dia dibayar oleh Gupermen untuk melayani keperluan orang kecil juga. Ia merasa dirinya seakan raja di hadapan rakyat kecil agar si kecil terus-menerus takut kepadanya. Dengan cara menindas semacam itu, ia berusaha agar rakyat kecil tidak
gampang-gampang mengadu perkara yang dihadapinya. Hal mana jika itu terjadi akan membikin begitu banyak kerjaan dan urusan Asisten Wedono sehingga ia tentu tidak akan bisa makan enak dan tidur nyenyak. Dengan menindas perasaan rakyat yang berani menuntut hak-haknya, perintahnya gampang dituruti oleh rakyatnya. Sebaliknya, rakyat menjadi amat ketakutan, dan kemerdekaannya menjadi hilang sama sekali sehingga keinginan rakyat untuk memperbaiki nasibnya sendiri menjadi semakin terlupakan. Akhirnya, rakyat menjadi penyabar dalam semua hal sehingga ia akan miskin terus-menerus. Namun jika kemiskinan itu telah sampai pada batasnya maka ada para "dukun" atau "kyai" yang memberikan ilmu memperbaiki nasib, dan rakyat lain lari kepada para penolong-penolong semacam itu, sehingga orang-orang semacam ini akhirnya mendapat kepercayaan yang besar dari rakyat. Dan berkat kepercayaan itu, dalam diri mereka sering timbul niat dan pikiran-pikiran yang keliru. Tanpa pikir panjang, mereka mengira bisa menjadi seorang raja. Maka akibatnya, timbul berbagai gejolak dan kerusuhan di desa-desa, yang akhirnya dapat menjadi alasan para serdadu untuk membunuh jiwa-jiwarakyat kecil yang tak berdosa. Sungguh, para priyayi yang buas itu memang tidak berusaha membantu pemerintah bagaimana meningkatkan taraf hidup rakyat. Mereka malah selalu bikin ribut dan onar di desa-desa sehingga ketertiban dan keamanan desa menjadi kacau. Untunglah jika kemudian ada perkumpulan-perkumpulan atau gerakan-gerakan yang berusaha mengurangi dan menghalangi kejadian-kejadian buruk serupa itu.

Jam tiga sore Mantri Polisi Kadiroen menerima pengaduan Soeket dengan ramah tamah. Selain itu, ia segera mengajak Soeket pulang untuk melihat sendiri tempat kejadian perkara dimana pencurian kerbau itu terjadi. Mendengar segala penuturan Soeket yang panjang lebar, Kadiroen menaruh belas kasihan yang mendalam terhadap nasib yang menimpa Soeket. Dalam hatinya, ia berjanji akan berusaha dengan sungguh-sungguh menolong Soeket mendapatkan kerbaunya kembali serta menangkap
pencurinya. Setibanya ia di rumah Soeket, ia mendengar rintih tangis yang menyayat.
"O, Bapak, mengapa kau pergi lama sekali. Aduh Pak, sakit, sakit Pak. Aduh Bu, sakit...!"'
Juga disusul rintih tangis yang lain.
"O, Pak, aku tidak kuat kalau harus terus-menerus sakit begini. Minum..., sayan minta minum. Apa sebabnya kau pergi begitu lama!"

Begitulah rintih tangis anak dan bini Soeket yang sedang sakit. Mengetahui semua itu, hati Kadiroen serasa hancur. Ia memberi beberapa nasihat kepada Soeket. Ia juga berusaha menolong dan menghibur kepada si sakit sebisa-bisanya. Dan dengan senang hati ia berusaha secepatnya mengurus perkara Soeket. Pertama-tama, ia melihat dimana lokasi rumah Soeket berdiri. Ia tahu, rumah itu berdiri di
perbatasan desa. Di belakang rumah terdapat areal persawahan yang luas. Sunyi. Kiri kanan jauh dari tetangga. Wajar jika mudah dimasuki pencuri. Di muka rumah yang berdinding bambu dan tertutup atap – sebuah rumah yang memang sudah tua – berdiri kandang ternak kerbau Soeket. Sebuah kandang yang sudah tua. Perkakas dan seisi rumah menandakan hanya Soeket orang yang sangat miskin. Kadiroen lalu
berusaha mencari jejak-jejak pencurinya. Tetapi pencuri itu nyaris tidak meninggalkan jejak yang jelas sama sekali. Sebab tanah di situ adalah tanah kering, sehingga tidak meninggalkan jejak kaki satu pun. Ia mendapat keterangan bahwa pintu pekarangannya pagi-pagi sudah tidak tertutup lagi. Hal itu membuktikan bahwa pencuri itu membawa kerbaunya lewat depan rumah. Hanya pagar belakang rumah terdapat beberapa kerusakan, jelas bahwa pencuri itu pasti masuk lewat belakang rumah dengan cara merusakkan pagar. Dari rusaknya pagar itu, Kadiroen bisa menduga-duga, pencuri itu pasti berbadan besar dan kuat. Orang yang lembek dan kecil, tentu tidak mungkin dapat menumbangkan pepohonan di pagar. Pohon-pohon itu rebah pasti karena desakan dan tendangan pencuri yang
berbadan besar dan kuat. Sebuah jejak yang menguntungkan ditemukan Kadiroen. Ia mendapatkan selembar kartu remi (kartu judi) terselip di pagar itu. Dari penjelasan Soeket bahwa ia tidak pernah main judi, Kadiroen yakin kartu ini pasti milik pencurinya. Hal itu dapat menjadi jalan terang, bahwa pencurinya adalah seorang penjudi. Ia mengira, pasti pencuri itu habis kalah judi. Sehingga
ia nekat mencuri kerbau itu. Kadiroen terus berpikir panjang lebar. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. “Sesudah mencuri, dibawa kemana kiranya kerbau itu? Ke pasar atau ke rumah orang lain untuk dijualkah? Rasanya tidak mungkin. Sebab tidak mudah untuk berbuat hal yang demikian sebab semua penjualan kerbau, harus memakai saksi lurah, yang menjelaskan dari mana asal usul kerbau itu dan
lain-lainnya. Dalam hal ini, tentu pencuri akan sangat mudah ketahuan dan tertangkap. Apa mungkin kerbau itu dipotong untuk dimakan sendiri? Mustahil, rasanya tidak mungkin, sebab satu orang tidak mungkin makan seekor kerbau jika tak punya hajat. Apa mungkin daging kerbau itu lalu dijual ke pasar? Juga tidak bisa. Karena semua hewan yang dipotong dan dagingnya dijual di pasar, harus mendapat pengesahan dari pegawai Gupermen. Pendek kata, jika hanya seorang pencuri, tidak mudah bcrbuat hal-hal yang sangat sukar begini. Dan pasti pencuri itu akan cari akal bagaimana mudah mendapatkan uang.” Oleh sebab itu Kadiroen yakin bahwa pencuri itu akan kembali datang ke rumah Soeket, untuk berjanji mengembalikan kerbaunya asalkan mendapatkan uang tebusan. Kejadian-kejadian serupa ini memang sering terjadi dalam hal pencurian hewan-hewan besar. Setelah itu, Kadiroen permisi kepada Soeket dan berjanji akan mencarikan kerbaunya.

Pukul sepuluh malam. Desa Wonokoyo sunyi sekali. Seantero desa terkurung gelap malam yang hitam pekat. Di runah Soeket tidak terdengar apa-apa selain rintih tangis anak dan bininya yang sedang sakit. Memikirkan semua ini, hati Soeket menjadi amat berduka. Tiba-tiba ia amat terkejut, seperti seorang yang baru bangun tidur dibangunkan oleh suara guntur yang menyambar sangat keras. Ia mendengar pintunya diketuk orang dan terdengar suara ancaman yang menakutkan.
"Hai Soeket, awas, besok jam sepuluh malam kamu harus menyediakan uang sebesar f.25,- di pintu pagar sebelah kanan. Jika kau tidak mau menyediakan uang itu, kerbaunya akan hilang selamanya. Tetapi jika kau menurut, lusa pagi-pagi kau akan mendapatkan kerbaumu lagi di muka rumahmu. Saya hanya minta tebusan murah, sebab saya masih kasihan dengannmu. Dan ingat, jangan sekali-kali kamu berani lapor polisi. Sebab kalau kamu berani lapor polisi, lain kali kau akan kubunuh.”

Soeket menjadi amat bersedih. Uang f.25,- harus ia dapat paling lambat besok malam. Dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Ia ingin keluar untuk berunding dengan pencuri itu. Tetapi ia tidak berani, sebab ia tidak tahu berapa besar kekuatan yang ada di luar. Ia memberanikan bertanya, namun di luar
keburu sunyi, Soeket tak mendapatkan jawaban apa-apa. Ia menjadi amat takut dan berjanji untuk tidak melaporkan masalah ini pada polisi.

Sesosok badan yang besar dan tampak kuat, berpakaian serba hitam dan tampak meninggalkan rumah Soeket, dengan perlahan-lahan, sehingga langkah-langkah kakinya tak terdengar sedikit pun. Ia berjalan menuju jalan raya. Tetapi tanpa sepengetahuan dirinya, menguntit di belakangnya seorang yang berperawakan kecil dan berpakaian serba hitam hitam pula. Ia terus-menerus menguntit kemana perginya orang itu.

Selama satu jam perjalanan, tibalah orang yang dikuntit itu di muka sebuah rumah besar. Sesudah mengetuk pintu, ia segera masuk. Rumah itu berdiri dekat hutan yang sunyi serta jauh dari tetangga kanan-kiri. Sementara badan yang kecil, yang juga berpakaian serba hitam berada di luar, mengintip dari lubang pintu dan mendengarkan pembicaraan orang yang ada di dalam rumah. Di dalam rumah ia
melihat ada empat lelaki yang bermuka kasar dan tampak sangar. Mereka sedang asyik bermain judi, sedangkan yang baru datang langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar. Ia tidak kelihatan wajahnya, hanya terdengar suaranya saja.
“Sudah sahabat-sahabat, saya sekarang capai. Saya mau tidur. Yang punya kerbau besok malam tentu akan memberikan uang tebusan f.25,- kepada saya.”
Lain halnya jawaban dari empat orang tadi.
“Wah, Kang, sekarang kita musti main dadu, sebab kartu buat main ceki kurang satu!”

Inilah suara-suata yang perlu diketahui oleh orang berpakaian hitam yang ada di luar. Yakni, suara-suara yang dapat memberikan keterangan lebih jauh perihal pencurian kerbau itu pada Kadiroen; Mantri Polisi Kadiroen sendirilah yang berpakaian serba hitam, seperti pencuri yang malam-malam menyelinap di samping rumah Soeket, untuk mengetahui siapa sebenarnya pencuri kerbau yang meminta tebusan kepada Soeket.

Sekarang Kadiroen sudah tahu semuanya. Tetapi ia ingin tahu lebih dahulu dimana kerbau itu disembunyikan. Kadiroen belum berani masuk ke rumah pencuri itu. Sebab ia sendiri tentu tidak mungkin menang melawan lima orang. Maka pada malam itu, Kadiroen merasa bahwa perkara ini sementara cukup sampai disini lebih dahulu. Ia segera pulang dan tidur nyenyak seperti tidak ada kejadian apa-apa; itu membuktikan bahwa ia memang memiliki watak pemberani.
Esok paginya, jam enam, ia sudah berangkat ke kantor Tuan Asisten Wedono. Ia minta izin sampai sore untuk mengurus masalah kerbau itu. Ia berniat memakai uangnya sendiri f.25,- untuk dipasangkan sebagai taruhan menangkap pencuri itu. Yaitu ia mempunyai uang kertas f.5,- berjumlah lima lembar. Ia menyuruh dua opas untuk mencatat nomor seri uang-uang itu. Adapun kartu judi yang ia peroleh dari
pagar rumah Soeket, ia simpan dengan baik di kantor asisten Wedono. Selanjutnya, ia pergi ke rumah Soeket.

Soeket menangis meminta pinjaman uang f.25,- tetapi tidak berani menjelaskan bahwa uang itu akan digunakan sebagai uang tebusan kerbaunya. Meski Kadiroen mengetahui akan hal ini, ia pura-pura tidak tahu. Ia segera memberikan pinjaman semua uang kertas miliknya. Habis dari rumah Soeket, ia segera pergi ke areal persawahan dekat perumahan Tuan Administratur yang kecurian ayam. Ia menengok
kanan-kiri, barangkali melihat seekor garangan sedang bersembunyi. Tetapidisitu memang begitu banyak semak-semak rimbun yang layak untuk persembunyian garang yang aman. Kadiroen terpaksa mencari cara lain. Ia meminjam kurungan yang kuat sekaligus dengan ayamnya sekalian. Ia menaruh ayam dalam kurungan itu serta meletakkan di dekat semak-semak rimbun dan sunyi. Ia sendiri segera naik ke atas pohon untuk memperhatikan kurungan ayam pasangannya. Karena suara dan bau ayam
tidak berselang lama ia melihat seekor garangan datang menghampiri kurungan itu. Kadiroen segera melemparkan batu kerikil ke arah garangan itu, sambil pandangan matanya mengikuti kemana garangan itu bersembunyi. Lalu Kadiroen segera turun dan pergi mendekati semak rimbun tempat garangan itu masuk. Disana ia mendapatkan bangkai ayam berwarna biru milik Nyonya Administratur. Tidak jauh
dari tempat itu, ia melihat tulang-belulangnya serta bulu-bulu ayam berserakan. Hal itu membuktikan bahwa pencuri ayam yang dicari Tuan Asisten Wedono adalah benar-benar seekor garangan. Dalam hatinya Kadiroen tertawa terpingkal-pingkal.
Tetapi ia tidak berani menceritakan semua itu kalau belum berhasil menangkap garangan tersebut. Itulah sebabnya, ia hendak memasang jaring perangkap garangan didekat semak-semak rimbun tersebut. Sebagai umpannya ia membeli seekor anak ayam yang masih kecil. Sesudah memasang jaring perangkap itu dan meminta tolong pada orang-orang yang ada di dekat situ supaya melarang anak-anak main di sekitar situ, maka ia segera pulang. Sore harinya ia berangkat lagi ke kantor Asisten Wedono.

“Nah, Mantri Polisi, Lihatlah pekerjaanku!" kata Tuan Asisten Wedono bangga. “Kemarin ada pencurian ayam, sekarang pencurinya sudah saya tangkap!”
Kadiroen mlenggong.Bagaimnna bisa, pikirnya. Tetapi Tuan Asisten Wedono menceritakan hal itu dengan bangga, sehingga Kadiroen tidak mau mengomentari. Ia membiarkan kebanggaan Tuan Asisten Wedono. Yang dimaksud pencuri ayam itu adalah seorang desa yang tinggal dekat rumah Tuan Administratur. Namanya Soekoer. Ia seorang yang hidup pas-pasan. Tidak kaya, juga tidak miskin. Ia tampak gemuk dengan pakaian yang pantas. Kadiroen tidak yakin kalau Soekoer pencurinya. Oleh
karena itu, ia bertanya kepada Asisten Wedono.

“O, Tuan, saya senang Tuan sudah dapat menangkap pencurinya. Karena saya masih polisi baru, jadi saya masih harus belajar dengan Tuan. Namun saya masih belum yakin, apa benar Soekoer adalah pencurinya? Bagaimana Tuan menangkap serta apa bukti-buktinya?"

Tuan Asisten Wedono merasa amat bangga menceritakan keberhasilannya, seraya ia berkata:
“Ya, Mantri, begitulah, orang harus pintar. Tidak boleh asal berpendapat bahwa pencuri ayam itu adalah seekor garangan. Sementara kau sudah berpendapat begitu, itu salah besar. Mestinya kamu mengurusnya terlebih dahulu, mencari bukti-buktinya. Baru berpedapat. Tetapi maklum, kamu masih muda, jadi masih harus banyak belajar kepada saya! Adapun Soekoer, memang telah nyata sebagai
pencuri ayam Nyonya Administratur, meskipun ia masih mungkir. Tetapi bukti-bukti telah cukup. Ada saksinya segala. Doerachim bercerita pada saya, kemarin pagi ia membeli ayam berwarna biru pada Soekoer. Ayam itu telah disembelih oleh Doerachim. Tetapi ia membawa bulu-bulu serta tulang-belulang ayam sebagai barang bukti. Sewaktu Doerachim membeli ayam itu, saksinya Nojo. Jadi sudah sangat jelas, tetapi pencurinya belum juga mau mengaku. Adapun saya bisa menangkap dia, ceritanya begini: Saya memiliki banyak mata-mata. Tetapi yang paling pintar adalah Soekari. Soekari dahulunya seorang kepala pencuri, suka bermain judi, pokoknya kelakuannya sangat busuk. Tetapi sejak ia saya jadikan kepala mata-mata, kelakuannva berubah menjadi baik. Ia saya gaji tetap dari uang saya sendiri. Tiap bulannya, sebesar f.20,-. Kalau ia sedang bekerja mencari pencuri, supaya ia mau mencari dengan sungguh-sungguh, ia saya ongkosi seperlunya. Jadi kalau mereka mencari pencuri sampai pencurinya dapat tertangkap, mereka saya bayar sedikitnya f.2.50,- Dalam perkara pencurian ayam Nyonya Administratur ini, kalau pencurinya tertangkap tentunya saya akan mendapat nama baik di mata tuan-tuan besar. Oleh karena itu, saya tidak segan-segan mengeluarkan uang. Dan lagi Mantri Polisi, jangan lupa 'pencuri mesti harus ditangkap dengan pencuri juga.' ini strategi seorang polisi. Itulah sebabnya yang saya jadikan mata-mata adalah kepala pencuri. Kau lihat sendiri, kemarin terjadi kecurian, sekarang
pencurinya sudah tertangkap. Inilah politik saya. Kamu masih harus banyak belajar hal-hal begini dari saya.”

Kadiroen mendengarkan betul nasihat-nasihat Asisten Wedono. Tetapi dalam hatinya merasa heran; pertama, mengapa Asisten Wedono sangat bangga, sombong dan menggelikan. Umpamanya memang betul Soekoer adalah benar-benar pencuri yang dicari. Toh yang tahu akan hal itu bukan Tuan Asisten Wedono sendiri. Tetapi mata-mata yang dibayarnya. Sedang Tuan Asisten Wedono sendiri tidak tahu dan tidak kerja apa-apa. Ia tidak berpikir dan bertindak apa-apa kecuali membayar mata-mata. Sekarang mengapa sebabnya Tuan Asisten Wedono demikian yakin dan bangga sekaligus sombong menceritakannya. Kedua, Kadiroen belum yakin bahwa Soekoer adalah pencurinya karena ia tahu sendiri bangkai ayam Nyonya Administratur. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres dibalik perkara ini. Selain itu ia juga heran, kalau betul Soekoer pencurinya, mengapa ia terus-terusan mungkir, sedangkan bukti-bukti dikatakan sudah cukup meyakinkan. Kadiroen ingin tahu bagaimana selanjutnya jalan cerita masalah ini. Ketiga, Kadiroen tertawa dalam hati, bagaimana bisa, ayam hanya seharga f.2.50,- dicari dengan membayar f.25,- . Ia tahu persis bahwa perkara ini hanya dijadikan modal oleh Tuan Asisten Wedono untuk cari nama, dengan harapan pangkatnya akan segera naik. Adapun masalah pencurian ini hanya dijadikan jalannya semata. Bagaimanapun Kadiroen juga tahu, hidup sebagai polisi memang amat susah untuk bisa cepat naik pangkat. Wajar jika akhirnya banyak yang mau memberikan uangnya sendiri kepada para mata-mata sebagai uang belanja. Dan untuk segala urusan, ia mesti
mengeluarkan uang dari koceknya sendiri yang tidak sedikit jumlahnya untuk keperluan pekerjaannya. Hal-hal yang beginian di dunia polisi memang tidak asing lagi. Karena itu banyak polisi yang berusaha dengan caranya sendiri - kadang-kadang tidak halal dan tidak masuk akal sekalipun - untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya. Akhirnya, para lurah dan orang-orang kecillah yang menjadi korbannya. Peraturan dan kode etik polisi pada masa itu memang ada begitu banyak. Sehingga para polisi banyak yang tidak berani minta agar anggaran kepolisian dinaikkan, apalagi kenaikan gaji. Keempat, dalam hati Kadiroen juga merasa heran mengapa untuk menangkap pencuri ayam mesti pakai pencuri lain. Seorang pencuri, jelas orang yang jahat, ia tidak mungkin dapat dipercaya. Tetapi anehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Asisten Wedono, seorang pencuri yang jelas tidak bisa dipercaya, tiba-tiba harus dipercayai untuk menangkap pencuri lain. Kadiroen memikirkan hal ini secara panjang lebar sehingga ia tidak bisa komentar apa-apa terhadap petunjuk Asisten Wedono. Kadiroen tersentak ketika ia kemudian mendengar suara Asisten Wedono selanjutnya:

“Nah, Mantri Polisi, bagaimana itu pencuri kerbau Soeket? Apa kau belum dapat keterangan. Masalah ini seyogyanya jangan dimasukkan ke dalam buku laporan. Sebab kalau terlalu lama pencuri itu tidak bisa tertangkap, lebih baik perkara itu dibekukan saja. Kalau tidak dibekukan, saya khawatir nantinya akan membikin banyak pertanyaan dari atas, yang bikin susah. Laporan Soeket kita menganggap tidak ada saja, toh ai tidak mungkin berani melaporkan perkara ini ke pembesar-pembesar yang ada di atas.”

Kadiroen bertambah heran mendengar kata-kata Tuan Asisten Wedono. Ia tak bisa berkomentar apa-apa. Ia berpikir, mengapa untuk orang kaya seperti Tuan Administratur yang hanya kemalingan seekor ayam saja, Tuan Asisten Wedono tidak merasa rugi mengeluarkan uang banyak. Lagipula ia ribut untuk mengurusnya dengan sungguh-sungguh. Tetapi bagi Soeket yang kehilangan kerbau, yang jelas nilainya
lebih dari separo harta kekayaannya, hampir-hampir tak diperhatikan oleh Tuan Asisten Wedono. Memang, untuk membekukan perkara Soeket adalah soal gampang. Karena orang kecil memang susah untuk mengadukan perbuatan polisi pada atasannya. Tetapi mengurus perkara orang besar jelas akan bisa mendatangkan keuntungan. Kadiroen memikirkan masalah ini dengan panjang lebar. Sekarang ini
memang masih lazim mengurus perkara seseorang mesti diperhatikan seberapa besar pengaruh orang tersebut. Soal-soal beginilah yang tidak mendidik orang untuk bertindak adil, berbudi baik dan berwatak kesatria. Namun Kadiroen telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berlaku adil. Selain itu ia telah
berjanji untuk menolong Soeket. Ia ingat bagaimana susahnya nasib orang kecil semacam itu. Ia juga telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menolong Soekoer yang didakwa mencuri ayam. Kadiroen merasa tugas berat sedang menghadang di depan mata. Kadiroen memang berhati mulia, ia mau berbuat baik kepada siapa saja. Tetapi susahnya, ia masih diperintah oleh orang yang sangat berlainan
dengan watak dan pikiran Kadiroen. Sungguh suatu masalah yang jelas akan sangat membingungkan dirinya. Tetapi Kadiroen tak merasa bingung dan berkecil hati. Karena ia percaya kepada keadilan Tuhan Allah yang mau memberi pahala kepada siapa saja manusia yang mau berbuat kebaikan.

Sementara pikiran Kadiroen penuh dengan kemuliaan dan kebaikan, tiba-tiba ia mendengar Tuan Asisten Wedono yang memanggil Opas Pigi.

“Opas, coba kau siksa Soekoer si pencuri itu. Sudah satu hari ia tidak saya beri makan dan minum supaya ia menjadi kelaparan dan kehausan sehingga ia mau mengakui perbuatannya. Tetapi sampai sekarang ia belum juga mengakui kesalahannya.”

“Baik Ndoro!” kata Opas Pigi. Ia mengambil sepotong rotan dan segera memukuli telapak kaki Soekoer. Sebuah siksaan yang amat kejam dan keras. Tetapi tidak sampai menimbulkan luka sehingga tidak kentara. Karena siksaan itu Soekoer hanya dapat meraung dan menjerit-jerit. "O, Tuhan Allah, apakah dosa saya sehingga disiksa seperti ini. Disuruh mengaku mencuri, padahal saya memang benar-benar
tidak melakukannya. O, ya Allah ….”

“Pukul lagi yang keras!” kata Asisten Wedono.

Melihat penyiksaan semacam itu darah Kadiroen serasa mendidih. Ia ingin sekali menolong Soekoer. Tetapi ia pikir belum waktunya untuk memberi pelajaran pada Tuan Asisten Wedono karena ia belum tahu persis bagaimana kisah selanjutnya masalah ini. Tuan Asisten Wedono bertanya kepada Soekoer sambil memaki-maki dengan kata-kata yang tak layak didengar telinga orang waras.
“Nah, apakah sekarang kau mau mengaku, bajingan!”
Tetapi apa jawaban Soekoer.
“Tuan, bagaimana hamba mesti mengaku, sedang hamba memang tidak berdosa."
“Kalau kau mau mengaku, kau akan mendapat hukuman ringan," kata Tuan Asisten Wedono.
“Tuan, bukannya hamba takut pada hukuman, memang hamba benar-benar tidak mencuri. Tetapi hamba tidak suka berdusta. Dan dustalah hamba jika hamba mengaku mencuri, padahal hamba memang tidak melakukannya. Hamba tidak takut pada hukuman manusia Tetapi hamba sangat takut pada murka Tuhan Allah. Di akhirat nanti pasti tidak akan memberi tempat yang baik jika hamba berdusta.”
Begitulah keterangan Soekoer, meski orang menyiksanya, tetapi total, teguh pendiriannya. Tuan Asisten Wedono menjadi amat marah. Bayangkan, ia seorang Asisten Wedono yang sangat berkuasa, tetapi ia tidak bisa menaklukkan seorang pencuri yang berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang dipercayainya, dialah pencurinya. Ya, manusia mana yang dapat menaklukkan jiwa manusia yang teguh dan baik hatinya dan hanya mau takluk kepada ketentuan Tuhan Allah, yakni Tuhan raja dari semua kebaikan dan ketetapan. Meski dia adalah seorang raja sekalipun. Inilah letak kebodohan Tuan Asisten Wedono yang tidak mau tahu. Ia kira bisa menaklukkan hatinya Soekoer. Manusia bisa membengkokkan besi, tetapi mustahil bisa membengkokkan jiwa yang teguh imannya. Tuan Asistan Wedono yang bodoh telah
menyiksa Soekoer habis-habisan, tetapi ia tetap tidak bergeming. Memang, menurut peraturan, seorang polisi tidak boleh menyiksa terdakwa. Adapun perbuatan Asisten Wedono jelas melanggar peraturan dan ia bisa dituntut. Tetapi apalah artinya peraturan? Peraturan manusia hanya mungkin dijalankan oleh manusia yang baik, yakni manusia-manusia yang mau menghormati dan menjalankan peraturan yang
baik sebagaimana dikehendaki Tuhan Allah. Tetapi peraturan yang baik bagi orang bejat tentu tidak akan dijalankan sebagaimana mestinya jikalau si bejat itu tidak diawasi perbuatannya. Tetapi siapa yang akan mengawasi perbuatan Asisten Wedono, seorang pejabat tinggi yang mestinya menjalankan peraturan-peraturan negeri. Sedangkan perbuatannya tidak diawasi oleh atasannya. Sementara yang bisa mengawasi perbuatanya hanya orang-orang yang ada di bawahnya, orang-orang yang ia perintah, orang-orang kecil dan lain-lain. Tetapi orang-orang ini tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang ia sangat susah jika akan mengadukannya pada para pembesar. Apalagi sesudah ia mengadukan, kalau tidak sedang bernasib baik, ia akan difitnah yang bisa-bisa mencelakakan dirinya. Hal-hal yang serupa ini,
umumnya di seantero dunia, sering terjadi di dalam negeri yang rakyatnya tidak mempunyai kekuatan untuk turut memerintah negerinya sendiri. Sebaliknya, jika peraturan bikinan manusia yang bejat, tentulah peraturan serupa itu hanya dijalankan oleh manusia-manusia yang bejat pula. Tetapi jelas akan mendapat tantangan dari manusia-manusia yang baik. Ironisnya, si baik yang melawan – yang selalu ingin tetap berada dan ingin menjalankan ketentuan peraturan-peraturan Tuhan Allah – ini justru sering menjadi korbannya.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Tuan Asisten Wedono yang bejat dengan gampang menyiksa Soekoer. Memang sudah sangat sering terjadi di tanah Jawa (negeri ini) seorang terdakwa mengaku berbuat salah di muka polisi hanya karena tidak tahan disiksa, tetapi di muka pengadilan ia sering mungkir atau mencabut pengakuannya. Dan ia menjelaskan pengakuan itu ia buat semata karena ia hanya tidak ingin disiksa. Inilah yang membikin kusutnya perkara sebab akan semakin susah membuktikan apakah seorang terdakwa itu benar-benar bersalah atau tidak.

Kadiroen memikirkan hal ini dengan panjang lebar. Kadiroen menyaksikan sendiri bagaimana Soekoer tetap mungkir. Maka ia yakin orang macam Soekoer memang selalu ingat kepada Tuhan Allah, jadi ia selalu ingat kepada kebaikan. Mana mungkin ia berbuat dosa mencuri ayam. Kadiroen yakin, di balik perkara ini banyak hal yang ganjil. Itulah yang mendorong niat Kadiroen bertambah kuat untuk menyelesaikan masalah Soekoer. Selain itu, makin bertambah kuat pula niat Kadiroen untuk
menegakkan keadilan bagi semua manusia. Besar maupun kecil.

Jam sembilan malam. Dengan pakaian serba hitam, Kadiroen berangkat sendirian. Ia membawa beberapa tali untuk mengikat beberapa orang. Dengan satu revolver dan beberapa peralatan lainnya, pergilah Kadiroen ke rumah Soeket. Ia bersembunyi, tidak kelihatan orang. Menunggu pencuri kerbau yang akan mengambil uang tebusan sebesar f.25,-. Ia diam, bersembunyi, sambil terus mengawasi, persis seperti pencuri. Pada saat itu, ia ingat petuah-petuah Tuan Asisten Wedono yang bodoh
itu: "Pencuri harus ditangkap oleh pencuri lain." Tetapi Kadiroen merasa dirinya bukan pencuri. Itulah sebabnya ia menjalankan pepatah Tuan Asisten Wedono dengan membikin pepatah sendiri. "Pencuri harus ditangkap dengan cara pencuri." Untuk menangkap orang bejat mesti dipakai polisi baik. Bukan orang bejat yang harus menangkap orang bejat lainnya. Sebab aturan yang serupa ini sering menimbulkan hal-hal yang lebih bejat lagi.

Kira-kira jam sepuluh Kadiroen melihat ada seorang mengambil uang tebusan itu. Sesudah mengambil langsung ngeloyor pergi. Kadiroen menguntit orang itu dari belakang, ke mana pun perginya. Akhirnya ia tahu, orang itu masuk ke dalam rumah penjudi kemarin. Kadiroen mengetahui juga yang ada di dalam rumah itu, ada dua orang laki-laki lain dan seorang perempuan. Istrinya pencuri kerbau itu. Tidak berapa lama, dua orang lelaki itu disuruh pencuri pertama untuk mengambil kerbaunya Soeket sehingga ia tinggal sendirian dengan bininya. Kadiroen berpikir. "Nah, kini dua orang pergi. Dan kerbaunya Soeket akan dibawa kemari." Inilah saat yang tepat untuk menangkap kepala pencuri yang sedang sendirian itu.
Perkara perempuan, istri pencuri itu, tidak masuk hitunganku. Dengan pikiran semacam itu, ia langsung masuk ke rumah pencuri itu. Tetapi pencuri yang berbadan besar dan kuat itu bertindak cepat juga. Demi melihat Kadiroen, ia langsung meloncat dari tempat duduknya, menabrak Kadiroen sehingga Kadiroen tidak sempat menggunakan revolvernya. Si pencuri seraya berkata dengan murka. Ia marah seperti raksasa.

"Hai, saya tahu kau Mantri Polisi baru. Sekarang kubunuh kau." Kadiroen dengan cepat menghindar ke kanan sehingga tidak tertabrak pencuri. Tetapi Kadiroen segera dipegang pencuri itu sehingga terjadi adu gulat yang ramai antara antara pemuda yang berbadan kuat dengan seorang pencuri besar dan berbadan besar dan kuat juga. Mereka berdua bergantian saling menindih dan gulatnya amat cepat.
Istri pencuri itu menjadi ketakutan, ia lari keluar. Kadiroen ingat yang ia kerjakan kali ini adalah perbuatan yang baik. Pada saat itu ia merasa memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa sangat lama menindih pencuri itu. Namun Kadiroen juga telah mengetahui dua orang yang disuruh mengambil kerbau itu sudah datang. Yang seorang mengambil kayu galih asam, segera masuk ke rumah, hendak
memukul Kadiroen, guna membantu sahabatnya yang tertindih Kadiroen. Kadiroen pura-pura tidak tahu apa-apa. Tetapi pada saat pukulan itu hendak menimpa dirinya, dengan cepat ia meloncat, meninggalkan pencuri yang ia tindih sehingga pukulan yang seharusnya buat dia itu jatuh tepat mengenai kepala pencuri, musuhnya, sampai pingsan. Musuh Kadiroen kini tinggal dua orang. Dengan cepat ia menarik revolvernya. Sambil mengancam dua musuh itu, ia berkata:

“Awas, diam, jangan bergerak. Sebab kalau nekat, akan kutembak kau.” Kedua musuh itu lalu diam. Yang satu dilempari tali oleh Kadiroen, disuruh mengikat pencuri yang sedang pingsan serta satu pencuri lainnya. Habis itu, maka Kadiroen mengikat sendiri pencuri nomor dua itu sehingga Kadiroen dengan gagah berani sudah berhasil menangkap ketiga pencuri yang sangat berbahaya. Sungguh sangat
mengherankan. Kadiroen menang karena ia didasari oleh keberanian, keteguhan hati serta cepatnya ia bertindak yang terbawa karena keberanian dan keteguhannya itu.

Maka uang f.25,- itu kembali ke tangan Kadiroen. Sehabis mengatur semuanya yang ada di situ, ia dengan berbagai cara berusaha membangunkan pencuri yang pingsan. Akhirnya ia berhasil juga. Kadiroen segara bertanya nama pencuri yang baru saja siuman dari pingsannya. Namun betapa terkejutnya hati Kadiroen ketika mendengar jawabannya:

“Nama saya Soekari!”

Sekarang ternyata Kadiroen sudah dapat berhasil menangkap mata-mata yang amat dipercaya oleh Tuan Asisten Wedono. Kadiroen menjadi bertambah heran ketika yang dua lainnya memberikan pengakuan; namanya Durachim dan Nojo. Kedua-duanya menjadi saksi dalam perkara "pencurian" ayam si Soekoer. Segera Kadiroen yakin, ketiga orang ini ikut berdosa dalam perkara Soekoer tersebut. Tetapi Kadiroen menjadi khawatir, jangan-jangan ketiga pencuri itu tidak akan mau memberi keterangan tentang hal ini kalau tidak diusahakan suatu hal yang halus. Oleh karena itu ia memanggil istri Soekari dan berkata pada Soekari:

"Hai Soekari, lihatlah binimu ini. Saya tahu, kamu sangat mencintai binimu. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mungkir kalau saya tanya, agar kamu tidak mendapat hukuman yang terberat. Dan supaya kamu lekas keluar dari bui, guna meneruskan perkawinanmu dengan binimu."

Soekari menjadi takut kepada Kadiroen sebab ia tahu Kadiroen sangat cerdik, pemberani dan kuat. Ia berjanji akan berterus terang, tidak akan berdusta. Lalu Kadiroen berkata lagi:
“Lihatlah, binimu, tampak susah. Apa kamu tidak kasihan?”
"Saya Tuanku!" Kata Soekari.
“Nah, ingatlah. Pada saat ini bini Soekoer juga sedang dalam kesusahan. Ia sangat berduka. Apa kamu juga tidak kasihan pada bini Soekoer yang didakwa mencuri ayam? Dan juga apa kamu tidak kasihan pada Soekoer yang terdakwa?”
“O, ya Tuanku, sekarang saya merasa, semua itu karena dosa saya. Berilah saya petuah, supaya hati saya menjadi tenteram dan bisa bertobat!”
"Baik, sebelum aku memberikan petuah padamu, ceritakan terlebih dahulu perihal Soekoer!"

Di sini Soekari menjelaskan bahwa dahulu ia sangat membenci Soekoer sebab Soekoer tidak pernah mau memberi uang kepadanya setiap kali ia memintanya. Katanya ia tidak punya. Karena itu, maka Soekari berusaha mencelakakan Soekoer. Waktu Tuan Asisten Wedono sanggup memberi uang f.25,- maka Soekari sangat ingin mendapat uang itu. Dan dia sudah membikin saksi-saksi palsu, yaitu Doerachim dan
Nojo, buat menuduh Soekoer sebagai pencuri ayam Tuan Administratur. Sedang bulu-bulu ayam itu, ia ambil dari ayam lain. Dengan cara itu, ia bisa mencelakakan Soekoer sekaligus mendapat uang f.25,-. Cerita Soekari itu dibenarkan oleh Doerachim dan Nojo. Sekarang nyatalah bahwa Tuan Asisten Wedono
berbuat kekeliruan sebab mau menangkap pencuri dengan pencuri lain. Sesudah perkara ini menjadi jelas, maka ketiganya bersedia menceritakan perkara itu pada Asisten Wedono supaya Soekoer bisa dilepaskan dari dakwaannya. Sehabis itu, Soekari juga mengaku bahwa dirinya adalah pencuri kerbau Soeket. Lalu Kadiroen berkata:

"Nah, kamu bertiga, ingatlah. Kamu sudah berbuat dosa, sedang menurut peraturan negeri, maka tidak boleh tidak, tentulah kamu harus mendapatkan hukuman. Mengingat kamu sudah berterus terang, tentu hukumanmu bisa diringankan tetapi carilah ketenteraman hatimu sendiri dengan cara bertobat pada Tuhan Allah, percayalah kepada Tuhan Allah dan berbuat baiklah serta tinggalkanlah tingkah
lakumu yang sudah-sudah. Dan kalau kamu menurut perintahku, kamu bertiga akan bisa menjadi orang baik sehingga hati dan pikiranmu akan menjaali tenteram."

Petuah-petuah Kadiroen ini merasuk betul dalam hati sanubari ketiga orang yang berbuat jahat itu. Dan akhirnya menjadi kenyataan, sebab sepuluh tahun kemudian, ketiganya telah menjadi orang baik.

Jam lima pagi esoknya. Kadiroen membawa ketiga pencuri itu ke rumah Asisten Wedono. Tetapi di tengah jalan mereka mampir ke rumah Soeket untuk mengembalikan kerbaunya. Dan berkata pada Soeket, bahwa hutangnya yang f.25,- tidak usah dikembalikan sebab uang itu telah dikembalikan oleh pencurinya kepada Kadiroen. Wah, sungguh Soeket bersama anak istrinya menjadi sangat gembira. Ia
berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Kadiroen, tetapi Kadiroen malah menjawab:
"Baiklah, ucapan terima kasihmu itu kusampaikan saja pada Tuhan Allah. Sebab saya hanya perantara saja untuk membantumu."

Karena teramat gembiranya, istri dan anak Soeket yang sedang sakit menjadi lekas sembuh. Sungguh, perbuatan yang keluar dari niat suci selamanya akan berubah kebaikan. Habis menyelesaikan masalah Soeket, Kadiroen mampir lagi untuk melihat perangkap garangan yang dipasangnya kemarin. Maka senanglah ia sebab garangan yang dimaksud telah masuk perangkap. Jadi, pencuri ayam alias garangan itu juga sudah bisa ditangkap oleh Kadiroen. Sedang ayam biru yang sudah mati dan tinggal
bangkainya itu ia bawa sekalian untuk barang bukti.

“Jadi pencuri saya punya ayam sudah tertangkap? Dan ayam saya sudah habis dimakan?" Begitulah Nyonya Administratur bertanya pada Asisten Wedono jam delapan pagi-pagi. Pada saat itu Nyonya dan Tuan Administratur mampir ke rumah Tuan Asisten Wedono. Setelah itu akan langsung pergi ke kota. Tuan Asisten Wedono menjadi sangat bangga sambil memperkenalkan Soekoer yang amat lemah
badannya, sangat pucat wajahnya. Karena sudah 24 jam belum mendapat makan dan minum. Pada saat itu Tuan Asisten Wedono berkata
"Ini Nyonya, pencurinya. Tetapi sampai saat ini ia belum juga mau mengaku.”
Lalu Tuan Asisten Wedono menceritakan duduk perkarannya, siapa saksi-saksinya dan sebagainya. Tetapi Tuan Asisten tidak menceritakan perihal mata-mata yang memberikan petunjuk itu sebab Tuan Asisten Wedono berharap supaya dikatakan cerdik. Akan halnya Soekoer yang disiksa, itu pun sama sekali tidak ia katakan. Ketika Nyonya melihat Soekoer yang tampak lemas badannya, ia berkata:
"Kasihan! Betulkah ia pencurinya. Tetapi ia tampak begitu lembek dan pucat seperti sakit. Sungguh kasihan!" begitulah kata Nyonya.

Sebagaimana semua perempuan, Nyonya lebih mengedepankan perasaan terlebih dahulu, barulah ia berpikir. Sebaliknya, seorang laki-laki sering berpikir lebih dahulu, sesudah itu baru mengungkapkan perasaannya. Seorang laki-laki dalam hal mengungkapkan perasaannya, tidak bisa sedemikian cepat dan halus sebagaimana perempuan.
"Ya, toh itu orang salah dan mesti dihukum!" kata Tuan Administratur.
“Nou, Asisten, kamu ada pintar dan ada cepat ini perkara. Nanti di kota, saya akan menceritakan hal ini pada tuan-tuan pembesar."

Baru saja Tuan Administratur berkata yang demikian Kadiroen datang di pendopo, bersama ketiga pencuri yang telah berhasil ia tangkap, serta dengan garangan dan bangkai ayam. Ia mengambil kartu judi dan nomer-nomer seri lima buah lembar uang kertas f.5,- dan ia cocokkan dengan angka-angka seri uang kertas yang dicatat oleh opas hari kemarin. Semua itu akan ditunjukkan sebagai barang bukti.

Melihat orang-orang itu, bangkai ayam, garangan, serta kartu judi yang dibawa Kadiroen, Nyonya dan Tuan Administratur, dan juga Asisten Wedono menjadi heran. Ketiganya meminta supaya Kadiroen menjelaskannya, serta apa maksud dari barang-barang itu semua. Kadiroen menjelaskan semua itu apa adanya. Hanya saja, Kadiroen tidak suka menceritakan perihal Tuan Asisten Wedono yang sudah menyiksa Soekoer sebab ia tidak suka membuka aib Tuan Asisten Wedono kalau tidak ada perlunya. Salah satu dari ketiga pencuri itu juga mengakuinya. Sedang Soekoer  yang tidak berdosa dilepaskan dari tahanan.

Tuan dan Nyonya Administratur sangat gembira melihat keberhasilan Kadiroen sebab masih begitu muda, sudah sangat cerdik dan pemberani. Sedang Tuan Asisten Wedono menjadi amat malu.

Di kota peristiwa itu diceritakan kepada para pembesar yang menjadi atasan dua pejabat tersebut. Maka dengan tersiarnya kabar itu, diuruslah masalah Asisten Wedono dan Kadiroen.

Karena kepandaian Kadiroen, tidak begitu lama ia dinaikkan pangkatnya menjadi Asisten Wedono di Onderdistrik Gunung Ayu. Sedang Tuan Asisten Wedono yang besar kepala dan berhati batu dimarahi sehingga menjadi malu.


BAB II

Jiwa yang Tergoda

Sudah empat tahun Kadiroen menjadi Asisten Wedono di Onderdistrik Gunung Ayu, yaitu sebuah onderdistrik yang sunyi karena di daerah pegunungan. Sedang di situ tidak ada pabrik gula atau onderneming-onderneming. Namun Kadiroen sampai waktu itu belum juga kawin. Selama empat tahun ia bekerja siang malam untuk meningkatkan taraf hidup orang kecil yang menjadi rakyat bawahnya. Ia sangat pandai dan bijaksana dalam mengurus setiap persoalan. Hampir semua rakyatnya hidup berkecukupan. Sebab Kadiroen selalu memberi nasihat dan teladan yang baik kepada orang-orang kecil. Karena kehidupan rakyat yang berkecukupan maka tidak ada orang yang suka mencuri dan berbuat kejahatan. Kadiroen sangat dicintai oleh rakyatnya sedang dari atasannya ia sering mendapat pujan. Hanya sekitar satu tahun yang lalu ia menghadapi masalah yang menyusahkan dirinya. Yaitu di Meloko
di mana penduduknya tidak bisa makmur sebagaimana desa-desa yang lainnya. Desa tersebut, penduduknya banyak yang hidup miskin. Tetapi lurah di desa itu terkenal sebagai lurah terkaya ketimbang lurah-lurah yang lain di seantero Onderdistrik Gunung Ayu. Kadiroen menyelidiki dengan seksama kehidupan di desa itu. Tetapi ia tidak juga mengerti apa yang menjadi penyebabnya. Kemiskinan penduduk desa tersebutlah yang membikin susah hati Kadiroen. Ia sering tidak tidur, memikirkan bagaimana ia berikhtiar mencari cara guna meyelesaikan masalah tersebut.

Begitulah, jam empat pagi ia sudah naik kuda pergi ke desa tersebut. Ia ingin melihat bagaimna cara kerja rakyat disana. Sebab dengan mengerti sendiri kerja rakyat, ia akan mengerti bagaimana cara berusaha dan menasihati rakyat desa tersebut.

Sunyi sekali. Hawanya sangat sejuk. Burung-burung terbang kian kemari. Dari pepohonan yang sepertinya masih tidur, belum dibangunkan oleh angin, terdengar pantun dan nyanyian burung-burung yang amat indah, menyenangkan hati untuk mereka yang menghargai kehidupan binatang dan alam. Dan jauh terdengar kokok ayam jantan, seperti mengingatkan kepada makhluk Tuhan bahwa pagi itu adalah saat di mana kita akan melihat hari-hari yang bakal terbit. Langit di timur berwarna merah saga makin lama makin menguning. Kuning muda lalu kuning putih. Dan mengintiplah sang raja alam, mentari dari balik batas dunia. Sinarnya memancar kuat, mengusir gelapnya malam seperti membuka jalan bagi si raja siang. Bangunlah dunia.

Jalan raya yang naik turun di tanah perbukitan itu belum banyak dilalui orang. Hanya ada seorang naik kuda sambil berpantun ria dengan burung-burung menunjukkan bahwa orang itu memiliki hati yang tenteram dan berbakti pada Tuhan yang menganugerahi keelokan dunia ini. Ia adalah Kadiroen, yang sangat gembira menyaksikan indahnya suasana pagi.

"O, Tuhan Allah. Gustiku. Hamba berterima kasih kepada kebesaran-Mu. Sebab telah memberikan pemandangan pada hamba yang bisa melihat dan merasakan keelokan kekuasaan Tuhan atas makhluk-Nya.”

Begitulah, Kadiroen selalu memuji dalam hatinya. Lalu ia berkata dalam hati:
"Hai, teramat sunyi dan indah sekali jalan ini. Sudah dua jam saya naik kuda, berarti sudah dekat dengan Desa Maloko. Tetapi mengapa belum bertemu dengan seorang manusia pun." Baru saja Kadiroen berpikir demikian, di kejauhan ia melihat sosok manusia, makin lama makin besar. Mereka berdua hendak berpapasan. Kadiroen naik kuda, sedangkan orang itu berhenti di tepi jalan, mempersilakan
Kadiroen. Kedua mata mereka saling beradu pandang. “Aduh” kata Kadiroen dalam hatinya. Ia hendak melecut kudanya supaya berjalan lebih cepat. Maka ia segera melewati orang yang ada di tepi jalan itu. Setelah agak jauh, ia menengok ke belakang. Dalam hatinya ia bertanya: "Siapakah gerangan orang itu?”

Sesampai di Desa Maloko, Kadiroen melihat penduduk di situ sudah bangun semua. Mereka sedang sibuk bekerja di sawah. Kadiroen menjadi gembira. Ia berkata dalam hati, ”Penduduk di sini rajin-rajin, tanahnya subur, air banyak. Tetapi mengapa mereka tidak bisa kaya sebagaimana desa-desa lain. Apakah penyebabnya?” Kadiroen bertanya kepada orang-orang yang bekerja di sawah tentang berbagai hal yang berhubungan dengan mata pencaharian dan kehidupan rakyat di desa itu. Tetapi seluruh keterangan yang didapat Kadiroen belum mampu memecahkan persoalan yang dihadapi. Apa sebabnya rakyat tidak bisa hidup makmur. Setelah siang ia pulang dengan hati gundah. Ia berjanji dalam hatinya, esok pagi akan kembali lagi. Ia ingin tahu dan terus berusaha mencari tahu sebab-sebabnya. Di dalam perjalanan pulang, ia terus berpikir. Otaknya terus berputar-putar. Tetapi selain itu, setiap beberapa saat, jiwanya selalu bertanya "Aduh, siapakah, gerangan orang yang tadi itu?" Silih berganti ingatan dan pikirannya berkecamuk. Kadiroen berusaha menenteramkan jiwanya. Tetapi ah, setiap saat ia selalu teringat. Dadanya berdebar-debar dan nyeri, “Aduh, siapakah?” Jika pada siang hari jiwa Kadiroen bertanva-tanya, malamnya selalu tidak bisa tidur. Dan pada saat itu juga batinnya selalu bertanya: “Siapakah dia?" pertanyaan itu terus-menerus tidak mau pergi dari ingatannya.

Tengah malam Kadiroen baru bisa tidur. Lalu bermimpi seperti sedang naik kuda lagi, pergi ke Desa Meloko. Dan persis seperti kejadian sesungguhya yang ia alami paginya. Di dalam impian itu ia bertemu lagi dengan orang: “Siapakah dia?” O, tetapi betapa bahagianya hati Kadiroen mendapat impian yang luar biasa. Sebab dalam impian itu, orang yang selalu menjadi pertanyaan hatinya "Siapakah dia?"
yang berbicara dengannya. Ya, berbicara, itulah sebabnya Kadiroen menjadi sangat bahagia.

“Siapakah dia?” Dialah seorang perempuan. Pembaca yang terhormat memang di suatu ketika dalam hidup manusia, ada saat-saat yang menghidupkan jiwa manusia, ada saat-saat demikian luar biasa. Yaitu saat seorang bujang mengungkapkan perasaan cintanya kepada orang lain. Yakni pemuda kepada pemudi atau sebaliknya. Inilah kodrat Tuhan Allah. Dan oleh karena itu, mulai saat itu Kadiroen menaruh
perasaan cinta kepada seorang perempuan.

Pagi tadi ia baru sekali melihat perempuan yang sedang berangkat ke pasar. Tetapi, anehnya seterusnya ia tidak bisa lupa kepadanya. Tidak tahu, siapa perempuan itu. Ia hanya baru tahu wajahnya saja. Tetapi wajah perempuan itu sekarang sudah tidak bisa pergi dari ingatannya. Perempuan itu adalah seorang
gadis muda. Usianya 21 tahun. Tadi pagi ia berangkat ke pasar. Pakaiannya tidak menunjukkan sebagai orang kaya. Tetapi bersih dan rapi. Tetapi wajahnya sangat cantik sekali. Perawakannya sedang. Penampilan dan tingkah lakunya tampak lembut, begitu menarik hati; berwajah cantik, dengan rambut hitam mengkilat menambah sempurna kecantikan wajahnya. Yaitu wajah yang berkulit kuning bersemu
putih serta halus, sehalus sutera layaknya. Hidungnya mancung dan indah. Mulutnya kecil dengan bibir yang memerah indah. Pipinya padat berisi. Dagunya kelimis, alis atau keningnya bersemu hitam manis ayu dengan bulu mata yang lebat dan panjang. Dan matanya, O, matanya, begitu elok-tajam, begitu terang. Bola matanya tampak hitam mengkilat jika sedang memandang orang. O, Kadiroen tidak
bisa melupakan pada keindahan yang begitu menarik jiwanya. Yang mengikat jiwanya sampai sakit, menyenangkan.

Esok harinya, sedikit agak siang, Kadiroen berangkat lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan ia selalu melihat bayangan perempuan yang ia cintainya. Kadiroen sangat berharap supaya ia jangan bertemu lagi dengan perempuan itu. Karena ia tidak ingin jiwanya tergoda. Ia berusaha menindas perasaan cintanya. Akan tetapi celaka, di dekat Desa Meloko, ia bertemu lagi dengan perempuan itu. Berjalan sendirian di jalan yang sepi, baru pulang dari pasar. Di punggungnya ada gendongan rangking atau kemarang yang penuh berisi. Kangking itu tampaknya amat berat. Karena perempuan itu berjalan pelan-pelan dan sebentar-sebentar berhenti untuk memulihkan tenaganya. Ia bermandi keringat.

Demi melihat itu, Kadiroen menjadi amat belas kasihan. Hatinya seraya hancur laksana air. Ia tidak ingat apa-apa lagi seraya turun dari kudanya dan berkata:
“Mbakyu, saya kasihan kepada Mbakyu. Berikanlah sebagian isi rangking itu padaku, biar agak ringan. Saya bersedia menolong membawakannya”
Perempuan itu terkejut. Wajahnya terlihat sedih, sehingga Kadiroen tambah kasihan. Dengan suara nyaring dan ringan molek menjawab:
“Terima kasih banyak Tuan. Tetapi karena rumah saya sudah dekat. Jadi saya kuat membawanya sendiri, meskipun berat.”

Kadiroen menjadi heran dan memuji keteguhan si perempuan, tidak suka ia ditolong, meskipun kelihatan sudah amat lelah. Kadiroen tidak berani memaksa menolong sebab ia belum kenal kepada perempuan itu. Dan lagi, ia merasa perbuatannya sangat aneh. Hatinya menyesal, sebab tidak berpikir dahulu. Ia merasa ia turun dari kuda bukan hanya karena perasaan sangat belas kasihan semata. Tetapi karena dorongan rasa cinta. Kadiroen toh harus bisa berpikir bahwa seorang perempuan yang pulang dari pasar tentu tidak mungkin berani menitipkan barangnya kepada seorang priyayi, Asisten Wedono. Meskipun ia seorang Asisten Wedono yang tidak suka meninggi-ninggikan derajat dan pangkatnya.
Kadiroen merasa perbuatannya tidak dipikir panjang lebih dahulu. Tetapi sebaliknya, ia membetulkan perbuatannya dengan alasan, ia tidak bisa berpikir panjang ketika melihat ada seseorang yang mesti ditolong seketika itu juga. Ia tidak punya maksud lain selain hanya ingin menolong semata. Dan siapa pun orang yang mau menolong tentu tidak ingat apa pangkatnya. Kadiroen lalu ingin segera naik ke atas kuda lagi. Tetapi tertarik oleh perasaan cintanya maka ia seperti dipaksa oleh kekuatan rahasia sehingga ia pun bertanya:
“Siapa namamu Mbakyu?”
“Ardinah,Tuanku!”
Hari itu Kadiroen mendapat sedikit keterangan, mengapa penduduk Desa Meloko tidak bisa kaya sebagaimana desa-desa lain. Tetapi keterangan itu belum cukup menjadi bukti untuk menindak bagi yang bersalah. Karena itu esok paginya Kadiroen hendak kembali lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan pulang lagi-lagi bayangan Ardinah terus menyusup dalam hatinya. “Ardinah, o, Ardinah," katanya
dalam hati."Apakah dosa kini aku sekarang telah bertemu denganmu dua kali, lalu menjadi tergila-gila tidak bisa melupakanmu?" Setiap kali Kadiroen berusaha menindas perasaan cintanya kepada Ardinah, setiap kali itu juga justru semakin bertambah ingat Ardinah. Kadiroen menjadi sering heran mengapa jiwanya begitu tergila-gila hanya ingat pada seseorang. Sedangkan ia baru bertemu dua kali.
Kadiroen merasa ia sangat menaruh rasa cinta. Dan perasaan cinta itu telah mengikat jiwanya pada Ardinah. Karena itu dalam benaknya ia berpikir untuk kawin dengan Ardinah.

Begitulah kenyataannya manusia itu. Pada suatu saat di dalam hidup manusia, ia akan kedatangan perasaan cinta. Dan setelah itu datang kehendak untuk kawin. Dua hal ini tidak mungkin disingkirkan. Karena keduanya merupakan suatu yang telah dikodratkan Tuhan Allah sebagai suatu kepastian. Ada siang ada malam, tidak mungkin bisa dilawan manusia. Kadiroen yang sudah berumur 24 tahun dan sudah sering ditanya ayah dan ibunya apakah ia telah ingin menikah, selalu menjawab: “Tidak, sebab saya tidak mau terikat dengan perempuan. Saya mau merdeka terus.” Tiba-tiba, sekarang dengan kuasanya sang kodrat, maka mau tidak mau ia sangat suka terikat dengan Ardinah. Dan ia lalu berpikir tentang perkawinan. Apakah Kadiroen tahu betul siapa itu Ardinah? Buat Kadiroen, nama itu berbunyi seperti judul gending atau lagu gamelan yang terbaik. Kadiroen berpikir, tidak peduli itu anaknya siapa. "Saya mencintainya, maka tentu akan saya kawini. Saya mencintai Ardinah, tetapi ah...." ia tidak berani meneruskan pikirannya. Ia menjadi takut. Hatinya amat sedih. Ia berdoa jangan sampai Ardinah tidak
mencintainya dan tidak mau kawin dengan dirinya. Dalam hati ia menangis, "O, Ardinah. Ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku, sebagaimana aku mau memberikan cintaku kepadamu.” Lalu timbul lagi dalam pikiran Kadiroen, bahwa ia orang baik-baik, masih muda ia sudah berpangkat tinggi. Ia masih bujang perjaka sejati. Oleh karena itu, kalau ia datang ke rumah orang tua Ardinah, pasti ia diterima sebagai menantunya. Tetapi sebaliknya ia berpikir: “Orangtuanya umpamanya memberi izin, tetapi jika Ardinah tidak mencintai saya. Oh, mau apa saya?" Orangtua bisa memaksa Ardinah, itu tidak melanggar adat. Tetapi apa perlunya saya kawin dengan orang yang dipaksa mencintai saya. Sedang ia sendiri tidak mencintainya. Dalam masalah ini, tentu sayalah yang berdosa, sebab sayalah penyebab awal sehingga orang memaksa orang lain untuk menyerahkan hidupnya seumur-umur kepada saya. Sedang ia merasa susah terus-menerus. Orang yang terpaksa seperti itu, pasti hatinya teramat susah. O, saya tidak suka membikin susah manusia. Apalagi susahnya Ardinah. Saya hanya mau kawin dengan orang yang betul-betul saya cintai. Begitupun sebaliknya, ia juga mencintai saya dengan sungguh-sungguh. Begitulah dalam hal ini sikap adil yang harus diutamakan oleh Kadiroen. Tetapi, sebentar-sebentar perasaan Kadiroen berubah-ubah. Manakala ia berpikir Ardinah juga mencintainya, ia bahagia tetapi sebaliknya ia menjadi sangat susah manakala terpikir Ardinah tidak mencintainya. Sungguh, jiwa Kadiroen sangat tergoncang, sebentar ia teramat senang, sebentar susah. Jiwanya seperti dipermainkan oleh perasaannya sendiri, antara senang dan susah.
"Ardinah, Ardinah, ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku. Saya sanggup memberikan seluruh hidup dan cintaku kepadamu." Begitulah, tiap menit ia selalu memuji-muji Ardinah. Sungguh manusia dalam situasi semacam itu, jiwanya menjadi sangat tergoncang. Dan kalau rasa cinta itu tak terpenuhi, sementara orang itu tidak kuat memikul beban itu, maka celakalah ia. Ia akan gampang menjadi gila.
Itulah sebab yang menjadikan adat orang-orang Islam di tanah Jawa mengawinkan anak-anaknya pada usia masih muda sekali. Supaya pada saat perasaan cinta menjelang ia kawin. Sehingga saat cinta datang, maka kebanyakan lalu ia akan mendatangi istrinya yang sudah bersama dengannya dan juga sedang jatuh cinta. Demikian pula seorang perempuan yang berhadapan dengan lelaki. Kawin dahulu,
baru mencintai. Itulah yang kemudian menjadi adat. Padahal menurut kodrat, mestinya cinta lebih dahulu, baru kawin. Adat semacam ini sepertinya melawan kodrat. Karena itu maka sering terjadi, adat berbuah kebusukan. Yaitu, sudah kawin tetapi sama-sama tidak saling mencintai. Sehingga mereka hidupnya mengalami kesusahan terus-menerus, dan akhirnya bercerai. Atau menikah lebih dari satu perempuan atau bahkan berzina. O, sungguh hal-hal yang tidak baik seperti ini sering terjadi di tanah Jawa. Kodrat tidak bisa diatur oleh adat. Demikianlah pikiran-pikiran itu menerawang dalam benak Kadiroen. Dan baru tengah malam ia bisa tidur.

Kadiroen harus mencari bukti-bukti yang jelas selama kedatangannya di Desa Meloko, untuk memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah karena menghalang-halangi rakyat dapat hidup makmur. Oleh karena itu, pada suatu hari, ia pergi lagi ke Desa Meloko, melalui jalan yang sepi sebagaimana biasanya.
Kadiroen berpikir keras supaya ia tidak bertemu dengan Ardinah. Sebab Kadiroen khawatir jiwanya akan tambah tergoda oleh perasaan cintanya. Tetapi sebaliknya, jiwanya sebentar-sebentar justru mengharap agar ia bertemu. Antara keinginan bertemu dan keinginan tidak bertemu, dua keinginan yang berlawanan yang berkecamuk dalam benak Kadiroen. Pikirannya menolak, sebaliknya hatinya berharap. Sungguh, seorang yang sedang jatuh cinta sakit rasanya jika perasaan cinta itu belum terpenuhi. Kadiroen sudah hampir tiba di Desa Meloko, tetapi ia menjadi sangat terkejut, karena ia bertemu lagi dengan Ardinah. Bagaimana pertemuan itu terjadi? Ia melihat Ardinah duduk menangis di pinggir jalan. Muka Ardinah ditutupi dengan kain selendang, sedang airmatanya bercucuran. Rangking yang berisi penuh, ia letakkan di sampingnya. Ardinah sangat susah hatinya, sehingga ia tidak tahu kalau Kadiroen datang mendekat lalu turun dari kudanya. Demi melihat Ardinah menangis, Kadiroen merasa sangat kasihan dan hancur perasaan hatinya. Makanya tanpa pikir panjang, ia mendekati Ardinah dan bersikap
sebagaimana orang yang satu sama lain telah mengenal cukup lama. Maka dengan segenap perasaan cintanya, Kadiroen berkata: "Ardinah, o, Ardinah, jangan menangis dan bersedih hati."
Mendengar suara itu, Ardinah terkejut. Ia segera mengelap airmatanya serta menjawab: "Ampunilah Tuan, Hamba tidak tahu kalau Tuan datang."
"Tidak mengapa. Sayalah yang wajib minta ampun kepadamu. Karena saya berani  mendekatimu saat engkau sedang dalam kesusahan. Tetapi saya ingin menolongmu, apa saja sebisaku. O, Ardinah, percayalah kepadaku, ceritakan apa yang menyebabkan kesusahanmu," kata Kadiroen.

Ardinah mendengarkan omongan Kadiroen yang lemah lembut. Lalu roman mukanya yang susah kelihatan berubah menjadi bahagia. Sekarang ia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah dan suka menolong pada sesama manusia. Ardinah tahu yang hendak menolong itu adalah Kadiroen, seorang Asisten Wedono. Karena Kadiroen sudah dikenal oleh semua rakyatnya, demikian pula tentunya Ardinah juga telah mengenalnya. Kadiroen seorang priyayi yang terkenal mencintai orang kecil. Ia seorang kesatria, pembela rakyat. Kadiroen berkata dengan lemah lembut kepada Ardinah. Hati Ardinah menjadi penuh dengan rasa terima kasih. "O, Kadiroen, kamu sungguh baik lahir-batin. Kamu masih muda, ganteng dan amat bijaksana. Sekarang kamu mau menolong saya," katanya dalam hati. Dan dengan terus terang Ardinah menjawab:

"O, Tuan hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas maksud Tuan menolong hamba. Tetapi hamba tidak perlu ditolong, karena hamba kuat memikul beban kesengsaraan ini. Adapun hamba tadi menangis karena hamba merasa susah, sebab mau menolong orang lain, tetapi hamba tidak mampu."

Demi mendengar itu, hati Kadiroen menjadi sangat bahagia. Ardinah, perempuan yang ia cintai, susah hanya karena belum bisa menolong orang lain. Pada saat itu, Kadiroen mengetahui, Ardinah selain elok paras mukanya, juga elok hatinya. Selain itu, Kadiroen juga menjadi semakin mengerti dari keterangan Ardinah yang mengatakan ia kuat memikul kesengsaraannya sendiri, ia tidak suka ditolong. Ia mengerti, Ardinah sangat besar hati, percaya diri, pemberani, sebuah watak yang  sungguh mengagumkan. Sekarang Kadiroen menjadi semakin cinta kepada Ardinah. Wajah, hati dan semuanya, sungguh elok. Apakah itu bukan bidadari yang menjelma menjadi manusia. Kadiroen sangat ingin menjadi suami seorang perempuan seperti itu. Ia sangat mencintai dan menghormati Ardinah. Apakah Ardinah juga
mencintainya. Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar kalau memikirkan hal itu. Tetapi Kadiroen berusaha menahan perasaannya. Ia menutupi segenap perasaan hatinya dan memutar otaknya. Dan dengan sabar ia bertanya pada Ardinah:
"Siapakah yang hendak kau tolong dan mengapa harus ditolong. Saya mau berusaha  membantumu menolong yang sedang menderita itu. Satu orang tidak bisa menolong, dua orang menjadi kuat. Dan barangkali bisa menolong. Percayalah kepadaku."

"O, Tuan, beribu-ribu terima kasih. Tuan seorang Asisten Wedono, memiliki kekuasaan. Barangkali Tuan bisa menolong. Selain itu, hamba sudah tiga kali bertemu dengan Tuan. Dan waktu pertama kali hamba bertemu, hamba sudah menaruh kepercayaan besar pada Tuan. Tuan seorang kesatria, dan semenjak pertama kali bertemu dengan Tuan hamba tidak bisa melupakan Tuan, tiap saat wajah Tuan terbayang. Hamba menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan. Oleh karena itu, hamba akan bercerita panjang lebar kepada Tuan tentang hal-hal yang menyusahkan orang yang ingin hamba tolong itu," jawab Ardinah.

Kadiroen mendengar jelas perkataan Ardinah: "Semenjak hamba bertemu pertama kali, hamba tidak bisa lupa pada Tuan. Tiap saat hamha terbayang wajah Tuan. Hamba menaruh kepercayaan vang besar pada Tuan." Ha, apa itu bukan perkataan vang menerangkan bahwa Ardinah dalam hatinya memiliki rasa cinta kcpada Kadiroen. Kadiroen mengerti semua itu, meski Ardinah tidak terus terang mengatakannya. Mendengar itu semua, hati Kadiroen menjadi sangat berbahagia. Ia mencintai seorang yang elok segalanya. Dan orang itu juga membalasnya juga. O, Kadiroen merasa begitu senang. Begitu nikmat kalbu hatinya. Ia merasa berada dalam surga, sedang bertemu dengan bidadari. Kadiroen kemudian ikut duduk di tepi jalan itu, di samping Ardinah, ia ingin mendengarkan cerita Ardinah.

Maka Ardinah bercerita:
"Ayah hamba seorang yang miskin. Sewaktu umur hamba 18 tahun, ibu hamba meninggal dunia. Hamba hanya tinggal sendirian dengan ayah, sebab hamba tidak memiliki saudara. Setelah ayah hamba sangat tua karena tidak memiliki sanak famili, tetapi atas berkat Tuhan Allah, kami berdua bisa hidup di Desa Meloko. Meskipun miskin ayah hamba sangat mencintai hamba karena hamba anak tunggal, yang membantu semua urusan keluarga. Sudah sering hamba dilamar untuk dikawini banyak pemuda, tetapi hamba selama ini belum suka. Sebab hamba merasa berat meninggalkan ayah yang sudah tua. Sebaliknya ayah berkata, seandainya saya berumah sendiri, tentu ia akan sangat berat mengurus hidupnya sendiri di rumah hamba. Dengan tegas ia berkata tidak suka dihidupi oleh anak menantu. Inilah yang menyebabkan hamba tidak mau menikah dan terus-menerus membantu kehidupan ayah. Tiba-tiba satu tahun yang lalu, ayah hamba sakit keras. Lima hari hamba merawat ayah supaya sembuh. Hamba tidak pergi dari rumah dan pekarangan, sebab hamba ingin tetap menjaga ayah sampai sembuh. Meskipun seorang dukun di desa sudah menolong memberikan obat-obatan dan makanan, tetapi semua ikhtiar hanya sia-sia belaka. Adapun sakit ayah hamba sudah sangat mengkhawatirkan. Dan sudah nasib hamba kalau ia meninggal dunia. Keluh kesahnya tidak ada lain, selain: “O, anakku Ardinah, hamba tidak mau meninggal dunia sebelum hamba tahu betul kamu memiliki seorang suami yang baik”. Setiap saat ia memuji dan berdoa kepada Tuhan Allah, supaya datang seorang lelaki yang melamar hamba. Adapun hamba sendiri, siang-malam tidak bisa tidur selain berdoa supaya ayah sembuh. Pada hari yang kelima, hamba kedatangan seorang tamu lelaki yang tidak saya senangi. Sebab hamba belum mengenalnya. Tetapi ia membikin ulah yang menakutkan hamba. Ia datang kepada ayah hamba yang sedang sakit dan minta berbicara empat mata. Sehingga hamba tidak tahu, apa yang mereka bicarakan pada saat itu. Satu jam setelah itu, tamu lelaki itu pergi dan saya kembali menemui ayah. Ayah kelihatan sangat bahagia seperti tidak sedang sakit layaknya. Ia berkata pada hamba: “O, Ardinah, tamu yang barusan datang kemari itu adalah Kromo Nenggolo. Lurah baru di desa ini. Baru hari kemarin ia ditetapkan menjadi lurah. Jadi ia berpangkat besar di desa ini, selain itu, ia orang kaya. Ia bertamu ke sini untuk menjelaskan bahwa ia sering melihatmu, meskipun kamu tidak pernah memperhatikan dirinya. Dan sekarang ia sangat senang denganmu. Dan melamarmu. Melihat keadaannya, dan karena saya sendiri sudah tua dan sangat ingin menyaksikan kau menikah dengan selamat, maka tadi saya mengizinkan bahwa besok pagi ia akan datang dengan penghulu untuk kawin denganmu. Ia kaya, selain itu, ia juga bisa mendatangkan penghulu kemari."

Baru sampai di situ cerita Ardinah, Kadiroen menjadi bingung. Hatinya berdebar-debar keras. Ia merasa terpelanting masuk dalam jurang yang sangat dalam. Ia merasa tidak hidup lagi. Dan dengan suara perih ia bertanya:
"Jadi, Ardinah sekarang sudah kawin dan sudah punya suami?"
"Ya!" Kata Ardinah. Pada saat jawaban itu keluar, Kadiroen menjadi pucat wajahnya. Ia seperti tidak melihat apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap. Ia merasa tidak bisa hidup lagi. Ia merasakan ada pukulan berat yang menyebabkan pecah hatinya. Maka ia memegang dadanya sambil menjerit dalam hati "Aduh!" dan badannya hampir jatuh ke tanah kalau Ardinah tidak cepat-cepat menahannva.
Kadiroen pingsan beberapa saat. Pada saat ia siuman, ia mendengar kata-kata Ardinah:
“Tuan, ampunilah hamba, hamba merasa berdosa besar dengan menceritakan hal ini pada Tuan. Karena masalah ini Tuan pingsan beberapa saat. O, hamba tidak mengira.” Kadiroen menjadi ingat lagi. Ia memaksa dirinya untuk menenteramkan hati dan jiwanya yang sudah hancur. Ia ingat kepada Tuhan Allah. Ia menjadi sabar dan bertanya kepada Ardinah:
"Bukan salahmu, Ardinah. Hari ini saya memang agak kurang enak badan!"
Tapi Ardinah seorang perempuan yang perasa. Meski Kadiroen tidak mengatakan yang sebenarnya. Sebagaimana perasaan semua wanita, perasaan Ardinah juga sangat peka. Waktu Kadiroen pingsan karena mendengar perkataannya bahwa ia sudah kawin dan punya suami, maka segeralah Ardinah juga merasakan bahwa Kadiroen menaruh perasaan cinta yang luar biasa kepadanya. Pada saat itu juga Ardinah merasakan bahwa ia sangat mencintai Kadiroen. Selain itu, hati Ardinah juga merasakan
seperti sedang diremuk oleh sebuah kekuatan rahasia. Tetapi Ardinah bisa menyabarkan dirinya. Sebab ia tidak mau mengatakan perasaannya pada Kadiroen. Tiada berapa lama, Ardinah mendengar perkataan Kadiroen:
"Sudah Ardinah, saya sudah sembuh. Saya ingin menolong orang yang kamu kasihi yang sedang menderita itu. Teruskanlah ceritamu itu." Perkataan itu terdengar begitu sabar dan sangat mengharap Ardinah meneruskan ceritanya. Terpaksa Ardinah meneruskan ceritanya. "Tadi hamba sudah bilang, bahwa ayah hamba sakit keras. Dan ia bermaksud mengawinkan hamba dengan Kromo Nenggolo. Sebaliknya hamba tidak senang dan takut dengan Kromo Nenggolo. Apalagi ia begitu tergesa-gesa
mendatangkan penghulu. Meskipun ayah masih sakit, ia nekad mau kawin. Tetapi hamba tidak berani melawan kata-kata ayah. Karena hamba khawatir akan bikin susah dan membikin matinya ayah seketika. Selain itu, sudah adatnya kita bumiputera, seorang gadis harus menurut kepada kemauan orang tua jika ia menghendaki kita dikawinkan. Kita seorang gadis tidak punya hak bicara dan mengeluarkan pendapat kita. Meskipun masalah perkawinan adalah urusan terbesar bagi hidup manusia, untuk ketentuan kehidupan seterusnya. Sungguhlah adat yang begini ini memang sudah nasib bagi gadis-gadis. Dan sering seorang gadis menikah dengan terpaksa. Lalu mereka yang lembek hatinya mau menghibur dirinya dengan berzina dengan lelaki lain. Memang, kehendak orangtua itu baik, sebab ingin
melihat anak gadisnya bahagia dengan memilihkan lelaki sebagai suaminya. Tetapi kodrat Tuhan Allah tidak boleh dilawan dengan adat manusia. Jadi hamba mesti kawin dan tidak berani melawan keputusan ayah. Karena hamba khawatir menambah sakitnya. Apalagi melawan merupakan hal yang tidak patut, karena menyimpang dari adat. Begitulah dengan izin ayah, maka esok paginya di rumah, hamba akan
kedatangan Kromo Nenggolo dan penghulu. Dan hamba selanjutnya ditetapkan menjadi istri Kromo Nenggolo. Tetapi sesudah dikawinkan, maka seketika itu juga sakit ayah bertambah keras. Dan lalu meninggal dunia dengan kata-kata terakhirnya kepada hamba: “Sekarang hamba sudah siap mati, karena kamu sudah kukawinkan dengan orang kaya dan berpangkat.””
Sampai di sini Ardinah menangis karena ia ingat kepada ayahnya yang ia cintai.
"Sesudah ia dikubur, maka hamba dibawa ke rumah lurah, suami hamba itu. Dan di situ saya diberi tahu bahwa hamba dijadikan selir. Diselir, artinya dijadikan istri muda. Kromo Nenggolo berdusta waktu ia berkata kepada ayah hamba. Istri tuanya ia tipu. Ya, sekarang Kromo Nenggolo semakin tambah bejat hatinya. Itulah sebabnya hamba tidak bisa mencintainya.”
"Istri tuanya menjadi sakit hati melihat hamba. Ia merasa bahwa ia akan kehilangan pangkat dan hak-haknya sebagai istri lurah.”
"Ia merasa jiwanya menjadi amat sakit, karena ia sudah dibikin permainan oleh suaminya. Ia teramat sedih, batinnya menderita. Inilah perempuan tua yang sangat kasihan, Tuan. Dan hamba ingin sekali menolongnya. O, Tuan, apa sebabnya agama Islam hamba memperkenankan lelaki kawin lebih dari satu. Sedang biasanya ajaran agama sering dijadikan alasan oleh kaum lelaki yang hanya ingin mempermainkan perempuan.”
"Itulah sebabnya, hamba sebagai seorang perempuan, sering menderita batin. Hamba tahu, seorang perempuan perangainya sangat lembut, seorang lelaki banyak alasannya, bahwa di beberapa negeri, ada lebih banyak kaum perempuan daripada lelakinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa ajaran agama kita memperkenalkan lelaki boleh kawin lebih dengan satu perempuan. Tetapi hamba tidak mengerti,
mengapa seorang lelaki berani mengambil hak-hak itu tanpa meminta izin sang istri tua, tanpa menghormati dan turut merasakan bagaimana pedihnya dimadu. Demikian pula, perempuan mudanya, sebelum dinikahi seharusnya ditanyai bagaimana pendapatnya, mau apa tidak ia hidup rukun dengan istri tua. Dan si lelaki seharusnya bisa membagi perasaan cintanya kepada semua istrinya. Tetapi
biasanya, tidak ada perdamaian semacam ini yang terjadi dengan tulus hati satu dengan yang lainnya secara terus-menerus. Selain itu, perempuan biasanya tidak ditanya pendapatnya lebih dahulu dan hanya dianggap sebagai benda yang tidak bernyawa saja. Kita perempuan memang lemah, lelaki kuat dan kuasa, mereka bisa berbuat sewenang-wenang kepada kita. Itulah yang sering terjadi di Hindia sini.
Selama para lelaki belum bisa berbuat baik dan adil, maka lebih baik kalau agama kita melarang perkawinan lebih dari satu perempuan. O, Tuan Kadiroen, hamba merasa sendiri hidup dalam neraka dari kesewenang-wenangan lelaki, yang mengaku beragama tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya tersebut. Meski begitu, saya tidak akan menggugat aturan agama kita. Atau tidak menggugat juga pada yang membikin aturan itu. Sebab, mestinya maksudnya baik. Tetapi hamba mencela semua laki-laki yang busuk seperti Kromo Nenggolo suami hamba. Lelaki seperti itu, wajib dikucilkan dari pergaulan orang banyak. Sekarang hamba sudah telanjur menikah dengan Ielaki yang tidak hamba cintai. Istri tuanya dalam kesusahan yang amat sangat dan mesti saya tolong. Oleh karena itu, hamba lalu minta cerai dari
Kromo Nenggolo. Bukan karena hamba mementingkan diri sendiri karena susah. Tetapi hamba ingin menolong istri tuanya. Tetapi Kromo Nenggolo tidak mau menceraikan hamba. Ia memenuhi semua kewajibannya kepada hamba. Tetapi hamba tidak suka kepada dia. Sampai sekarang hamba menolak berhubungan dengan dia. Tetapi dia tetap tidak mau menceraikan hamba. Keadaannya sekarang, saya secara lahir diikat oleh seorang lelaki yang tidak saya sukai. Yaitu orang yang selalu membikin sakit hati kaum perempuan. Demikian pula, saya tidak bisa menolong istri tuanya. Itulah yang menyebabkan susahnya pikiran hamba. O, Tuan Kadiroen, berilah pertolongan untuk perkara ini."

Sampai di sini Ardinah menceritakan riwayatnya. Kadiroen mendengarkan betul dan berikhtiar bagaimana bisa membantu menolong Ardinah. Tetapi waktu itu sepertinya otaknya tidak bekerja. Hanya hati dan jiwanya terus-menerus gelisah. Oleh karena itu, ia berkata pada Ardinah: "Mbakyu, saya mengucapkan banyak terima kasih. Karena kamu mempercayai saya dan sudah menceritakan hal ini. Kau dengan gagah berani, melupakan kepentinganmu sendiri, dan berusaha untuk menolong orang lain.
Kau telah memberikan contoh yang baik kepada saya. Selain itu, saya akan melupakan kepentinganku sendiri, kalau ada orang lain yang mesti ditolong. Pasal membantu kamu untuk menolong bini tua dari lurah tersebut, sesungguhnya amat sukar urusannya. Saya sekarang belum dapat berusaha. Oleh karena itu, saya minta waktu. Lain hari hal ini akan saya bereskan. Hanya satu hal lagi yang ingin saya ketahui, Ardinah istri muda seorang lurah, mengapa pergi ke pasar sendirian saban hari?"

"Tadi sudah hamba terangkan bahwa hamba tidak suka dengan lelaki yang secara agama telah sah menjadi suami hamba, tetapi pada praktiknya lain. Di mata orang banyak, hamba memiliki suami, tetapi yang sebenarnya bukan suami hamba. Hal yang demikian ini membikin marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada hamba. Dan oleh karena itu ia menyiksa hamba. Jam empat pagi hamba harus sudah bangun, pergi ke pasar yang begitu jauh. Dan kalau sampai di rumah, terus-menerus sampai malam,
hamba harus bekerja. Selain itu, ia seringkali memukuli tubuh hamba juga. Ia sanggup meringankan nasib saya kalau hamba mau melayani keinginannya. Tetapi hamba tetap tidak mau, sebab supaya jangan menambah sakit hati istri tuanya. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang hamba disiksa terus-menerus. Tetapi hal itu tidak hamba pikirkan. Dan siang-malam hamba hanya memohon kepada Tuhan Allah, supaya diberi kekuatan memikul semua siksaan ini dengan hati sabar. Hamba memegang teguh nasihat ibu hamba, “Siapa yang berbuat baik, tentu akan dibalas kebaikan oleh Tuhan Allah. Dan oleh karena itu, dalam kesengsaraan tetaplah percaya kepada Tuhan Allah yang akan memberi kekuatan sampai saatnya anugerah itu datang.” lnilah pepatah yang selalu hamba ingat Tuan dan yang membikin saya tetap sabar serta sanggup memikul kesengsaraan ini dengan tidak sampai berputus asa."

Kadiroen mendengarkan semua pembicaraan Ardinah, dalam batinnya ia menghormati pendirian perempun yang herhati mulia itu. Mulia karena memang baik. Kadiroen merasa sepertinya ia mendapatkan pelajaran dari pepatah yang sudah diterangkan Ardinah tadi. Kadiroen sangat bahagia mendapat pelajaran mencari kekuatan Allah dalam kesengsaraan tadi. Dan pikirannya yang kebingungan memikirkan cinta menjadi bersabar. Lantas Kadiroen permisi pulang. Sungguh Kadiroen sudah bertemu
dengan seorang perempuan yang cocok dengan jiwa, watak dan pikirannya. Karena terdapat tiga kesamaan dalam tiga masalah itu, maka tidaklah heran jika Kadiroen menaruh cinta yang amat besar kepada Ardinah. Seorang lelaki hanya akan betul-betul mencintai seorang perempuan jika watak, jiwa dan pikiran si perempuan memiliki kecocokan dengan si lelaki. Begitu pula sebaliknya seorang
perempuan terhadap seorang lelaki. Cinta sejati adalah jika ia melihat dirinya sendiri dalam diri orang lain. Itulah percintaan sejati yang amat indah sinarnya.

Hari itu Kadiroen tidak jadi pergi ke Desa Meloko. Meski ia sangat suka, tetapi pikirannya sedang melawan semua pekerjaannya karena ia sangat tertarik oleh debaran jiwanya. Oleh karena itu ia lalu pulang. Dan karena ia merasa begitu tergoda, begitu sakit jiwanya, maka ia minta cuti 14 hari untuk menerangkan semua persoalannya kepada ayah dan ibu di rumah. Hari itu, pada tengah malam, ia
mengerti ada tiga perkara yang mesti ia bereskan. Yaitu jiwanya sendiri, pertolongan untuk istri tua Lurah Meloko, serta kepada rakyat di desa itu.

Untuk pasal yang pertama, ia sudah dapat menyelesaikan dengan baik. Yaitu ia akan cuti menghibur hati di rumah orang tuanya. Dan untuk pasal yang kedua, ia sudah menemukan jalannya. Yaitu ia akan menyerahkan hal itu pada Asisten Wedono yang akan mewakilinya dalam 14 hari cuti itu. Hal itu tidak akan menyusahkan yang mewakilinya. Sebab Kadiroen sudah tahu duduk perkaranya. Dan hanya tinggal
mengumpuIkan bukti-bukti saja. Untuk mengumpulkan bukti-bukti, wakilnya pasti tidak akan keberatan.

Begitulah, Kadiroen akan menyelesaikan dua perkara itu, sebab ia sudah tidak kuat lagi. Hanya perkara menolong istri tua Lurah Meloko, itulah yang masih belum bisa diselesaikan dalam pikiran Kadiroen. Beberapa ide telah membayang dalam pikiran Kadiroen untuk mengikhtiarkan perkara itu. Tetapi hanya satu cara yang dapat menyelesaikan masalah itu, "Ardinah harus cerai dengan Kromo Nenggolo". Tetapi bagaimana hal itu meski dijalankan. Itulah yang selalu dipikirkan otak Kadiroen. Ia berpikir, seumpama Ardinah sudah diceraikan oleh Kromo Nenggolo, istri tuanya pasti akan tertolong. Tetapi bagaimana hidup Ardinah selanjutnya, seorang perempuan muda yang tidak punya sanak famili?

Jadi dalam hal ini, Kadiroen harus mau memikul kehidupan Ardinah. Dan bisa memikulnya, sebab tentunya ia akan kawin dengan Ardinah. Kadiroen akan kawin dengan dia. Ia tahu, dari pertemuan tadi pagi, bahwa Ardinah mencintai dirinya. Sebaliknya jika Kadiroen ikut campur tangan masalah cerai itu, lalu ia kawin dengan Ardinah, bagaimana nantinya dalam pandangan umum? Tentunya ia akan kelihatan busuk sekali, sebab ia memaksa seorang lurah - seorang pegawai di bawah kekuasaannya - untuk bercerai dengan istrinya, buat dikawin sendiri oleh Kadiroen. Kadiroen yakin, cara ini akan kelihatan busuk sekali. Sebab jika hal itu sampai kejadian, namanya akan menjadi sangat tercemar. Dan lalu ia tidak begitu dipercaya oleh rakyat. Akhirnya ia tidak akan bisa membantu rakyat dalam wilayah kekuasaannya itu. Selain dari itu, dengan mengambil jalan yang demikian itu, ia akan memberi contoh yang buruk kepada semua orang. Pendek kata, bahwa jalan yang demikian sangat buruk sekali. Betul juga, Kadiroen sudah mengerti, pada zaman kuno banyak atasan yang memaksa bawahannya untuk memberikan istrinya pada atasannya. Mereka memaksa dengan ancaman, membenci, melepas pekerjaan atau pangkat seorang pegawai yang ada di bawah perintah kekuasaannya. Karena seorang
pegawai biasanya amat takut kehilangan jabatannya. Ia malu. Jadi mereka menurut saja semua apa yang diperintahkan atasannya. Tetapi Kadiroen tidak suka berbuat begitu hina, memaksa bawahannya untuk urusan demikian. Ia lebih baik bunuh diri daripada harus berbuat yang demikian hina. Pendek kata, Kadiroen tidak bisa ikut campur tangan dalam urusan cerai ini. Bisa juga dilaksanakan, tetapi sesudah
Ardinah diceraikan, maka selanjutnya Kadiroen akan menghindari Ardinah. Padahal ia sangat khawatir akan hidup dan masa depan perempuan itu. Bahwa Ardinah akan hidup lebih sengsara dari pada sekarang. Meskipun kira-kira Ardinah akan sanggup memikul beban tambahan kesengsaraan itu. Tetapi Kadiroen sendiri yang tidak akan kuat melihatnya jika hal itu sampai terjadi. Ya, bagaimanapun Kadiroen
memikir-mikir, selalu saja ia tidak mendapatkan jalan yang baik untuk menolong istri tua yang disakiti jiwanya oleh Kromo Nenggolo. Semalaman Kadiroen tidak bisa tidur. Dan pagi-pagi ia sudah pergi ke Desa Meloko, ingin bertemu di jalan dengan Ardinah. Dan setelah bertemu maka Kadiroen meminta maaf kepada Ardinah karena sampai sekarang ia belum bisa membantu dengan semestinya apa yang
dimaksud Ardinah. Lalu Kadiroen menjelaskan bahwa ia sudah minta cuti selama 14 hari untuk pulang ke rumah orangtuanya. Selain itu, ia meminta izin Ardinah, apakah ia boleh meminta nasihat ibu dan bapaknya mengenai kesulitan ini.

"Hamba mengucapkan beribu terima kasih atas kehendak Tuan yang mulia itu. Sesungguhnya Tuan adalah seorang kesatria. Tetapi tadi malam hamba sudah menemukan cara, dan akan berusaha sendiri, yang akan hamba lakukan dalam dua minggu jika Tuan cuti. Tuan pun tak usah turut campur tangan lagi. Sebab hamba tidak ingin Tuan ikut susah dalam masalah ini. Selain dari itu, Tuan jangan bilang pada ayah dan ibu Tuan, ya Tuan hamba," jawab Ardinah.

Pesan yang terakhir itu dikeluarkan dengan perkataan yang sangat terang dan dengan cara yang begitu menarik hati. Sehingga Kadiroen tidak bisa bilang apa-apa, selain "Saya menuruti kemauan Ardinah!"

Dengan begitu maka Ardinah melepaskan Kadiroen dari kewajibannya yang amat sukar, yang meringankan apa yang mesti dipikul Kadiroen.

Beberapa hari tidak lama sesudah kejadian ini berlangsung, maka Kadiroen mendapat telegram dari pembesar atasannya yang sebagian berbunyi; "cuti diizinkan. Habis verlof supaya terus menjabat dengan pangkat Wedono di Distrik Rejo...."

Sesungguhnya kabar itu membikin gembira Kadiroen. Batinnya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Tuhan Allah. Kenaikan pangkat itu bagi Kadiroen dapat menjadi sedikit obat bagi jiwanya yang sakit dan terguncang keras.






Bab IV

Sukar Memilih

Pada waktu Kadiroen mewakili jabatan Patih, di tanah Hindia terjadi guncangan karena datangnya pergerakan baru yang ramai. Sebuah pergerakan yang menarik hati rakyat Hindia mengenai perubahan budi pekerti, pikiran dan adat istiadat yang baru. Pergerakan tersebut telah menjadi perkumpulan rakyat yang besar sekali. Dan sebentar saja anggotanya sudah beribu-ribu banyaknya. Pergerakan tersebut
dinamakan "Partai Komunis" yang disingkat P.K. yang dapat menjadi anggota dari pergerakan tersebut adalah semua rakyat Hindia. Dan menurut pembicaraan banyak
orang, pergerakan itu dikatakan baik sekali untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
Hanya saja surat-surat kabar yang berbahasa Belanda di Hindia ini banyak yang
berseteru dan membenci pergerakan itu. Meski begitu, Gupermen Belanda tidak
melarang pergerakan itu. Karena waktu itu kemajuan di Dunia sudah sangat
berpengaruh sehingga hak rakyat untuk berpolitik dilindungi. Selain dari itu,
banyak orang berkata bahwa pergerakan itu tidak bisa dibunuh karena memang
sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Meski Gupermen tidak melarang pergerakan
itu, tetapi di bawah, yakni para priyayi-priyayi atau pejabat yang kuno dan
kolot, ada yang memfitnah pergerakan tersebut. Karena itu siapa saja yang
menjadi anggota dari pergerakan tersebut lalu perilakunya berubah, mereka tidak
begitu mau menghormati lagi terhadap para priyayi seperti menyembah, berjalan
jongkok sebagaimana bentuk-bentuk penghormatan yang dulu-dulu. Hal itu mendadak
mau dihilangkan oleh pergerakan itu dan mau diganti dengan adat Belanda. Maksud
mengubah adat istiadat inilah yang menyebabkan kebencian antara para priyayi dan
rakyat yang sedang bergerak. Setelah banyak orang dan priyayi muda yang bekerja
di luar kalangan Gupermen seperti di toko-toko dan sebagainya, maka mereka
mengupayakan perubahan adat itu secara terus-menerus. Mereka mengatakan bahwa
cara kuno itu adalah cara kaum kolot yang gila hormat. Perselisihan antara kuno
dan baru itulah yang menyebabkan guncangnya Hindia.

Banyak orang yang tertarik ataupun membenci pergerakan itu, tetapi mereka tidak
tahu betul apa maksud pergerakan itu. Hal itulah yang sering menimbulkan
berbagai gejolak perselisihan yang menyebabkan guncangnya negeri. Itulah yang
menjadi alasan banyak orang di sana-sini menyarankan agar pergerakan itu
ditindas sampai mati saja. Tetapi, ada juga yang ingin mengerti terlebih dahulu,
bagaimana akhir dari pergerakan itu. Kadiroen waktu itu berada di pihak yang
bersikap ingin menunggu lebih dahulu itu. Sementara itu distrik Kadiroen sudah
kemasukan pergerakan tersebut.

Pada suatu hari, sesudah Kadiroen sembuh dari sakitnya, maka di Kota S diadakan
propaganda vergadering oleh Hoofdbestuur perkumpulan P.K. Maksud dari propaganda
itu untuk memajukan dan membesarkan pergerakan itu dengan menarik para
anggota-anggota baru, setelah mereka mengerti betul apa yang menjadi tujuan dari
pergerakan tersebut. Sebagai pejabat Patih, Kadiroen mesti membuat verslag yang
betul dari vergadering tersebut. Adapun yang bertugas menjaga keselamatan dari
vergadering tersebut adalah Tuan Asisten Residen sendiri dibantu oleh beberapa
orang pegawai polisi. Kadiroen sudah mendapat perintah supaya ia tidak hanya
membuat verslag dari seluruh pembicaraan yang terjadi di vergadering tersebut,
tetapi juga mencacat betul semua yang terjadi pada orang-orang banyak di situ.
Siapa dan bagaimana caranya memimpin vergadering dan sebagainya. Oleh karena
itu, tiga hari sesudah vergadering itu, Tuan Asisten Residen membaca verslag
Kadiroen yang berbunyi sebagai berikut.

"Pendahuluan: Atas izin pembesar yang berwajib, di alun-alun, oleh bestuur
cabang P.K. di Kota S, sudah didirikan sebuah panggung yang akan digunakan
sebagai tempat berpidato bagi semua yang hendak berbicara pada rakyat. Di
kanan-kiri panggung didirikan tarub-tarub (pendopo yang terbuat dari bambu dan
kajang) yang akan digunakan sebagai tempat duduk para tamu-tamu, bestuur-bestuur
dari berbagai perkumpulan politik lainnya, juga polisi dan utusan-utusan dari
pers. Di sekeliling panggung itu adalah tempat berdiri bagi orang-orang yang
hendak mendengarkan vergadering. Jam delapan pas, sudah beratus-ratus orang yang
datang. Jam sembilan, jumlah hadirin dirasa sudah cukup. Adapun yang datang
adalah semua bestuur cabang di Kota S, para propagandis dan anggota hoofdbestuur
bernama Tjitro, beberapa Tuan Belanda dari pabrik-pabrik, banyak priyayi,
utusan-utusan pers Belanda, Tionghoa dan Bumiputera. Di antaranya ada redaktur
dari surat kabar P.K. tersebut bernama Sariman dan juga kira-kira 5.000 orang
tamu dan penonton. Dari pihak B.B. ada hadir Tuan Asisten Residen, Patih dan
beberapa pegawai polisi.

"Yang memimpin vergadering adalah Haji Moesno, Presiden P.K. di S. Pada jam
sembilan tersebut dibunyikan sebuah petasan sebagai tanda kalau vergadering
dibuka. Berdirilah H. Moesno di atas panggung. Dan dengan mengucap terima kasih
pada Paduka Tuan Asisten Residen yang telah memberi izin mengadakan openlucht
propaganda vergadering, serta mengucap terima kasih pada Tuan Regen, yang
memberi izin memakai alun-alun sebagai tempat Vergadering, maka ia menghaturkan
selamat datang pada semua yang hadir. Dan ia berkata bahwa Tuan Tjitro anggota
Hoofdbestuur yang akan menjadi pembicara untuk menerangkan maksud dan kegiatan
usaha P.K. Nanti setelah Tuan Tjitro berbicara akan diadakan tanya-jawab, semua
orang boleh bertanya ataupun mendebat.

Lalu Tuan Tjitro berdiri di atas panggung dan dengan bersuara nyaring ia sangat
yakin memulai berpidato, seperti sebagai berikut:

"Saudara-saudara kaum P.K. dan semua Tuan-Tuan yang hadir pada vergaderingini
maksud saya berbicara di sini tidak akan mengajak orang untuk membikin rusuh dan
ribut negeri dengan menghasut supaya bikin onar, sebagaimana yang hari kemarin
sudah diterangkan dengan jelas oleh surat-surat gula S.H.B. Tetapi maksud saya
mau menerangkan maksud dan tujuan pergerakan supaya semua orang mengetahui bahwa
P.K. hanya berusaha memuliakan rakyat dan negeri Hindia. (Tepuk tangan dan
sorak-sorai ramai menyambut keterangan itu).

"Memang ada alasan untuk memakmurkan rakyat negeri, sebab keadaan negeri dan
rakyat Hindia sekarang ini boleh dikatakan tak lagi makmur. Tetapi kesusahan
hidup, kemelaratan dan kemiskinan kian bertambah. Hal-hal ini sudah jelas
buktinya, yaitu lumbung-lumbung padi kosong, kerbau, sapi dan semua ternak
rakyat kian berkurang jumlahnya. Begitu juga makanan, lambat laun kian hari kian
menipis. Sehingga berbagai jenis penyakit kian berkembang di Hindia. Kekurangan
makan dan kemiskinan itu juga menjadi sumber godaan bagi perilaku rakyat.
Sehingga banyak yang tidak dapat menahan godaan setan ini dan akhirnya banyak
yang menjadi pencuri, perampok dan sebagainya. Kurangnya keselamatan lahir atau
susahnya perikehidupan rakyat selamanya akan membikin kasar perilaku orang,
orang-orang yang berbudi pekerti halus kian hari-kian busuk dan rusak, mereka
adalah orang-orang yang tidak kuat melawan godaan setan. Perkembangan negeri
untuk menambah keselamatan lahir dan batin begitu mundur meskipun sudah menambah
kepandaian dan kepintaran rakyat. Maka, kita rakyat pertama-tama yang wajib
memperbaiki semua hal yang berhubungan dengan hajat hidup rakyat Hindia. Kedua,
baru Tuan-tuan Belanda pun wajib untuk itu. Juga Gupermen Belanda yang berkuasa
di Hindia ini katanya sudah berusaha serupa itu, yaitu umpamanya dengan
membentuk Commissie voor de Mindere Welvaart. Kita kaum pergerakan bersama-sama
akan turut membantu memperbaiki semua ini. Jadi nyatalah bahwa kita tidak
mengajak untuk kerusuhan dan keributan. Inilah maksud pendirian pergerakan kita,
pendek kata, inilah maksud dan tujuan yang sebenarnya dari pergerakan kita.
Saudara-saudara tentu ingin tahu buktinya? Bukti-bukti itu akan kelihatan kalau
saya sudah menerangkan usaha-usaha pergerakan kita. Tetapi untuk menerangkan
usaha-usaha itu, maka Tuan-Tuan meski harus tahu lebih dahulu
perubahan-perubahan besar yang terjadi di Hindia dari dahulu sampai sekarang,
yaitu yang dinamakan sejarah.

"Sekarang saya akan membuka sedikit sejarah di tanah Hindia. Terutama sejarah
perikehidupan rakyat di sini. Zaman dahulu kala, sebagaimana cerita dalam
buku-buku Jawa, dikatakan bahwa waktu itu Gupermen Belanda belum memerintah,
sehingga semua urusan di Hindia menjadi gampang. Peraturan negeri gampang
dilaksanakan. Namun, raja-raja Jawa gampang juga memeras rakyatnya sendiri.
Tetapi, rakyat juga mudah menumpas raja-raja lalim itu dengan meminta tolong
pada raja-raja Jawa yang lain, yaitu raja-raja yang suka menolong. Karena dengan
menolong mereka lalu bisa membesarkan daerah kekuasaannya. Karena di Hindia
banyak raja-raja kecil, maka dengan demikian sering terjadi peperangan, hal yang
mana mudah membikin pecah belahnya tanah air kita. Di waktu Oost Indische
Compagnie (O.I.C.) datang dan berusaha di Hindia, maka keadaan negeri ini sudah
pecah belah sedemikian rupa dan semua manusia hanya mencari keuntungan
sendiri-sendiri. O.I.C. memang sangat cerdik memanfaatkan keadaan perpecahan
rakyat Hindia tersebut. O.I.C. bisa memihak sana, memusuhi sini dan selalu
berbuat begitu; I.O.C. berusaha mendapatkan pengaruh besar dan bisa berhasil
dengan baik. Sehingga tidak antara berapa lama Hindia jatuh ke tangan O.I.C.
dan lama-kelamaan datang Gupermen Belanda. Gupermen Belanda datang ke Hindia dan
lalu mulai mengatur negeri ini bersama-sama dengan pembesar-pembesar bumiputera
yang ada pada waktu itu. Dan sifat pemerintahan Hindia lalu berubah-ubah. Pada
waktu itu hingga sampai sekarang tingkat kemajuan dan kepandaian datang dari
penduduk bangsa Eropa, jadi termasuk bangsa Belanda juga. Kemajuan dan tingkat
kepintaran itu di Hindia sangat tertinggal jauh. Sehingga membikin kalahnya
negeri Hindia pada Belanda. Tetapi terbawa oleh kodrat, maka bangsa Hindia mulai
maju terus dan meniru serta mengambil contoh kemajuan di negeri Belanda.
Sehingga Tuan-Tuan yang berhaluan etis, seperti V. Deventer, memandang Hindia
sebagai anak dan muridnya Belanda. Dan mau mendidik murid itu seperti orangtua
atau guru. Di sini, dengan singkat saya akan menerangkan keadaan sejarah
pemerintahan Hindia sampai waktu ini. Dari sejarah itu, kita bisa mengerti
bahwa ada tiga tingkat kemajuan zaman. Yang pertama zamannya Hindia diperintah
oleh bangsa Hindia sendiri; kedua, saat mulai diperintah bangsa Belanda dengan
dibantu oleh raja-raja Jawa yang sudah takluk yang akhirnya diberi pangkat
Kanjeng dan Regen; ketiga, zaman Hindia meniru sejumlah kepintaran, pengetahuan
serta kemajuan bangsa Eropa, sehingga lalu ada yang mengumpamakan Hindia sebagai
muridnya negeri Belanda.

"Sekarang harus dicari sebabnya mengapa sejarah pemerintahan Hindia bisa berubah
ubah sedemikian rupa menurut hemat kami, sebabnya itu cukup banyak. Yang
pertama-tama, sebab semua itu terbawa oleh cara penghidupan manusia dan usaha
manusia untuk hidup di tanah air kita berhadapan dengan kehidupan bangsa-bangsa
asing lainnya. Oleh karena itu, boleh kita pastikan, bahwa sistem pemerintahan
akan berujud dan teratur, jika sesuai dengan keperluan manusia dalam negeri dan
menurut bentuk hubungan dengan bangsa-bangsa lain atau penduduk negeri asing.
Karena hal ini dipandang sebagai pokok atau asal mula urusan, maka saya akan
membuka lebih jauh sejarah kehidupan di Hindia ini.

"Tadi Saya sudah menerangkan bahwa pada zaman purbakala, semua urusan menjadi
gampang. Begitupun perikehidupan penduduk atau rakyat pada waktu itu karena
tanah di Hindia sangat subur dan penduduknya masih sedikit. Hampir semua
kehidupan penduduk dapat dipenuhi dengan mengusahakan pertanian, yaitu dengan
menanam tanaman pangan. Sedangkan untuk keperluan itu, kerbau, sapi dan hewan
piaraan lainnya dapat dipelihara dengan sungguh-sungguh dan piaraan itu pun bisa
mendapatkan makanan atau rumput yang cukup. Begitulah, kehidupan rakyat serba
mudah. Demikian juga urusan mendapatkan pakaian juga gampang, sebab
saudara-saudara di rumah saja bisa menenun kain dan membatik sendiri. Jenis dan
macam pekerjaan sangat sedikit. Demikian juga cara mereka bekerja tidak beraneka
warna, sehingga mengatur negeri pun juga gampang.

"Tetapi, tidak semua rakyat dapat hidup dengan gampang melalui usaha pertanian.
Seperti di daerah Jepara misalnya, tanahnya sering kebanjiran atau kekurangan
air. Sebaliknya, di situ ada banyak pohon-pohon jati. Dan dari pohon-pohon
penduduk di sana gampang membikin perabot rumah dan berbagai perhiasan yang
indah-indah. Dan hasilnya bisa ditukar dengan bahan makanan di daerah-daerah
lain yang banyak tanaman pangannya.

"Di pesisir laut, penduduk mudah mencari ikan lalu menukarkan penghasilannya itu
dengan padi dari daerah lain di negeri ini. Begitulah, semua orang mempunyai
pekerjaan sendiri-sendiri. Dan semua itu dapat berlangsung dengan gampang karena
mereka bekerja sendiri-sendiri juga. Dengan pekerjaan sendiri itu, mereka dengan
gampang menentukan cara serta waktu kerjanya. Hal itu menyebabkan rakyat merasa
merdeka. Merasa merdeka artinya merasa hidup ayem-tentrem. Hanya karena banyak
hutan yang harus dibuka dan karena hutan banyak binatang buasnya yang harus
diusir dengan kekuatan, maka manusia berkumpul bersama-sama membuka hutan.
Dengan berkumpul itu supaya mereka bisa kuat melawan binatang-binatang buas. Hal
itulah yang menyebabkan berdirinya desa-desa. Dan supaya hubungan manusia yang
satu dengan yang lainnya dapat hidup rukun maka setiap desa dipimpin oleh tetua
yang paling pintar dan paling kuat. Adapun orang yang terpilih disebut lurah. Di
mana hutan dibuka secara bersama-sama, maka tanah yang terbuka itu, pada zaman
dahulu kala, dianggap sebagai milik orang sedesa. Dan di tanah Jawa ini masih
banyak aturan tentang hak milik sawah bersama-sama serupa itu. Begitulah asal
mula maka rakyat hidup sendiri dan mengatur kehidupannya sendiri secara
bersama-sama di masing-masing desa. Di sana ada sistem pemerintahan rakyat. Dan
lurah menjadi wakil atau tetua yang terpilih. Jadi, pada waktu dahulu,
kebanyakan lurah adalah orang yang terbaik. Di desa, hiduplah sistem
pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat atau disebut sebagai demokratische
regeeringsvorm

"Tetapi, ada juga manusia yang mencari kekuatan dan kekuasaan untuk memerah
hasil rakyat semata dengan cara yang sewenang-wenang. Karenanya rakyat ingin
memiliki raja yang mau memerangi penjahat-penjahat dan dapat merukunkan manusia
di seantero negeri. Pada saat itu juga, di tanah Hindia mulai didirikan
kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh hulubalang-hulubalang dan balatentaranya.
Raja-raja itu tidak semua baik; ada juga raja yang selalu ingin berkuasa sendiri
dan berusaha melebarkan daerah kekuasaannya sehingga sering terjadi peperangan.
Bersamaan dengan zaman kerajaan dan zaman peperangan itu, maka manusia lalu
bertambah juga cara usahanya untuk tetap hidup. Jenis pekerjaan pun menjadi kian
bertambah. Maka dari itu, lalu ada petani, tukang kayu, tukang bikin bata merah,
tukang berkelahi atau prajurit dan sebagainya. Bertambahnya jenis pekerjaan,
akhirnya, menambah banyak pula macam penghasilan. Sampai di sini ramailah usaha
perikehidupan rakyat, maka mulailah ada pasar atau tempat tukar-menukar
penghasilan dan macam-macam barang, juga macam-macam hasil tanah. Adanya pasar
juga menambah pekerjaan pula bagi manusia maka timbullah golongan saudagar.
Berikutnya lalu mulai terbuka zaman perdagangan. Mengingat sangat sulitnya
melakukan tukar-menukar barang juga supaya perdagangan berjalan aman, supaya
tidak banyak orang yang membegal dan sebagainya, maka memanglah perlu bahwa
beberapa desa dikumpulkan menjadi satu kerajaan yang diatur serta dijaga oleh
raja dengan balatentaranya, juga para priyayi dan sebagainya. Untuk keperluan
itu, raja dan pegawainya mesti mendapatkan gaji sehingga rakyat lalu dikenakan
pajak. Zaman dahulu, kalau adil dan rakyat merasa keberatan terhadap pajak maka
mereka lalu meminta tolong pada raja lain. Oleh karena rakyat sering mengadu
raja yang satu dengan yang lainnya, ditambah pula ada raja-raja yang nakal; mau
melebarkan kerajaannya sendiri, supaya semakin kuat dan kaya, maka sudah barang
tentu di Hindia datang zaman peperangan yang terus-menerus yang memecah tanah
air kita ini.

"Pada zaman, di negeri-negeri lain seperti Arab, Tionghoa, Eropa dan sebagainya
mulai menyerbu kepulauan Hindia untuk berdagang atau mencari penghidupan yang
lebih baik daripada di negerinya sendiri-sendiri. Begitulah, maka Hindia lalu
menjadi terbuka untuk tukar-menukar hasil dengan negeri-negeri lain. Karena
berbagai hasil industri dari negeri-negeri lain yang dikirim dengan kapal itu
sangat berbeda sedemikian rupa dengan hasil-hasil industri serta kerajinan di
Hindia sendiri – jadi barang-barang itu dianggap aneh – maka dagangan itu bisa
laku di sini sehingga perdagangan menjadi kian bertambah ramai. Tetapi semakin
ramainya perdagangan dengan berbagai bangsa dan negeri-negeri lain, juga semakin
menambah kerumitan untuk mengatur pemerintahan di Hindia. Karenanya Hindia
harus kuat dan rukun kalau mau terus dapat mengurus pemerintahan negerinya
sendiri. Namun sebagaimana yang telah ditakdirkan Tuhan Allah, Hindia tidak
begitu rukun, Hindia mulai tercerai berai sewaktu perdagangan itu mulai ramai.
Karena itu, O.I.C. bisa mudah mendapatkan kemenangan sebagaimana yang sudah saya
jelaskan di muka. Begitulah, lalu bangsa Belanda dapat menghimpun kekuatan dan
memerintah Hindia sepenuhnya serta membikin berbagai peraturan negeri yang
sesuai dengan ramainya perdagangan dengan negeri-negeri lain; terutama Belanda
mengatur bermacam hal di Hindia yang semakin menambah ramainya perdagangan
dengan negeri Belanda sendiri. Sehingga, kekayaan di Hindia dengan gampang
ditarik ke Eropa. Perbuatan semacam ini, waktu itu, dikatakan sudah menjadi
kodrat sehingga waktu itu dianggap adil juga.

"Pada zaman itu, jenis dan macam perkerjaan serta usaha rakyat di Hindia juga
semakin banyak macamnya. Mereka lalu mulai meniru kepandaian dan kemajuan
bangsa Eropa.

"Tidak lama setelah Hindia diperintah bangsa Belanda, di Eropa ada perubahan
besar kemajuan manusia yang juga membawa perubahan besar di seantero dunia yakni
mereka bisa membikin mesin-mesin dan pabrik-pabrik. Lalu mulai berdiri pabrik
kereta api, pabrik kain atau cita-cita. Pendek kata, sekarang adalah zamannya
mesin dan pabrik yang digerakkan oleh tenaga air dan api alias stoom dan
kemudian dengan sistem elektrik dan sebagainya.

"Keberhasilan-keberhasilan baru itu tidak saja membawa dampak perubahan yang
besar di negeri Eropa, tetapi juga di Hindia. Karena kita berada di Hindia, saya
akan menerangkan perubahan yang terjadi di Hindia saja. Pabrik-pabrik di Eropa
dapat menghasilkan barang-barang perdagangan seperti kain, perabotan rumah,
perhiasan badan dan sebagainya. Jumlah barang itu amat banyak sebab sebuah
pabrik dapat bekerja dengan cepat dan bagus. Jadi, barang hasil produksi pabrik
bisa sangat banyak jumlahnya serta murah. Begitulah dalam hal tukar-menukar
penghasilan antara Hindia dengan barang-barang dari pabrik Eropa maka
barang-barang produksi Eropa dapat mengalahkan barang-barang bikinan Hindia yang
kalah baik dan kalah murah ketimbang barang hasil pabrik Eropa. Kain tenun,
batik, nila Jawa dan sebagainya mulai digantikan oleh kain cap-capan, cat-cat
pabrik Eropa dan sebagainya. Karena itu, berbagai pekerjaan bumiputera seperti
menenun, membatik, membikin nila Jawa dan sebagainya mulai mengalami kemunduran.

"Semakin lama perdagangan bertambah ramai sehingga toko-toko dan gudang-gudang
di kota bertambah banyak juga. Mundurnya beberapa jenis pekerjaan yang lama lalu
diganti dengan berbagai macam pekerjaan-pekerjaan yang baru, seperti menjadi
juru tulis toko, mandor, klerk, kuli dan lain-lain sebagainya.

"Adapun di Eropa orang-orangnya yang kaya terus saja mendirikan pabrik-pabrik
baru. Dan begitulah sampai ada pabrik membikin peralatan pabrik. Semakin lama
pabrik-pabrik ini kian bertambah banyak serta bertambah banyak pula mesin-mesin
yang dihasilkan oleh pabrik. Akhirnya, di Eropa sendiri ada kesulitan lahan
untuk mendirikan pabrik-pabrik baru. Sehingga, sangatlah perlu, mesin-mesin baru
itu dijalankan juga di tanah Hindia. Semenjak itu, maka di Hindia lalu ada spoor
atau kereta api tram, pabrik gula, pabrik beras dan sebagainya. Pabrik-pabrik di
Hindia ini bisa menyewa tanah atau membeli hasil bumi buat diolah di pabrik.
Karena itu, pekerjaan para petani lalu juga terdesak. Hal itu jelas mengurangi
produksi padi atau beras. Kalau dibandingkan dengan pertambahan penduduk
produksi itu tidak mampu lagi mengimbangi keperluan hidup rakyat di Hindia.

"Sudah barang tentu terdesaknya berbagai macam pekerjaan asli milik bumiputera
itu ada imbangannya dengan datangnya berbagai jenis pekerjaan baru sebagaimana
yang sudah saya jelaskan di muka. Selain itu, ditambah lagi dengan adanya
perkerjaan sebagai tukang-tukang besi di bengkel-bengkel, letter-zetter di
drukkerij, masinis, kondektur kereta api, sopir dan sebagainya. Jadi nyatalah,
karena terbawa oleh kemajuan manusia, negeri menjadi tambah ramai dan tambah
ruwet pula. Semakin ramainya negeri itu memaksa supaya negeri itu pun tersebut
dapat diatur dengan kuat dan baik. Hal yang mana juga semakin menambah biaya
pengeluaran untuk itu. Artinya, pajak di negeri itu mestinya dinaikkan juga.
Inilah jalannya kodrat, jadi sudah sebagaimana adilnya.

"Semakin ramainya sistem perdagangan itu, sudah barang tentu, juga membutuhkan
pegawai-pegawai yang pintar untuk menulis dan menghitung atau memperkirakan.
Selain itu, juga dibutuhkan pegawai-pegawai yang pandai berbahasa Belanda untuk
dipekerjakan di toko-toko Belanda itu. Oleh karena itu, di Hindia juga perlu
ditambah sekolah-sekolah bumiputera. Dengan sekolah itulah akan tercipta
bumiputera yang pandai. Semenjak munculnya kepandaian itu, maka rakyat Hindia
mulai bergerak maju dengan pesat menuju kemerdekaan bangsa dan tanah airnya. Hal
ini juga sesuai dengan jalannya kodrat, jadi adil juga. Dan karena itu lalu ada
Tuan-Tuan seperti V. Deventer yang memasukan sistem politik etis dalam
pemerintahan di Hindia.

"Sekarang kita mesti menyelidiki dan mengurus juga apakah keramaian dan
keruwetan zaman baru ini juga semakin menambah kemakmuran dan keselamatan rakyat
di Hindia. Meskipun sudah nyata bahwa hal itu sudah menambah kemajuan dan
kepandaian secara lahiriah pada Hindia.

"Saudara-saudara tahu, dalam situasi serba ramai begini, mulai timbul dua
golongan manusia. Yaitu pertama, golongan yang memiliki pabrik-pabrik,
maskapai-maskapai kereta api dan mobil, toko-toko dan sebagainya. Yang kedua
adalah golongan kaum buruh dari berbagai macam bangsa atau mereka yang bekerja
di perusahaan golongan pertama. Golongan kaum buruh ini asalnya adalah dari
kaum petani, tukang batik, tukang tenun, pedagang kecil dari berbagai macam
bangsa dan sebagainya. Sebagaimana tadi sudah saya terangkan, mereka kehilangan
pekerjaannya karena terdesak oleh pabrik-pabrik, oleh mesin-mesin dan
perdagangan besar.

"Semakin canggih dan berkembangnya pabrik dan mesin, semakin kuat pula
desakannya menghilangkan pekerjaan asli bumiputera. Adapun Saudara-Saudara bisa
mengerti bahwa pekerjaan asli tadi dapat memerdekakan perasaan rakyat. Tiba-tiba
sekarang pekerjaan itu terdesak sehingga kaum buruh kian hari kian bertambah.
Bersamaan dengan itu, maka atas usaha manusia yang pintar-pintar, dalam mesin
dan pabrik semakin bertambah canggih, ada yang lalu dijalankan dengan sistem
elektrik dan sebagainya. Kalau kerja mesin dan pabrik bertambah baik, maka
manusia yang bekerja di mesin atau pabrik itu bisa dikurangi jumlahnya.
Umpamanya begini, dahulu pabrik gula menggunakan pabrik kuno dan tiap tahun
bisa memproduksi 50.000 karung gula, tetapi pabrik itu membutuhkan pekerja yang
jumlahnya 500 orang. Sekarang pabrik dibikin semakin baik dengan mesin-mesin
model baru, maka saban tahun lalu bisa menghasilkan 100.000 karung gula,
sedangkan buruh yang dibutuhkan tetap hanya 500 orang. Jadi, nyatalah bahwa
mesin baru bisa mendesak, mengurangi buruh sejumlah 500 orang. Sebab jika pabrik
tidak dibikin baik, tentu harus ada 1.000 orang yang mesti bekerja di pabrik
itu, untuk dapat menghasilkan 100.000 karung gula. Dari contoh ini, nyata bahwa
semakin maju pabrik dan mesin-mesinnya tidak berarti semakin membutuhkan kaum
buruh. Tambah maju mesin dan pabrik tambah banyak pula pekerja yang terdesak
oleh kekuatan mesin. HaI yang mana semakin menambah susahnya manusia mencari
pekerjaan atau penghidupan meskipun jenis dan macam pekerjaan bertambah. Pada
saat ini lalu datang masanya kaum buruh saling berebut pekerjaan. Mereka mau
dibayar murah, asal saja dapat kerjaan.

"Hal ini yang menyebabkan perubahan besar di desa-desa. Yaitu perubahan yang
membikin ruwetnya mencari pekerjaan dan penghidupan penduduk asli. Itulah salah
satu sebab juga yang menyebabkan kemunduran pemodal kecil dan kemakmuran serta
keselamatan rakyat di Hindia.

"Tetapi selain dari ini ada sebab yang lain lagi, yaitu orang-orang yang
bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, kapal, spoor, toko-toko dan sebagainya;
orang-orang itu satu sama lain saling berebut keuntungan; sehingga sering tidak
mendapatkan keuntungan. Umpamanya begini, mereka saling bersaing menjual murah
asal saja barangnya lekas habis dan laku. Jadi meski untungnya hanya sedikit
sering kali untungnya akhirnya juga menjadi banyak juga. Selama golongan
bermodal itu masih bersaing begitu, tentulah rakyat atau penduduk yang enak
sebab bisa membeli barang dengan harga yang murah sedang pengusahanya semakin
merugi. Tetapi kaum saudagar besar, tambah lama tambah pintar juga. Akhirnya,
lalu mereka bersatu dengan sesama golongan masing-masing. Sehingga lalu mereka
bersama-sama menaikkan semua harga barang-barang kebutuhan manusia. Umpamanya
saja sekarang semua pabrik gula di Hindia bersatu dalam Java-Suiker Syndikaat
dan itu perkumpulan saudagar yang besar, tentu lalu bisa bersatu menaikkan harga
gula bersama-sama atau kalau perlu menurunkan harga secara bersama-sama pula.
Begitulah adanya dengan semua itu; rakyat bertambah lama bertambah susah
hidupnya karena semua harga-harga kebutuhan manusia semakin naik terus harganya.
Sedangkan hasil rakyat itu tidak pernah naik secara sepadan. Karena mereka
berebut pekerjaan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Nah, sekarang
saudara-saudara juga sudah tahu sebab yang kedua yang menambah mundurnya
kemakmuran rakyat. "Yang ketiga, tadi saya sudah terangkan, bahwa negeri yang
bertambah ramai itu perlu diatur dengan lebih baik dan aturannya harus tambah
baik juga. Dengan sistem aturan atau pemerintahan yang semakin baik tentu saja
juga semakin menambah warna dan macamnya. Sehingga rakyat di desa sering tidak
tahu atau mengerti betul dan menjadi bingung karenanya. Mereka hanya bisa
mengerti dengan sesungguhnya kalau sudah merasa bahwa suatu aturan baru yang ada
itu sangat diperlukan oleh mereka. Sedang banyak di antara mereka belum merasa
perlu untuk itu. Perasaan rakyat di kota-kota dan sedikit berbeda dengan
perasaan rakyat di desa-desa yang dekat dengan kota-kota itu. Sedangkan perasaan
penduduk di desa-desa yang jauh dari kota-kota itu juga lain lagi. Begitulah,
sistem pemerintahan yang satu macam dari atas, sering hanya sesuai dengan
perasaan dan kebutuhan penduduk di suatu tempat dan belum tentu sesuai dengan
kebutuhan penduduk di tempat lain. Sebaliknya, jika setiap pemerintahan itu
mengadakan sistem aturan sendiri-sendiri di tiap-tiap tempat, tentulah lalu
menjadi kekurangan tenaga dan kebanyakan kerjaan. Hal ini semua sering
menyebabkan susahnya kehidupan rakyat. Apalagi rakyat sudah semakin pintar dan
bertambah besar juga keperluannya guna untuk hidup yang pantas. Sehingga
sekarang ini rakyat sudah mempunyai keinginan untuk turut mengatur negeri dan
utamanya untuk turut mengatur penghidupannya di tempat masing-masing. Dan
umumnya ingin turut memerintah di seantero Hindia ini tanpa kecuali.

"Perubahan karena ketiga sebab tadi sudah menambah sukarnya kehidupan rakyat
sedang sekarang ada begitu banyak yang mesti diikuti. Sehingga peraturan agama
mendapat persaingan dengan peraturan negeri dan peraturan mencari penghidupan.
Akhirnya, orang-orang yang tidak tebal imannya lalu tidak lagi setia kepada
kebaikan dan ajaran agamanya. Ajaran agama pun turut mengalami kemunduran.
Begitulah, maka semakin lama orang-orang jahat juga semakin bertambah banyak.

"Jadi, nyatalah bahwa kesukaran dan kesusahan rakyat Hindia sekarang ini karena
terbawa oleh kodrat atau kepastian sesuai dengan jalannya kemajuan dunia. Zaman
yang sukar demikian ini juga sudah sampai di Eropa yaitu di negeri Belanda
sendiri dan di mana saja. Di seantero dunia tentu suatu ketika akan datang masa
atau zaman serba susah bagi rakyat negerinya masing-masing.

"Saudara-saudara! Meskipun jalannya perubahan begini, namun kita tidak boleh
bilang 'masa bodoh' atau 'na, ya sudah, kita diam saja!' Ketahuilah, orang yang
diam saja dan tidak mau berusaha itu sama halnya melawan kodrat juga. Sebab
habis malam pasti datang siang. Habis susah pasti datang senang. Dan untuk
mendapatkan kesenangan itu, kita manusia wajib berusaha. Dan dengan berusaha,
kita manusia pasti akan dapat memakmurkan dan memuliakan kehidupan rakyat lahir
dan batin. Dan kalau Saudara-Saudara sudah mengetahui kewajiban berusaha itu,
maka Saudara-Saudara akan bisa membantu kemajuan tiap-tiap zamannya.

"Zaman serba susah sekarang ini memang sudah kodrat, tetapi kodrat juga sudah
mendatangkan benih-benih yang akhirnya pasti mendatangkan keselamatan pada
manusia. Kehidupan yang susah menimbulkan niat manusia untuk berusaha
memperbaiki kehidupannya itu. Dan usaha manusia yang disebabkan oleh
kesusahannya supaya bisa mendapatkan kesenangan. Usaha manusia itu sendirilah
yang menumbuhkan benih-benih kesenangan yang akan memuliakan lagi manusia di
akhir zamannya. Bagaimanakah manusia berusaha untuk memperbaiki hal itu? Di sini
akan saya terangkan sedikit.

"Tadi saya sudah terangkan bahwa dalam urusan lahir, perkara harta benda, ada
golongan manusia yang sekarang ini menguasai. Yakni kaum yang bermodal yang
mempunyai pabrik-pabrik, spoor, bank-bank, toko-toko, uang dan sebagainya. Kaum
ini jumlahnya sangat sedikit sekali ketimbang jumlahnya kaum buruh. Tetapi kaum
yang bermodal, saudagar-saudagar besar itu, pada zaman sekarang ini sedang
menang dan berkuasa. Mereka pintar dan kuat sebab mereka bersatu antar sesarma
golongannya buat bersama-sama menumpuk kekayaan. Sebagai golongan saudagar,
sudah barang tentu mereka bermaksud terus mencari keuntungan. Begitulah, karena
mereka mempunyai kepintaran dan kekuasaan, mereka mempergunakannya untuk
mendapatkan keuntungan bagi golongannya. Banyak di antara mereka yang memiliki
sifat adil dan berperkemanusiaan yang baik. Tetapi sebagai golongan saudagar,
mereka 'wajib' mencari keuntungan. Jadi, karena konsekuensi dari maksud berusaha
atau dagang dan bukan karena maksud jahat, maka terpaksa mereka mencari
keuntungan itu. Sekarang hendak ditanyakan, dari mana mereka dapat menarik
keuntungan itu?

"Sudah tentu keuntungan itu didapat dari pabrik-pabrik atau usaha perdagangan
mereka atau perusahaan di mana kaum buruh bekerja di situ. Dan juga dari adanya
trust atau syndikaat dari konsumen yang membeli. Jadi mereka mendapatkan
keuntungan itu dari pekerjaan para kaum buruh serta dari rakyat yang menjadi
konsumennya. Begitulah, kaum bermodal yang berkuasa sangat gigih dalam
berusaha, berdasarkan kepintaran serta kerukunan antar kaumnya. Maka mereka lalu
bisa menarik keuntungan dari rakyat konsumen dan kaum buruh yang bekerja.

"Sebaliknya, di mana ada keuntungan, di lain pihak pasti ada kerugian. Karena
kaum bermodal yang mendapatkan keuntungan, maka yang merugi adalah kaum buruh
serta rakyat konsumen. Dengan demikian, golongan ini kehidupannya menjadi susah
sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Jadi nyatalah dalam urusan lahiriah, kaum
bermodal sekarang ini memang pintar, kuat, dan berkuasa meskipun jumlahnya hanya
sedikit. Mereka dalam persaingan memperebutkan kebutuhan, memusuhi kaum buruh
yang jumlahnya banyak itu dan menang. Apa sebabnya mereka bisa menang? Karena
mereka berkuasa. Yang pintar, kuat dan berkuasa, tentulah yang menang. Di
sinilah rahasia kodrat atau jalannya usaha yang penting untuk kaum buruh dan
rakyat. Pintar, kuat dan berkuasa, selamanya pastilah menang!

"Tadi sudah saya terangkan bahwa kaum buruh tambah lama makin banyak jumlahnya,
sedang rakyat makin lama juga makin pintar. Mereka dipintarkan oleh kaum
bermodal. Sebab ingin mempunyai pegawai yang pintar menulis, menghitung dan
sebagainya, mereka terpaksa membantu berdirinya sekolahan-sekolahan. Yang kedua,
rakyat mendapatkan kepintaran karena kehidupan yang melarat itu, memperkeras
usahanya. Di sini kaum bermodal dipaksa oleh perusahaannya sendiri supaya
memberi senjata kepada kaum buruh dan rakyat untuk memperjuangkan maksud
masing-masing. Artinya telah tumbuh benih zaman baru.

"Sebab kepintaran kaum buruh dan rakyat selalu bertambah, maka mereka berusaha
supaya dapat memenangkan dalam persaingan perebutan rezeki atau hasil duniawi.
Yaitu berebut memusuhi kaum bermodal. Ini juga telah sesuai dengan zaman atau
kodrat, jadi nyata juga adilnya.

"Bagaimana kaum buruh dan rakyat bisa menang ialah dengan jalan mencari
kekuatan dan kekuasaan juga. Dengan kepintaran, kekuasaan dan kekuatan, itulah
mereka mendapatkan jalan kemenangan. Bagaimana mereka bisa kuat dan berkuasa
yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan. Begitulah, maka
perkumpulan-perkumpulan di tanah Hindia sekarang ini ada banyak jumlahnya,
karena memang sudah tuntutan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Dengan pendek
kata, memang sudah merupakan tuntutan zaman.

"Karena itu, ada perkumpuIan-perkumpulan yang sangat adil dan tidak bisa
dihalang-halangi atau dibunuh oleh siapa pun juga manusianya. Sebab, manusia
yang mau membunuh mati perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman, boleh
dikatakan mau membalik jalannya matahari. Hal yang memang sungguh mustahil
dilakukan. Memang bisa juga di sana-sini sebuah perkumpulan mengalami kemunduran
sementara waktu, atau boleh diumpamakan sedang sakit atau pingsan, tetapi
umumnya perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman kemajuan, setiap langkah
akan maju terus selangkah demi selangkah tanpa henti. Segala rintangan justru
semakin menambah pintar mereka untuk terus maju.

"Tetapi patut diketahui betul-betul maksud dan tujuan perkumpulan kita. Maka
perlulah di sini saya menerangkan terlebih dahulu bahwa dalam hal perkumpulan
kaum buruh dan rakyat ada tiga caranya.

"Jalan yang pertama, rakyat mesti rukun bersatu bersama-sama berusaha atau
berdagang sendiri, yaitu dengan jalan mendirikan koperasi. Dengan mengumpulkan
uang maka mereka harus mendirikan toko-toko sendiri untuk berjual beli
barang-barang kebutuhan sendiri. Rakyat lalu tidak mau membeli di lain tempat
selain di tokonya sendiri. Tidak mau menjual kepada saudagar lain, kecuali pada
tokonya sendiri itu. Maka dengan jalan seperti itu, keuntungan bisa masuk ke
dalam tokonya sendiri itu atau dalam perusahaannya sendiri. Dan dengan bersatu
mereka saban waktu bisa membagi secara adil keuntungannya mereka sendiri itu.
Artinya keuntungannya bisa dibagi dengan adil di antara rakyat konsumennya atau
pelanggannya dengan penjualnya pada toko atau perusahaan koperasi itu. Dengan
cara berusaha semacam ini, keuntungan toko atau perusahaan, kaum bermodal itu
lalu menjadi berkurang, akhirnya hilang sama sekali sebab pindah ke tangan
rakyat. Sesungguhnya, jalan berusaha seperti koperasi ini memang sangat halus,
tetapi amat lama berhasilnya dan sering mati di tengah jalan, kalau yang
memimpin dan yang dipimpin tidak setia dan telaten dengan sungguh-sungguh. Kita
harus tidak lupa bahwa kaum bermodal, memang sangat pintar membunuh toko-toko
dan perusahaan rakyat yang modalnya cuma sedikit itu. Meskipun begitu, rakyat
harus wajib berusaha terus-menerus mendirikan koperasi. Itulah sebabnya di sini
perlu dipilih pimpinan dari orang-orang yang paling pintar, terbaik dan paling
setia sendiri. Sebab kalau tidak begitu, akhirnya koperasi itu akan sakit dari
dalam dan mati juga. Dari itu, bukan sembarang orang boleh dijadikan
pemimpin-pemimpin atau pengurus koperasi." ("Betu1!" kata vergadering dengan
sorak sorai).

"Mengingat beratnya jalan yang pertama maka ada cara lain yang harus dijalani
oleh rakyat dengan melalui jalan yang kedua yaitu perkumpulan pekerja atau
bersatu dalam vakbond. Di sini para rakyat yang menjadi kaum buruh bersatu
dengan sesama buruh yang sesuai dengan golongan pekerjaannya masing-masing.
Seperti yang bekerja di perusahaan spoor bersatu dalam vakbondpegawai spoor yang
bekerja sebagai letter-zetter bersatu dalam vakbond-letter-zetter-drukker dan
sebagainya. Dengan berkumpul sesuai dengan jenis pekerjaannya itu maka kaum
buruh dapat merebut kekuatan dan kekuasaan para kaum bermodal atau yang
mempunyai spoor, drukerij dan sebagainya. Begitulah, kaum yang bermodal, yang
memberi pekerjaan pada kaum buruh mendapatkan imbangan dengan vakbond-vabond.
Sebab dengan bersatu dalam vakbond-vakbond itu kaum buruh lalu bisa berkuasa
meneruskan jalannya pekerjaan atau perusahaan, juga bisa berkuasa bersama-sama
untuk menghentikan jalannya perusahaan itu. Meski yang memberi pekerjaan juga
berkuasa berbuat serupa itu. Adapun jika hanya yang memberi pekerjaan yang
berkuasa berbuat serupa itu, sedang kaum buruh tidak, tentulah kaum priyayi atau
kaum yang pemberi kerja (yang bermodal) lalu berkuasa sendiri dan bertindak
sewenang-senang, memerintah dan membayar si buruh. Sehingga si pemberi kerja
bisa menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dari kerja kaum buruh. Kaum buruh
pun kehidupannya bertambah miskin terus-menerus. Oleh karena itu, cara yang
kedua atau jalan vakbond-vakbondsangat perlu dan penting sekali bagi rakyat yang
menjadi buruh. Karena kaum buruh lalu bisa memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk
mengimbangi kekuasaan kaum pemberi kerja. Dengan perimbangan kekuasaan
sedemikian maka kaum buruh bisa meminta perbaikan gaji dan lamanya jam kerja
dalam sehari-harinya. Meminta supaya jangan bekerja terlalu lama sehingga
menyebabkan tubuh lekas hancur. Meminta supaya pekerjaannya dihargai dan jangan
mereka dipecat dengan mudah seperti barang yang tak bernyawa. Jadi kaum buruh
lalu berkuasa merebut keuntungan perusahaan serta lalu bisa memperbaiki
kehidupannya. Inilah usaha yang adil dan sangat baik, jadi mustinya bisa
dijalankan dan sesuai dengan maksud serta tujuannya. ("Betul, mufakat!" kata
vergadering dengan tepuk tangan yang ramai!).

"Di sini saya sudah menerangkan dengan singkat dua jalan dan tinggal menerangkan
jalan yang ketiga, yaitu pergerakan politik namanya. Arti politik yaitu
'mengurus dan mengatur negeri' atau 'turut berbuat' ataupun juga 'berusaha turut
berbuat begitu'. Apa sebabnya rakyat dan kaum buruh harus mempunyai perkumpulan
politik?

"Tadi saya sudah menerangkan bahwa negeri ini bertambah ramai, aturan
pemerintahan lalu bertambah ruwet, hal yang mana sering membikin salah
pengertian pada rakyat. Sedang keadaan di sana-sini berubah-ubah dan
berbeda-beda. Sehingga banyak aturan negeri yang perlu diperbaiki supaya sesuai
dengan keadaan dan keperluan rakyat banyak. Gupermen sungguh repot mengatur
hal-hal yang demikian ini sendirian, jika rakyat tidak turut campur tangan. Dan
rakyat tambah lama tambah pintar juga jadi ingin turut campur tangan mengurus
dan mengatur negerinya sendiri. Oleh karena hal-hal ini, rakyat seharusnya ikut
campur tangan dalam mengurus dan mengatur negerinya. Jadi, semua aturan dan
urusan pemerintahan negeri mestinya diselenggarakan melalui mufakat terlebih
dahulu dengan rakyat. Untuk hal itu maka perlu dibentuk perkumpulan rakyat.
Yaitu sebagian dari orang-orang yang dipilih harus mengurus desa dan bertempat
tinggal di situ juga. Dan ada juga yang mengurus sebuah afdeeling serta mengurus
seantero negeri Hindia dan lain-lain. Mereka boleh dinamakan 'wakil rakyat
pembikin wet'. Sebab mereka harus dipilih oleh rakyat dan mengatur negeri
dengan wet yang sesuai dengan keperluan rakyat. Apa sebabnya sekarang rakyat
harus turut mengatur, mengurus dan memerintah negerinya? Tadi saya sudah bilang
bahwa ada orang yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai anaknya Gupermen
Belanda. Tetapi golongan kaum yang bermodal, yang kaya-kaya itu juga anaknya
Gupermen Belanda. Jika dua anak itu berebutan hasil dunia atau rezeki, siapakah
yang akan dibantu oleh ayahnya? Sudah barang tentu anak yang sudah pintar dan
sudah besar. Sebab ada pepatah mengatakan 'saudara muda mesti menurut kepada
yang tua'. Jadi semakin pintar dan kuat saja kaum bermodal itu dan tambah menang
juga pengaruhnya terhadap semua aturan negeri. Karena pengaruhnya yang besar itu
dapat menyusahkan peraturan negeri yang sesuai dengan koperasi dan vakbondatau
jalan usaha yang pertama dan kedua tersebut. Ya, dengan pengaruh kaum bermodal
dalam pemerintahan negeri maka keperluan rakyat mudah dikalahkan, sehingga akan
terus-menerus menjadi celaka. Oleh karena itu, pihak rakyat harus ikut bergerak
dalam politik juga. Selain dari itu, rakyat yang semakin pintar, ada juga yang
memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai muridnya Gupermen Belanda. Dan kalau
rakyat itu atau anak itu atau murid itu sudah cukup kepandaiannya serta
kekuatannya, tentulah orangtua atau guru mau melepaskan anak atau muridnya itu.
Itu artinya rakyat Hindia lalu diperkenankan untuk berkuasa memerintah negerinya
sendiri. Dan merdekalah Hindia ini. Kapan bisa merdeka? Na, itu tergantung dari
niat anak atau murid yang belajar. Jadi kalau tekun belajarnya dan terus
berusaha mendapatkan kepintaran dan kekuatan mengurus negerinya itu, maka suatu
waktu atau zamannya bisa dipercepat, dan cepat juga kita dipandang cukup untuk
memerintah negeri dan hidup kita sendiri ("Betul-betul,"kata vergadering dengan
sorak-sorai yang riuh dan damai).

"Adapun tempat belajar itu, ialah dalam pergerakan perkumpulan politik!
("Cocok," sambut vergadering lagi dengan gembira).

" Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan tiga cara berusaha rakyat.
Adapun kalau rakyat dalam tiga jalan itu, betul-betul sudah pintar, kuat dan
berkuasa dan kalau kaum yang bermodal yang kaya-kaya itu masih selalu menarik
keuntungan dari rakyat, nah, di situ wajiblah kita berusaha supaya cita-cita
pergerakan kita berhasil.

"Komunisme itu ialah ilmu mengatur pergaulan hidup supaya dalam pergaulan hidup
itu orang-orang jangan ada yang bisa memeras satu sama lainnya. Ilmu itu mau
menghilangkan bentuk perdagangan biasa seperti yang ada sekarang ini. Jadi,
modal saudagar-saudagar yang ada sekarang ini, seperti pabrik-pabrik,
kereta-kereta api, kapal-kapal, gudang-gudang dan lain-lain, semua itu supaya
dijalankan oleh rakyat sendiri tidak lagi oleh para saudagar-saudagar itu. Untuk
keperluan itu, umpamanya mesti diatur dengan cara begini:

(1) Kaum buruh harus bekerja di pabrik-pabrik dan tanah-tanah serta
menghasilkan kain, lena lawon, kopi, teh, gula dan sebagainya;

(2) Kaum petani harus bekerja di sawah-sawah untuk menghasilkan beras, ketela,
padi dan sebagainya;

(3) Hasil kaum buruh dan kaum tani itu lantas dimasukkan dalam gudang-gudang
umum atau gudang-gudang rakyat.

(4) Kalau ada keperluan untuk menukar hasil yang dengan hasil yang lain,
diadakan tukar-menukar, sehingga ini lalu ada;

(5) Kaum buruh yang harus bekerja di kereta api, tram, kapal, pos, telegram dan
sebagainya. Sudah tentu kereta api, tram dan lain-lain itu masih dinaiki orang
juga. (Vergadering tertawa);

(6) Supaya tukar-menukar ini bisa adil, kaum buruh dan kaum tani mengadakan
majelis-majelis yang tiap ada perlu atau tiap bulan atau tahun menyelenggarakan
rembugan atau vergadering-vergaderinguntuk memberi makan dan pakaian sampai
cukup kepada semua buruh dan tani yang bekerja di situ, juga yang sakit, yang
belum bisa kerja atau masih anak-anak atau yang sudah tidak bisa kerja atau
sudah tua;

(7) Majelis-majelis itu juga harus memutuskan apa yang mesti diproduksi atau
ditanam, misalnya kalau di gudang umum kebanyakan korek api, tidak habis untuk
keperluan rakyat, pabrik korek api itu lalu ditutup dan buruh yang bekerja di
situ pindah untuk kerja membikin rumah-rumah. Kalau kebanyakan beras, tidak
habis dimakan sehingga bisa rusak, lalu orang-orang tani tidak menanam padi,
tetapi menanam tembakau. Begitu seterusnya.

"Hal-hal ini harus diputuskan oleh majelis-majelis di atas. Jadi tidak seperti
sekarang, rakyat kekurangan beras, tetapi para saudagar tetap menanam tebu untuk
gula, asal saudagar itu dapat untung banyak. Mereka tidak peduli dengan
keperluan hidup orang senegeri sendiri.

(8) Majelis-majelis itu umpamanya diatur begini:

a. Di tiap-tiap desa didirikan satu majelis yang setiap mau ada vergadering,
utusan-utusannya atau tetua-tetuanya semua berasal dari desa itu dan dipilih
oleh para petani dan buruh di desa itu juga. Di vergadering yang mempunyai hak
suara hanya utusan-utusannya, tetapi rakyat sedesa harus diizinkan boleh melihat
dan mendengarkan, agar utusan-utusan itu tidak berbicara semaunya sendiri,
tetapi memperhatikan keperluan hidup orang sedesa. Sehabis membuat keputusan,
maka majelis itu bubar dan utusannya lalu bekerja lagi seperti biasa.

b. Di pabrik-pabrik para buruh itu mendirikan Majelis Pabrik dengan aturan
seperti butir a.

c. Di kapal-kapal, spoor dan tram, tiap-tiap vaknya umpamanya seperti itu juga.

d. Mejelis-Majelis Desa, majelis-majelis pabrik, majelis-majelis spoor dan
sebagainya ini lalu tiap atau perlu ada tiga bulan sekali, umpamanya, mengirim
utusan-utusan untuk mengadakan vergadering di kota-kota terdekat. Mereka
mengadakan vergadering dan memutuskan apa yang mesti dikerjakan semua orang, apa
yang mesti ditukar-tukarkan dan sebagainya. Vergadering-nya utusan desa, pabrik
dan lain-lain ini boleh dikatakan sebagai 'Majelis Kota'.

e. Majelis-Majelis Kota sewilayah tiap bulan, umpamanya dan kalau ada perlunya
mengirim utusan-utusan untuk pergi ke ibukota negeri. Dan di situ utusan-utusan
tadi mengadakan vergadering untuk memutuskan aturan-aturan besar bagi keperluan
hidup kaum buruh dan tani senegeri. Majelis ini boleh dikatakan Majelis Negeri.

f. Semua utusan dari semua majelis-majelis ini kalau sudah pulang harus
menerangkan pada semua orang apa yang sudah diputuskan dalam Majelis Negeri.
Keputusan Majelis Kota, tidak boleh melanggar keputusan Majelis Negeri, sebab
Majelis Negeri sifatnya lebih tinggi dan umum. Keputusan Majelis Desa dan
Majelis Pabrik tidak boleh melanggar keputusan Majelis Kota dan Majelis Negeri
sebagai yang lebih besar dan umum. Kalau keputusan-keputusan itu sudah
diumumkan, maka harus diikuti dan dikerjakan oleh orang senegeri dan semua
utusannya harus ikut bekerja lagi sebagai buruh atau tani seperti biasa. Semua
vergadering majelis-majelis harus ada "oppen baar" (bersifat terbuka) di mana
rakyat boleh melihat dan mendengarkan sesukanya.

g. Majelis-majelis ini tiap satu tahun sekali umpamanya harus memilih bestuur
harian seperti presiden, komisaris dan sebagainya. Kalau ada presiden atau
komisaris yang berbuat susuka hatinya, harus dilepaskan oleh majelis dan diganti
yang baru.

h. Untuk tingkat desa, bestuur harian ini cukup tiga orang saja umpamanya,
sedangkan di kota boleh sembilan atau lima belas atau dua puluh lima.

i. Komisaris-komisaris Majelis Negeri itu mendapat bagian pekerjaan, umpamanya
menjadi presiden spoor dan tram senegeri, presiden pertanian satu komisaris dan
presiden sekolahan satu komisaris. Begitu seterusnya.

j. Kalau ada orang jahat lalu dihukum oleh Majelis Hukum yang terdiri dari lima
orang umpamanya dan kelima orang itu dipilih orang sedesa atau sepabrik. Dan di
kota ada Majelis Hukum Kota umpamanya. Dan Majelis Hukum Negeri dipilih oleh
Majelis Negeri. Orang-orang yang dipilih sebagai Majelis Hukum boleh mengadakan
kunjungan ke Majelis Hukum Kota atau Majelis Hukum Negeri.

Gambar majelis-majelis itu umpamanya begini:

Bab4pic

"Di atas ini, model a sampai j ialah rancangan dari peraturan pergaulan hidup
yang berdasarkan ilmu Komunis. Jadi tidak ada lagi pedagang, priyayi, atau
amtenar, pajak dan sebagainya.

"Semua rakyat jadi lantas bisa mengatur sendiri pekerjaannya, hidupnya dan
sebagainya. Dan orang-orang yang memeras dan menindas lalu juga menjadi hilang.

"Sudah tentu saja, keterangan di atas itu hanya rancangan singkat sebab
sesungguhnya di kemudian hari akan lebih baik dan lebih lebar lagi.

"Aturan dagang dengan negeri lain diputuskan oleh Majelis Negeri. Jadi, tidak
ada orang atau pedagang yang bisa berdagang semau-maunya sendiri dengan
negeri-negeri lain.

"Jadi, aturan pergaulan hidup yang berdasarkan paham komunis ada perbedaan besar
dengan aturan sekarang ini yang kita sebut sebagai aturan hidup kapitalis. Ya,
malahan boleh dikatakan kebalikannya. Sebab itu komunisme dikatakan revolusioner
dan membalik-balikkan keadaan.

"Pemerintah di Hindia sekarang ini bisa membikin aturan pergaulan hidup
berdasarkan paham seperti ini kalau ia mau.

"Sudah barang tentu, aturan ini tidak lantas bisa diterapkan besok pagi di
Hindia, tetapi harus diusahakan. Dan kalau usaha yang bertahun-tahun itu sudah
masak lantas akan datang sendiri di kemudian hari.

"Orang-orang yang tergerak hatinya untuk berusaha mewujudkan aturan pergaulan
hidup seperti komunisme itu maka disebut sebagai orang komunis.

"Vakbond-Vakbond yang baru mau berusaha seperti itu. Tetapi vakbond-vakbond yang
kuno dan vakbond buruhtinggi tidak mau. Sebab vakbond-vakbonditu
anggota-anggotanya sudah hidup senang dan mereka telah senang dibayar lebih
tinggi oleh kaum kapitalis untuk ikut menindas dan memeras kaum buruh rendah
atau kecil. Dia adalah orang-orang kapitalis dan lupa pada orang-orang kecil.
Itulah sebabnya mereka tidak suka dengan urusan politik. Mereka tidak suka
berusaha untuk mengadakan perubahan peraturan negeri.

"Begitulah, maka artinya di seantero Hindia ini tidak akan ada lagi kelaparan
dan kesusahan lahir. Dengan demikian, perbaikan batin tidak bisa dihambat lagi
oleh kemiskinan. Semua orang di sini lalu hidup cukup dan selamat serta
mendapatkan peralatan lahir untuk menjalankan ajaran agama, jadi bisa
memperbaiki batiniah. Pencuri, perampok dan sebagainya lalu tidak ada. Sebab
sudah baiknya kehidupan batiniah manusia. Dan semua manusia lalu hidup rukun
bersama-sama menuju pengetahuan kebaikan, mencapai surga di dunia dan di
akhirat. Inilah keadaan zaman akhir yang bentuknya masih baru dapat
dibayang-bayangkan saja.

"Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan jalannya kepastian dari zaman
dahulu hingga zaman sekarang dan akhir zaman. ("Betul! Semua! Mengerti!
Mufakat!" kata suara-suara ramai dari vergadering).

"Kalau manusia sudah mengetahui jalannya kepastian zaman, maka kita wajib
mengikuti laku dan kehendak zaman itu, agar kita, anak dan cucu kita semua
manusia bisa hidup mulia. Terutama di akhirnya. Oleh karena sekarang kita ada di
zaman serba susah maka kita harus selalu maju untuk menyongsong datangnya zaman
senang, yaitu zaman Komunisme yang akhir. Sekarang ini kita mesti menanam dan
memelihara benih-benih zaman akhir itu. Sebab kita harus tahu bahwa benih-benih
itu akan menjadi pohon-pohon atau zaman baru yang buahnya amat lezat rasanya
bagi kita atau anak cucu kita. Itulah kewajiban kita, wajib karena kodrat. Jadi,
sesuai dengan wet perjalanan zaman Tuhan Allah. Oleh karena itu, perkurnpulan
P.K. kita semua ini mempunyai maksud tidak lain supaya rakyat bisa lekas pintar
dan kuat untuk mengikuti aturan zaman. Dengan berkumpul, kita bisa
ber-vergadering dan bermusyawarah tentang segala hal. Lalu kita bisa
mengumpulkan uang secara bersama-sama untuk modal permusyawarahan itu. Kita lalu
bisa mengumpulkan modal untuk mendirikan surat kabar yang menambah kepandaian
rakyat yang membacanya. Di dalam surat kabar itu kita bisa mufakatkan tentang
bermacam-macam hal keperluan rakyat. Serta di dalam vergadering, surat kabar
kita dan perkumpulan-perkumpulan, maka kita lalu bisa hidup rukun berusaha
bersama-sama guna memperbaiki kehidupan rakyat kita serta menyongsong datangnya
zaman senang di akhir nanti. Perkumpulan akan membawa kita hidup rukun, kuat
serta kuasa untuk mencari hal-hal bagi keselamatan hidup kita. Itulah sebabnya,
sekarang ada perkumpulan P.K. yang sesuai dengan kodrat zaman. Perkumpulan P.K.
akan membantu rakyat Hindia melalui jalan usaha koperasi, vakbond dan akan
melalui jalan usaha politik untuk membantu keperluan rakyat atau orang banyak.
("Betul. Baik" kata vergadering dengan riuh dan bertepuk tangan sangat ramai).

"Mengingat tujuannya tadi sudah saya terangkan, maka nyatalah bahwa tujuan
perkumpulan ini sangat baik sekali untuk semua rakyat Hindia semua bangsa: Jawa,
Ambon, Belanda, Arab, Tionghoa dan sebagainya. Dan juga sangat baik bagi semua
orang yang beragama apa saja, seperti Kristen, Islam, Buddha dan sebagainya.
Mereka semua manusia, sedang perkumpulan kita bermaksud memuliakan semua manusia
yaitu maju sesuai dengan jalannya kodrat. Jadi di sini saya sudah membuktikan
bahwa perkumpulan P.K. sangat baik untuk semua bangsa dan semua agama.

"Karena itu, wahai rakyat dan penduduk Hindia, lekaslah kuatkan dan bantulah
perkumpulan kita ini. Lekaslah menjadi anggotanya. Yang terpelajar, lekaslah
berusaha memimpin, yang masih bodoh-bouoh dengan berusaha supaya dipilih oleh
orang banyak menjadi pemimpin. Bantulah pergerakan kita melalui surat kabar kita
dan dalam. ("Mufakat. Betul," kata vergadering dengan merdu-merdu, ramainya).

"Tuan-Tuan bangsa Belanda yang adil, Tuan-Tuan segala bangsa dan segala agama.
Bantulah perkumpulan kita supava kita semua bangsa dan semua agama bersaudara
dengan baik. ("Bravo. Baik Begitu!" kata suara ramai yang amat gembira dari
vergadering dan dibarengi oleh tepuk tangan yang riuh dan lama).

Sampai di sini maka Tuan Tjitro berhenti berpidato. Presiden lalu memperkenankan
semua orang yang mempunyai pendapat lain untuk bertanya atau mendebat. La1u
majulah Kyai Noeridin, guru dari Pesantren Sendang dan berkata: "Saya ada
pikiran lain dengan Tuan Tjitro, kalau benar semua yang tadi ia katakan, maka
pergerakan P.K. mau memakmurkan manusia dalam urusan lahir, yakni dalam hal
duniawi atau harta benda dunia, dalam pikiran saya, hal itu justru sangat
berbahaya bagi manusia. Karena urusan batin atau masalah agama serta
kepercayaan kepada Gusti Allah lalu menjadi rusak. Sebab manusia lalu hanya
memperhatikan urusan lahir lebih dahulu. Untuk memperbaiki akal budi manusia,
maka yang pertama-tama harus diutamakan urusan batin terlebih dahulu. Jadi nomor
satu haruslah agama dimasukkan dalam hati sanubari manusia. Karena masuknya
agama ke dalam jiwanya, manusia akan dengan sendirinya menjadi baik dan bersih.
Maka tentulah akal budi dan urusan lahiriah akan menjadi baik dengan sendirinya.
Oleh karena itu, saya sepakat bila semua pemuda harus dibikin alim dahulu di
langgar dan pesantren, di mana semua guru agama akan bisa menunjukkan jalan bagi
kebaikan batin, agar supaya bisa mulia lahir dan batin. Dalam hal ini, saya
memandang kurang perlu adanya pergerakan ini." (Sebagiandari vergadering
sepakatdanbersorak-sorak).

Sampai di situ, maka Tuan Edelhart yang terkenal sebagai penolong orang-orang
desa yang miskin maju dan berkata: "Kalau saya tidak salah mengerti, maka Tuan
Tjitro mengajak rakyat bergerak supaya tanah Hindia merdeka dan terlepas dari
pemerintahan Belanda. Hal itu saya tidak sepakat, karena sekarang ini rakyat di
Hindia belum siap untuk mengurusi negerinya sendiri. Umpamanya besok pagi
Gupermen Belanda pulang ke negerinya, maka Bumiputera pasti akan kalang kabut
dan bangsa-bangsa lain seperti Jepang, Inggris dan lain-lain tentu akan datang
dan menaklukkan tanah Hindia. Sehingga tanah Hindia tidak untung apa-apa dan
hanya berganti pembesar bangsa lain saja." (Banyak yang bersorak karena
sepakat).

Tuan Mangoentjokro, Asisten Wedono Bulu Rejo yang sudah pensiun, ikut mendebat
pula dan berkata: "Tadi Tuan Tjitro sudah menerangkan apa sebab-sebabnya
Bumiputera sekarang ini serba susah dan hidup melarat, tetapi menurut hemat
saya, melaratnya rakyat itu karena salahnya sendiri. Sebab mereka tidak
menghargai uang dan tidak menyimpan uangnya." (Separo vergadering menyatakan
sepakat dengan bertepuk tangan).

Sekarang Haji Mamirah berdiri dan berkata: "Sepanjang pikiran saya, maka rakyat
memang mempunyai kesalahan sendiri. Hidup mereka bertambah susah sebab mereka
suka membeli barang-barang dari luar negeri sedang tanah Hindia bisa rnembikin
kain-kain tenun, pakaian dan sebagainya. Karena itu, untuk memakmurkan kehidupan
rakyat, nomor satu hendaknya dihidupkan juga pekerjaan-pekerjaan yang
dahulu-dahulu, seperti menenun, membatik dan sebagainya." (Banyak yang bertepuk
tangan sebab sepakat)

Lalu ada seorang pemuda bernama Tuan Soebono, ikut membantah dan berkata: "Saya
melawan keras pendapat Tuan Tjitro. Tuan Tjitro adalah seorang yang jahat dan
penjual bangsa. Begitupun perkumpulan P.K. ini sangat jahat sekali. Karena di
situ mau dihidupkan paham P.K., sedang paham itu bersifat internasional. Artinya
mencintai semua bangsa dan tidak memakmurkan bangsa kita sendiri. Paham P.K. ini
jelas-jelas mau mengadu rakyat bumiputera yang miskin dcngan yang kaya, supaya
bangsa kita terpecah-belah dan tidak bisa kuat. Itulah jahatnya paham ini untuk
kita bangsa Jawa." (Separoh vergadering bersorak dan bertepuk tangan).

Sampai di sinilah perdebatan itu berlangsung. Dalam verslaghanya diambil intinya
saja. Karena tidak ada yang mendebat lagi, maka Presiden lalu berdiri dan
menjelaskan bahwa Tuan Tjitro siap menjawab semua yang tuan-tuan telah tanyakan.
Adapun jawaban Tuan Tjitro adalah sebagai berikut.

"Saudara-saudara vergadering yang terhormat, sesungguhnya saya sangat senang
hati bahwa dari lima Tuan yang mendebat. Dengan perdebatan semacam ini, maka
urusan kita lalu bisa semakin terang lagi serta sangat baik bagi untuk
menjelaskan maksud dan tujuan P.K. Sekarang saya mau menjawab Kyai Noerdin lebih
dahulu. Tadi saya sudah menerangkan bahwa kita mengusahakan perbaikan lahir,
supaya perbaikan batin tidak tergoda oleh kesusahan lahir. Siapa bisa mengirim
pemuda ke pesantren kalau orang tuanya itu miskin? Karena kehidupannya susah,
jadi manusia hanya sibuk menggunakan waktunya untuk mencari makan. Sehingga
banyak yang lupa pada urusan batiniah. Jadi bukan usaha perbaikan duniawi yang
merusak urusan batiniah. Tetapi rusaknya masalah lahiriah yang sering merusakkan
masalah batiniah. Karena itu, maksud dari perkumpulan kita hendak mencapai
dua-duanya. Berusaha memperbaiki lahir supaya juga bisa memperbaiki masalah
batin. Jadi mau memperbaiki keadaan lahir-batin manusia.

"Selain itu, manusia atau rakyat, kita ajak untuk hidup rukun menjadi satu
supaya bisa secara bersama-sama memperbaiki keperluan kita semua secara
bersama-sama pula. Nah, apakah ini bukan pekerjaan yang berdasarkan perbaikan
batin? Memang kalau tiap-tiap orang hanya mencari hal-hal yang duniawi saja,
tentu ia lalu sering rusak batinnya. Tetapi kalau bersama-sama secara rukun
bersatu memperbaiki semua kebutuhan dunia, jadi tidak mementingkan keperluan
sendiri dan hanya demi kepentingan orang banyak dengan jalan rukun, maka di sini
hanya dengan jalan rukun bersatu saja pun sudah pasti akan memperbaiki batin.
Sehingga hati atau manusia akan bergerak berbarengan menjadi baik. Jadi nyatalah
bahwa kumpulan P.K. akan memperbaiki rakyat Hindia secara lahir dan batin.
"(Sepakat, kata semua orang dengan bergembira).

"Saya berterima kasih kepada Tuan Edelhart, bahwa ia sebagai orang Belanda mau
memberi pertimbangan dalam vergadering kali ini. Saya mengerti, Tuan Edelhart
berniat baik dengan peringatan itu, supaya kita jangan kesusu atau tergesa-gesa.
Oleh karena itu, saya tidak marah kita dikatakan belum siap. Memang, Tuan
Edelhart, sungguh akan kalang kabut kalau pemerintah Belanda besok pagi menarik
diri tanpa mengatur dengan baik urusan yang ditinggalkan untuk kita. Atau
jelasnya, kalau tidak mengoperkan pemerintahan itu tanpa aturan, tetapi hanya
pergi begitu saja. Begitu pula, saya tadi tidak berkata bahwa saya besok pagi
meminta merdeka, tetapi saya sudah menerangkan bahwa ketentuan zaman akan
memerdekakan Hindia dengan sendirinya. Rakyat pada akhirnya melalui berbagai
cara itu, akan pintar mengurus negeri Hindia Merdeka. Selain itu, pemerintah
Belanda tentu tidak mempunyai niatan besok pagi menarik diri dari sini. Tetapi
menunggu kalau rakyat sudah pintar dan kuat. Hal ini hanya rakyat Hindia sendiri
yang wajib dan bisa mengusahakannya yaitu dengan cara berkumpul bersatu dalam
P.K. Oleh karena itu, tadi saya sudah bilang bahwa ada yang mengumpamakan kita
sebagai anak atau muridnya negeri Belanda. Kalau kita sebagai anak atau murid
setia belajarnya, maka kita lekas menjadi pintar dan besar. Dan pada saat itu
anak-anak akan diberi kemerdekaan untuk mengurus negerinya sendiri. Tepatnya
belajar politik dan sebaiknya dalam pergerakan P.K."

"Itu betul, dan saya sekarang mengerti dan sepakat," kata Tuan Edelhart.
Sehingga vergaderingbersorak ramai untuk menghormati Tuan Edelhart yang tegas
mengaku berterus terang.

"Menjawab Tuan Mangoentjokro, maka memang rakyat dahulunya belum pintar
menyimpan uang. Dari sebab itu, mereka tidak tahu apa yang semestinya. Maka oleh
karena itu, mereka tidak bersalah; mereka tidak sengaja menghilangkan harta
bendanya. Tetapi selain dari itu, kita harus tidak lupa, memang sudah tabiatnya
jika manusia suka meniru dan ingin seperti mereka yang dipandang umum baik.
Karena para priyayi oleh rakyat dianggap sebagai manusia yang lebih baik
ketimbang orang kecil maka rakyat kecil itu senang meniru semua halnya priyayi
tadi. Oleh karena itu, maka rakyat lalu gampang membuang uang supaya mereka
sedikitnya bisa menyamai para priyayi itu. Hal yang mana menyebabkan kesusahan
pada tingkat pertama. Sekarang sudah masuk pada tingkat itu, sehingga memang
wajib diusahakan untuk hemat dan hati-hati. Tetapi karena sekarang mereka tidak
berkuasa apa-apa dalam hal mencari kehidupan, jadi hanya tergantung pada kaum
bermodal yang hanya mencari untung maka rakyat akan terus-menerus merugi dan
hidup susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Karena itu kita semua harus
membantu perkumpulan P.K. untuk mempercepat datangnya zaman Komunisme."
("Mufakat, betul," kata suara ramai dari vergadering).

"Menjawab Tuan Haji Mamirah, maka saya tadi sudah menerangkan bahwa dahulu,
pekerjaan membikin barang-barang keperluan hidup hanya dengan tangan semata
sedangkan sekarang dengan mesin. Mesin itu memang sangat cepat pembuatannya,
hasilnya bisa sama. Meski ongkosnya lebih banyak ketimbang dengan hasil buatan
yang tidak memakai mesin. Selain itu, buatan mesin bisa lebih halus. Karena
hasil kerja mesin itu bisa lebih sempurna dan murah, tentulah dicari dan disukai
semua manusia. Sebab memang sudah jamak, manusia mencari yang sempurna dan
tersempurna lagi pula murah harganya. Itu sesuai dengan ketentuan zaman, aturan
kemajuan sehingga tidak bisa dilawan oleh kehendak manusia. Atau dengan memaksa
mereka memakai bentuk usaha yang kuno lagi, seperti menenun, membatik dan
sebagainya. Sebab tentu toh kita akan kalah dengan kemajuan mesin. Adapun harga
dan modal mesin atau pabrik memang begitu banyak dan mahal, sehingga tidak semua
rakyat bisa mendirikannya. Yang bisa hanya yang kaya dan yang sudah mempunyai
modal yang besar. Begitulah, sekarang lalu kaum bermodal yang menang, mendesak
pekerjaan tangan yang bukan buatan mesin. Kaum bermodal yang bisa menang atas
rakyat dan mereka lalu berkuasa. Hal ini tadi toh sudah saya terangkan dengan
jelas! Pendek kata, dalam zaman sekarang ini tidak ada jalan lain untuk
memuliakan kehidupan rakyat selain jalan komunisme. Sebab jalan ini adalah jalan
yang sudah sesuai dengan kodrat. Jadi semua orang wajib membantu P.K. ("Betul,
cocok," begitulah suara ramai vergaderingmenyambut jawaban Tuan Tjitro itu).

"Sekarang saya mesti menjawab Tuan Soebono. Tuan Soebono memang masih muda,
karena itu semangatnya keras sehingga marah pada saya. Ia mengatakan bahwa saya
jahat sekali dan menjual bangsa. Tetapi saya tidak sakit hati pada Tuan Soebono.
Saya hanya meminta kepada Tuan Soebono supaya memikirkan dengan sabar atas
jawaban saya ini. Tadi saya sudah memberi keterangan bahwa kumpulan kita
mengajak rakyat supaya pintar dan kuat, supaya akhirnya kita bisa mengurus
negeri kita sendiri. Nah, hal inilah sesungguhnya merupakan masalah kebangsaan.
Pasal 'internasional' dan pasal 'cinta kepada semua manusia' itu pun perlu
diajarkan supaya peperangan menjadi hilang. Dan ada perlunya supaya kaum komunis
dari lain negeri membantu tujuan P.K. memuliakan rakyat Hindia. Kita tidak
mengadu rakyat dengan kaum bermodal dari bangsanya sendiri. Tetapi kalau timbul
perlawanan serupa itu, bukan salah kita. Sebab hal itu sudah sesuai dengan
ketentuan kodrat sendiri, sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Adapun jika
bangsa bumiputera kita yang kaya, sudah tahu betul tujuan perkumpulan kita.
Tentu mereka akan dengan sendirinya mau mengalah dan sepakat dengan rakyat dalam
P.K. Sebab P.K. hendak memuliakan rakyat, penduduk seantero Hindia. Selain itu,
di manakah ada bumiputera yang mempunyai pabrik, spoor dan sebagainya, kecuali
satu dua orang dan kalau sebagian kecil ini memang dasarnya baik maka mereka
tentu membantu tujuan P.K. untuk keperluan beribu-ribu manusia. Hal itu lebih
mulia daripada mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Di sini nyatalah bahwa
bukan maksud kita memecah-belah bangsa kita. Ya, malahan justru mengajak bersatu
hati untuk keperluan bermiliun-miliun manusia. Sampai di sini dahulu." ("Betul,
sepakat," begitulah sambutan vergadering dengan bersorak-sorak dan tepuk tangan
yang sangat ramai).

Habis itu Presiden mempersilakan kepada tuan-tuan yang mendebat tadi untuk maju
lagi. Tetapi semua tidak mau ambil bicara, sebab, katanya, sudah mengerti dan
mufakat dengan Tuan Tjitro. Karena itu, jam 12 siang vergadering ditutup oleh
Tuan Residen, sedang beratus-ratus orang minta masuk menjadi anggotanya.

Sampai di situ verslag yang dibikin Kadiroen. Adapun Kadiroen sendiri sewaktu
terjadi vergadering hatinya berdebar-debar. Ia mendengar keterangan Tjitro dan
perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat cahaya bintang yang sangat
baik, menggambarkan maksud dan tujuan perkumpulan P.K. Sehabis vergadering,
Kadiroen memikirkan semua itu. Ia tidak bisa tidur. Sekarang ia tahu, mengapa
usahanya selama ini sebagai Wedono dan Wakil Patih untuk memuliakan rakyat
selalu tidak berbuah besar. Ia tahu bahwa usahanya itu adalah mengikuti cara
kuno. Sedangkan, keadaan rakyat sekarang sudah baru. Jadi, nyatalah jalan yang
diusahakannya, ketinggalan dan tidak sesuai dengan zaman lagi. Cara kuno masih
bisa berlaku di pucuk-pucuk gunung, di mana rakyatnya masih kuno dan keadaan
zamannya belum berubah. Tetapi di negeri yang sudah menginjak zaman baru, tak
bisa dipakai lagi. Memang, usaha Kadiroen bisa menaikkan pangkatnya sendiri,
tetapi buat rakyat hampir tidak berguna. Sungguh Kadiroen merasa tertarik betul
dengan gerakan P.K. itu. Tetapi ia tertarik gerakan rakyat, ia masih tertarik
oleh pangkatnya. Ia memikir, seandainya ia membantu gerakan P.K. itu, tentulah
ia harus turun. Dan menurunkan derajatnya seperti rakyat akan menghilangkan rasa
hormat rakyat kepada dirinya sebagai Wakil Patih.

Lalu rakyat memandang dirinya sebagai saudara, tidak sebagai pembesar lagi. Dan
lagi, gerakan baru itu mempunyai musuh yang banyak karena masih kebaruannya itu.
Adapun orang-orang yang tidak mengerti, mereka benci kepada P.K. Kalau Kadiroen
mencampuri gerakan itu, ia khawatir dikatakan gila oleh seteru-seteru gerakan
itu. Yang pertama dari golongan priyayi sendiri. Begitulah, maka ia terpaksa
memisahkan diri dari golongannya sendiri. Baru saja Kadiroen memikirkan hal itu
semua, maka ia menerima Surat Kabar S.H.B. milik golongan kaum yang bermodal. Di
situ Kadiroen membaca dalam ruangan "Ned 1ndische Telegramen" dalam bahasa
Belanda yang menerangkan bahwa hari kemarin di S oleh P.K. sudah digerakkan
penghasutan pada rakyat. Sedang yang berbicara opruier (tukang penghasut)-nya
adalah Tjitro. Redaksi surat kabar itu memberikan pikirannya bahwa sekarang ini
sudah saatnya sang opruier Tjitro, penjahat itu, dibuang dan diasingkan di pulau
kecil, supaya tidak bisa menghasut lagi. Kadiroen menjadi heran membaca hal itu.
Ia sudah mendengar dengan telinganya sendiri, ia melihat dengan matanya sendiri
vergadering hari kemarin itu. Dan ia tahu betul bahwa Tjitro tidak menghasut. Ia
malahan mau berbuat baik kepada semua manusia. Memang di Hindia banyak surat
kabar bukan kepunyaan rakyat, yang selalu memuat kabar-kabar bohong buat merusak
gerakan rakyat, untuk mengajak kepada para pembacanya supaya membenci
pergerakan itu, terutama pada para pemuka-pemukanya. Begitulah, racun yang
disebarkan oleh surat-surat kabar itu, sudah sering memasuki tuan-tuan yang
adil. Dan karena kerasukan racun itu, maka tuan-tuan itu lalu sering lupa pada
keadilannya. Sungguh sayang!

Kadiroen tahu hal ini, tetapi pada saat itu tambah berat buat dia untuk memilih
jalan sebab umpamanya ia membantu gerakan, tentu ia turut dapat cacian oleh
surat kabar tersebut. Sehingga ia lalu gampang kena hasutan dan mudah lepas dari
pekerjaannya. Sebaliknya, ia tertarik kepada pergerakan sebab ia ingin menolong
rakyat dengan cara sesuai zaman baru. O, manakah yang akan ia pilih?

Bersambung ke BAB V Seorang Satria (Roch dan Rah Adhi Sejati)
BAB V

Seorang Satria (Roch dan Rah Adhi Sejati)

Persdelict. Ini hari kita punya Hoofd-Redacteur dipanggil oleh tuan jaksa di
kantornya dan dibilangi bahwa tuan Asisten Residen menyuruh ia, jaksa, supaya
menanya macam-macam halnya Sinar Ra'jat pada hari kemarin dulu tanggal 12 Mei,
terutama tentang karangan yang termuat itu hari dan yang berkepala: “Diminta
sedikit lekas”, dan ditandai oleh Pentjari. Tuan jaksa selainnya menanya ha1 isi
dan maksudnya karangan tersebut, juga minta tahu namanya penulis yang
sebenarnya, sebab Pentjari ialah nama palsu. Sudah tentu kita punya
Hoofd-Redacteur tidak suka menerangkan nama sejati yang terminta itu dan
menjawab bahwa ia akan menanggung sendiri karangan itu di muka hakim pengadilan
kalau memang jadi tuntutan. Sepanjang pikirannya tuan jaksa, itu karangan mesti
menjadi perkara persdelict, sebab tuan Asisten Residen di kota G, kencang dan
keras kehendaknya memintakan hukuman buat siapa yang menjebar karangan itu.
Sudah nasibnya saudara Hofd-Redacteur ketabrak “delict”.

Begitulah bunyinya surat kabar milik organisasi P.K. yang diterbitkan tiap hari
di Kota G. Dan yang diasuh, oleh beberapa redaktur yang dikepalai oleh Pemimpin
Redaksi Sariman. Sudah tentu berita itu menimbulkan pikiran dan pembicaraan yang
sangat ramai di kalangan pembaca-pembacanya, terutama di antara kaum P.K. Dua
hari kemudian, maka di kantor redaksi dari surat kabar tersebut terjadi gegeran
yang ramai antara Pemimpin Redaksi Sariman dan penulisnya sejati.

“Tidak Saudara, sebagai pemimpin redaksi saya wajib mengoreksi betul-betul apa
dalam setiap berita pembantunya terdapat unsur delik pers atau tidak. Hari itu
saya kurang teliti membaca laporan/berita Saudara, jadi saya yang salah. Oleh
karena itu, saya akan mempertanggungjawabkan sendiri di muka hakim.”

“Saudara Sariman, betul Anda seorang pemimpin redaksi, tetapi saya tahu,
pekerjaan Saudara banyak sekali. Sehingga, satu atau dua laporan seperti laporan
saya tempo hari, Saudara tidak sempat mengoreksinya secara betul. Sebagai
pembantu, saya wajib mengingat hal-hal ini dan mestinya membikin laporan yang
lebih halus. Karena itu, saya yang bersalah dan saya meminta supaya saya
diperbolehkan mempertanggungjawabkan sendiri berita yang saya tulis itu.
Beritahukanlah nama saya yang sesungguhnya agar Saudara jangan menjadi korban
kesalahan saya yang kurang hati-hati.”

“Terima kasih banyak! Apa Saudara mengira saya akan melepaskan Saudara untuk
menjadi korban? Saya bukan penakut dan tidak mempunyai niatan untuk
mengorbankan diri Saudara.”

“Lho, aneh sekali kau ini. Saudara Sariman, saya juga bukan seorang penakut dan
sama sekali tidak punya niatan untuk mengorbankan diri Saudara untuk
mempertanggungjawabkan berita saya. Sebab saya ingat, Saudara sudah mempunyai
anak bini. Sedangkan saya belum. Karena itu, sekali lagi saya meminta dengan
sungguh-sungguh supaya nama saya yang sebenarnya diberitahukan kepada jaksa.”

“O, no. Tidak boleh! Ingatlah kepada ayah dan ibu Saudara. Mereka sebagai
pegawai Gupermen dan orangtua zaman dahulu ingin melihat anaknya, yaitu Saudara,
supaya menjadi pegawai Gupermen yang tinggi pangkatnya. Sekarang pangkat Saudara
sudah tinggi. Jadi, kalau nama Saudara sampai terbuka, maka tentu Saudara akan
mendapatkan masalah dalam kerjaan Saudara. Ya, bisa juga malahan kamu dipecat.
Dalam hal ini, bagaimana nanti susahnya orangtuamu. Maka dari itu, sekali lagi
saya bilang padamu bahwa saya tidak akan membuka namamu. Apalagi saya masih
bisa membikin alibi yang akan membebaskan saya dari hukuman dalam sidang
pengadilan nanti. Sebab sepanjang pengetahuan saya, berita itu tidak melanggar
aturan yang berlaku.”

“Saudara Sariman, saya sebagai penulisnya tentu lebih tahu masalah-masalah apa
yang sudah masuk dalam tulisan itu. Jadi, saya memiliki bukti-bukti bahwa
tulisan itu hanya untuk menuntut keadilan bagi keperluan rakyat. Dari sebab itu,
tentunya saya akan 1ebih bisa menjelaskan di muka hakim bahwa tulisan itu tidak
melanggar peraturan yang berlaku.”

“Ya, tetapi pikiran kita belum tentu akan dibenarkm oleh hakim pengadilan dan
biasanya mereka mempunyai pandangan lain dari kita. Sehingga kalau saya
melepaskan nama Saudara yang sebenarnya di kemudian kamu bisa dihukum juga.
Lebih baik saya (yang sebagai pemimpin redaksi memang sudah wajib untuk
menanggungnya) yang menjalani perkara hukuman ini, kalau di kemudian hari hakim
memang memutuskan hukuman itu. Saya mempunyai keyakinan bahwa tulisan itu tidak
bersalah sehingga bisa dihukum. Jadi bisa juga dibebaskan. Sebaliknya kalau
Saudara yang menghadap di muka hakim, bisa dihukum dan ditambah akan dipecat
dari jabatan Saudara. Setidaknya, Saudara akan mendapatkan masalah dalam
pekerjaan. Meskipun umpamanya Saudara dibebaskan dari hukuman. Dalam hal yang
kedua ini, Saudara akan mengorbankan dirimu dengan percuma. Sedangkan kalau saya
yang menghadap, selamatlah saya, meski dihukum atau tidak!”

“Saudara Sariman, saya tidak mau dan tidak bisa memahami kehendak Saudara
menjadi korban tulisan saya. Sebagai pemimpin redaksi dan sebagai pemimpin
rakyat, tempat suara rakyat, pekerjaan saudara sangat penting bagi kemajuan
rakyat dan tanah Hindia. Kalau Saudara jadi dihukum apalagi kalau sampai lama,
sesungguhnya Saudara akan banyak kehilangan waktu dan kesempatan untuk
menyuarakan kepentingan rakyat. Sebaliknya, hal ini bagi saya tidak ada
masalah.”

“Saudara, sudah kodrat alam yang memiliki kehendak bahwa rakyat akan tetap
bergerak dan maju, meskipun saya ada di dalam penjara. Tentulah kalau sudah
kehendak zaman, ada saja yang di kemudian akan memajukan rakyat dan tanah
Hindia. Selain itu, bukan saya sendiri yang bisa menyuarakan kepentingan rakyat,
tetapi masih banyak orang lain. Dan rakyat tentu akan terus maju meski saya
dipenjara. Saya yakin begitu. Dari itu, jangan khawatir, saya akan tetap
menanggung tulisan Saudara.”

“Tidak Saudara Sariman, kalau Saudara tetap ingin menanggungnya, saya juga tetap
seperti itu. Dan tanpa persetujuan Saudara, maka besok pagi saya akan datang
sendiri menghadap ke muka jaksa untuk menerangkan dan menjelaskan bahwa sayalah
penulis delik itu.”

Mendengar hal itu, maka Pemimpin Redaksi Sariman kehabisan akal untuk melindungi
pembantunya supaya jangan sampai menjadi korban. Oleh karena itu, Sariman lalu
memakai jalan lain, yaitu jalan halus yang mengesampingkan perasaan pembantunya
dan berkata: “Begini Saudara, kita sedang saling berselisih pendapat satu sama
lain untuk membuktikan bahwa kita senang mengorbankan diri untuk keperluan
rakyat. Saudara juga senang berbuat itu. Sekarang tidak perlu banyak bicara,
sudahlah. Marilah kita lot, kita undi siapa yang beruntung, itulah yang
menanggung.”

Dengan begitu maka pendapat disepakati oleh pembantunya, karena si pembantu
tidak ingat bahwa ia bisa meneruskan kehendaknya tanpa pakai undian segala. Dan
Sariman sangat cepat mcngambil aturan untuk mengundinya. Sehingga sebentar saja
putuslah perselisihan itu. Tetapi Sariman kalah dan pembantunya yang menang. Si
pembantu menjadi gembira. Dan saking gembiranya, maka sewaktu pembantunya itu
mau pulang, Sariman berkata:

“Saudara, mulai sekarang Saudara akan melepaskan diri dari kesenangan yang
disukai kebanyakan manusia. Sebab itu Saudara harus membersihkan diri dan
jiwamu dengan membantu kepentingan rakyat. Sekarang Saudara harus melupakan
kepentinganmu sendiri. Saya mendoakan Saudara supaya kau memiliki kekuatan yang
besar untuk meneruskan maksudmu yang mulia itu. Saya akan membantumu dan sanggup
mengusahakan jalan yang baik bagi kehendakmu. Karena kita berdua mau membela
kepentingan rakyat dan tanah Hindia.

“Dalam perjalanan orang maka kita akan sering kali mendapat rintangan dan godaan
yang besar serta sangat berbahaya. Karena, semakin mulia maksud seseorang,
tambah besar juga lawannya atau godaan dan rintangannya. Rintangan dan godaan
tadi akan menjatuhkan orang itu kalau ia tidak kuat. Tetapi, ada satu perkara
yang akan memberi kekuatan luar biasa pada manusia yang berusaha dan berbuat
baik. Perkara itu adalah kepercayaan kepada Tuhan Allah. Dalam semua hal, susah
atau senang, carilah Tuhan Allah kita Yang Mahakuasa. Dan bersamaan dengan itu,
teruskanlah maksud Saudara yang mulia itu. Sebab Tuhan Allah akan memberi
kekuatan pada siapa saja yang mengetahui-Nya.”

Siapakah pembantu surat kabar yang gagah berani dan bertindak seperti satria
tersebut. Nyonya-nyonya dan Tuan-Tuan pembaca tentunya sudah dapat meramal atau
mengira-ngira sendiri kalau melihat dari tanya-jawab di atas. Dialah Kadiroen,
tidak lain hanyalah Kadiroen yang berani mempertanggungjawabkan tulisannya yang
dimuat dalam SinarRa'jat di muka hakim pengadilan. Bagaimana ceritanya, sehingga
sekarang Kadiroen harus mempertanggungjawabkan dakwaan delik pers.

Sebagaimana sudah diceritakan dalam Bagian IV, maka sehabis Kadiroen menghadiri
vergndering P.K., ia menjadi sangat tertarik dengan gerakan rakyat itu, di
samping ia harus tetap mempertahankan pangkat dan jabatannya. Semakin lama
Kadiroen memikirkannya, ia semakin mengerti bahwa pada zaman itu gerakan rakyat
tidak boleh ditinggalkan atau dibiarkan begitu saja oleh semua bumiputera yang
tahu akan kewajibannya, yaitu kewajiban untuk memuliakan dan memakmurkan rakyat
dan negeri Hindia. Sungguh, sedang tidurlah mereka yang ketinggalan zamannya.
Kadiroen mendapatkan keyakinan demikian. Tetapi sebaliknya, ia mempunyai ayah
dan ibu yang sudah tua. Sedang ayahnya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh
supaya anaknya, Kadiroen, bisa menjadi seorang priyayi yang berpangkat tinggi
supaya ia bisa membantu orangtuanya untuk turut memelihara dengan baik
saudara-saudaranya. Sebab Kadiroen masih mempunyai saudara sebanyak tujuh orang.
Kadiroen menimbang, ia mencari pangkat tinggi itu tidak hanya untuk kesenangan
dirinya sendiri, tetapi untuk menyenangkan hati orangtua dan famili-familinya.
Kadiroen merasa bahwa hal itu juga merupakan kewajiban mulia.

Jadi, dua kewajiban selalu bertentangan dalam hatinya. Yang pertama kewajiban
untuk turut membantu gerakan rakyat, untuk memperhatikan dan memuliakan rakyat
dan negeri. Yang kedua, kewajiban membantu kebutuhan hidup saudara-saudara
dengan mendapatkan pangkat yang tinggi dalam pekerjaannya. O, sesungguhnya amat
berat untuk memilih dua kewajiban ini. Tetapi sesudah memikirkan hal itu
beberapa hari lamanya maka ia menetapkan memilih gerakan. Sebab ia pandang,
dalam pergerakan ada banyak orang yang harus dibantu, melebihi banyaknya famili
yang harus ia bantu. Ia berkeyakinan bahwa memenangkan gerakan rakyat itu
merupakan kewajiban yang lebih besar daripada sekedar mencari pangkat. Selain
dari itu, umpamanya dalam pergerakan rakyat itu kehidupan rakyat bisa
diperhatikan, toh kebutuhan famili juga bisa diperhatikan secara bersama-sama
juga. Karena famili-familinya termasuk rakyat juga. Karena
pertimbangan-pertimbangan yang demikian, maka Kadiroen memutuskan bahwa ia akan
masuk menjadi anggota perkumpulan P.K. dan sanggup berusaha dengan
sekuat-kuatnya membantu gerakan itu dengan tenaga dan harta benda miliknya.
Tetapi, meski begitu Kadiroen tidak mau meninggalkan pikiran orangtuanya. Sudah
jamaknya seorang bumiputera bahwa dalam memilih cara dan usaha penghidupan atau
pekerjaan hendaknya anak laki-laki mendapatkan izin terlebih dahulu dari
ayahnya. Supaya ia didoakan dengan ikhlas hati dari orangtuanya. Lebih umum
lagi, maka orangtualah yang biasanya menetapkan pekerjaan apa yang mesti dicari
oleh anak lelakinya.

Teringat akan adat kebiasaan yang demikian itu, maka Kadiroen menceritakan
keyakinan dan pikirannya pada ayahnya, dan meminta didoakan dalam hal membantu
pergerakan rakyat itu. Meskipun hal itu bisa berbahaya bagi jabatannya. Ayah
Kadiroen yang sudah tua ikut mempertimbangkan masalah itu dengan hati sabar. Ia
percaya bahwa nasib seorang manusia itu sudah ditentukan terlebih dahulu oleh
Tuhan Allah dan di mana saja orang itu bekerja kalau usahanya memang
sungguh-sungguh baik, maka tentulah ia akan mendapatkan kesenangan dan
keselamatan. Apakah ia mengikuti pekerjaannya sebagai priyayi ataupun dalam
gerakan rakyat. Sudah barang tentu bagi seorang ayah, yang pertama-tama akan
memilih hal yang sekiranya akan dapat membikin senang dan selamat anaknya.
Begitupun halnya dengan ayah Kadiroen. Kalau dipertimbangkan dengan kerasnya
kehendak Kadiroen maka sesungguhnya Kadiroen akan merasa susah dan celaka jika
ayahnya menghalang-halangi maksudnya. Sebaliknya, jika tidak dihalangi dan ia
mendapat celaka yang besar, hal itu pada akhirnya juga akan menyusahkan hati si
anak. Ayah Kadiroen memikirkan hal itu dengan panjang lebar dan hati sabar,
tetapi ia tidak bisa memutuskan yang mana yang benar. Sehingga ia mengambil
keputusan untuk bersama pada kehendak Tuhan Allah. Oleh karena itu, ayah
Kadiroen berkata kepadanya:

“Anakku, perkara ini susah untuk saya pikirkan. Oleh karena itu, sebagai
permulaan dan percobaan sebaiknya kamu mengambil jalan tengah terlebih dahulu.
Memang biasa, orang yang ada di tengah sering terjepit oleh kanan-kiri.
Sehingga terpaksa akhirnya memilih yang kiri atau kanan. Nah, kalau kamu berada
di tengah dan sudah berusaha dengan sebaik-baiknya maka terpaksa ke kiri atau ke
kanan, karena kamu terjepit, itu ya apa boleh buat. Keputusanmu akan memihak
yang mana jika sudah terjepit demikian. Itulah kehendak Tuhan Allah. Dan
seharusnya, sebaiknya kamu berusaha dengan hati yang sungguh-sungguh menjalani
takdirmu yang akan datang ini. Dalam segala maksud dan kehendakmu, kamu harus
bertindak dengan ketetapan hati supaya kamu mendapatkan kekuatan yang cukup
untuk memikul kewajiban yang sudah dipikulkan oleh Tuhan Allah pada dirimu.
Ayahmu yakin kepada Tuhan Allah dan sekarang mengizinkan kamu supaya mengambil
jalan tengah. Dan kemudian sesukamu, mau mengikuti yang kanan atau yang kiri
sesuai dengan yang akan terjadi pada akhirnya nanti. Saya selalu berdoa semoga
kau selalu selamat.”

Seperti semua anak yang setia pada ayahnya, Kadiroen mengikuti keputusan ayahnya
itu. Ia memilih jalan tengah, tetapi bagaimana akalnya? Ia tahu bahwa gerakan
rakyat membutuhkan modal atau ongkos untuk berbagai keperluan. Karena itu
Kadiroen sering mengirimkan uang derma semampunya untuk berbagai keperluan pada
pemimpin perkumpulan P.K. Tetapi, supaya tidak diketahui bahwa ia yang memberi
uang bantuan pada pergerakan itu, maka selamanya ia menjelaskan namanya yang
sebenarnya. Dan hanya ditulis afzender N.N. (Pengirimnya bernama N.N.).

Kadiroen mengambil jalan tengah, jadi tidak masuk sebagai anggotanya atau ikut
memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam vergadering-vergadering P.K. Tetapi,
selain membantu dengan uang secara rahasia itu, maka Kadiroen juga turut
membantu dengan berusaha memberikan pertimbangan dan pengetahuannya pada
organisasi P.K., yaitu dengan menulis dalam surat kabar Sinar Ra'jat. Tetapi
supaya tidak ada orang yang mengerti bahwa ia ikut menulis, maka selamanya ia
memakai nama palsu, yaitu Pentjari. Hanya Pemimpin Redaksi Sariman sendiri yang
mengetahui rahasia ini.

Jalan tengah itu disepakati oleh ayah Kadiroen. Tetapi sebagaimana telah
diceritakan maka akhirnya Kadiroen terjepit juga; tulisannya tersangkut delik
pers. Di waktu ia mengetahui bahwa tulisannya menimbulkan dakwaan delik pers
maka Kadiroen memikirkan dua jalan yaitu tetap bersembunyi atau menunjukkan jati
dirinya. Dalam hal yang pertama, ia tetap mendapatkan nama baik dan kehormatan
dengan pangkat priyayinya. Tetapi akan mendapatkan julukan penakut dari Sariman
dan hilanglah kepercayaan pemimpin redaksi itu kepadanya sehingga Kadiroen bisa
disangka bahwa ia hanya pura-pura saja membantu gerakan rakyat. Tetapi kalau
Kadiroen tetap bersembunyi, tentulah pemimpin redaksi akan terpaksa menjalani
hukuman sebab kesalahan tulisan Kadiroen. Dan bagaimana nantinya istri dan
saudarasaudara Sariman. Dan bagaimana jadinya dengan pergerakan itu di kemudian
hari jika pemimpinnya, Sariman, yang terkenal cerdik itu terpaksa harus
dipenjara. Apa hal itu tidak akan banyak menimbulkan masalah dan sangat
menyusahkan?

Kadiroen yakin bahwa dalam perkara itu memang saudara-saudara Sariman dan
pergerakan akan banyak mengalami masalah. Sedang ia sendiri yang bersalah malah
selamat. Apa Kadiroen akan bisa menjalankan sifat kesatrianya, sebagai seorang
yang baik, jika mengorbankan orang lain untuk menanggung dosanya? Kadiroen tidak
mau menjadi orang hina dan membiarkan dirinya mencelakakan orang lain. Oleh
karena itu, Kadiroen lalu mengambil keputusan untuk membuka jati dirinya dan
tidak mau lagi mengingat-ingat pangkatnya sebagai priyayi besar. Kadiroen ingat
apa yang dikatakan ayahnya, bahwa dalam keadaan terjepit maka jalan kanan atau
kiri itu telah ditentukan Tuhan Allah. Dan Kadiroen tahu bahwa Tuhan Allah
menyuruh kepada manusia supaya ia berjalan dalam kebaikan dan satriawan. Hal
yang mana tidak akan dipenuhi oleh Kadiroen jika ia tetap bersembunyi. Jadi,
kalau Kadiroen membuka rahasia namanya dan di kemudian hari mendapatkan masalah
dalam pekerjaan dan pangkat jabatannya, nah, semua itu telah menjadi takdir atau
kehendak Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Dan ia akan menjalani susah atau senang:
ketentuan yang tertinggi itu. Begitulah adanya hal-hal yang menyebabkan Kadiroen
menanggung tulisannya yang didakwa melanggar delik pers.

Tetapi Pemimpin Redaksi Sariman juga orang yang baik dan satriawan, sehingga
terjadi rebutan memikul dakwaan delik pers itu. Hal ini sudah diceritakan di
atas, yang akhirnya diundi. Kadiroen menang maka ia yang berkewajiban
menanggungnya. Kadiroen pun semakin percaya bahwa hal itu sudah menjadi takdir
atau keputusan Tuhan Allah.

Sesudah pasti Kadiroen yang akan mempertanggungjawabkan di muka hakim perkara
tulisan itu, maka perkara itu menjadi perbincangan ramai di antara banyak orang.
Surat-surat kabar yang sengaja berpihak pada kaum yang bermodal, dan yang
khawatir bahwa keuntungan kaum itu akan menjadi berkurang jika amtenar-amtenar
Gupermen membantu pergerakan rakyat seperti Kadiroen maka surat kabar itu semua
memaki, menghina dan melemparkan macam-macam kotoran kepada diri Kadiroen. Surat
kabar itu berteriak setinggi langit, supaya Gupermen cepat memecat Kadiroen dari
pangkat dan jabatannya.

Sebaliknya, surat kabar yang memperhatikan kepentingan rakyat sama memuji kepada
Kadiroen dan sama membuktikan kehormatannya dalam tulisan-tulisan yang
indah-indah.

Priyayi-priyayi kuno yang membenci gerakan rakyat yang baru itu sama mengatakan
bahwa Kadiroen sudah menjadi gila. Tidak kuat memegang pangkat priyayi besar dan
sebagainya. Sebaliknya, priyayi dan semua manusia yang mengetahui keadilan dan
mengetahui zamannya kemajuan dunia, mereka sama menghormati Kadiroen yang
membuktikan bahwa ia adalah seorang satriawan dan budiman yang berketetapan
hati, baik akal budi dan wataknya.

Perkara itu menjadi buah bibir yang ramai, tetapi Kadiroen tidak suka memikirkan
suara kanan atau kiri, tidak suka memikirkan pujian dan cacian atau penghinaan
itu. Ia hanya berusaha keras mengumpulkan bukti-bukti bahwa tulisannya
berdasarkan kenyataan. Tidak berdusta dan tidak melanggar ketentuan
undang-undang. Dalam hal ini, Kadiroen mendapat bantuan yang sungguh-sungguh
dari Sariman. Di muka pengadilan, Sariman malahan menjadi advokat untuk membantu
pekerjaannya.

“Vrij, dibebaskan dari hukuman, tidak melanggar undang-undang,” begitulah
keputusan hakim pengadilan. Kadiroen dan Sariman menjadi bahagia sekali. Dari
mana-mana Kadiroen mendapat surat yang memuji dan mengucapkan selamat. Dan
banyak sudah orang-orang yang bersahabat dengannya turut berbahagia. Tetapi yang
tidak berbahagia adalah surat-surat kabar yang melawan kepentingan bumiputera.
Surat-surat kabar itu sama berpendapat bahwa meskipun hakim pengadilan
membebaskan Kadiroen dari hukuman tetapi ia toh wajib dipecat dari pangkat dan
jabatannya. Karena seorang pejabat seperti Kadiroen itu telah membikin
kehormatan kekuasaan Gupermen menjadi ternoda. Sebaliknya, surat kabar
bumiputera membantah dan berkata perbuatan Kadiroen membuktikan bahwa priyayi
dan pergerakan rakyat bisa bekerja sama. Hal yang mana akan sangat berguna bagi
ketertiban umum dan keselamatan rakyat.

Akibat dari ramainya perbincangan dari perkara itu, maka Kadiroen dipanggil oleh
Tuan Asisten Residen di Kota S, yakni atasan Kadiroen yang dahulu telah
diceritakan. Kadiroen mengira bahwa ia akan dipecat. Tetapi Tuan Asisten Residen
berbicara dengan muka yang manis dan sabar kepadanya:

“Kadiroen, saya senang kepadamu karena melihat kerja dan usahamu sebagai priyayi
dalam membantu rakyat. Dahulu saya telah memberi nasihat kepadamu, supaya kamu
sedikit bersabar. Tetapi nasihat saya itu sepertinya kurang kamu perhatikan
betul. Saya tahu dan bisa berpikir bahwa kamu menulis seperti di Sinar Ra'jat
itu karena kamu masih muda. Kamu memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan
maksudmu dengan secepat-cepatnya. Sekarang kamu mendapatkan masalah sendiri. Apa
sebabnya kamu tidak mau memperhatikan nasihatku. Sudah tentu saya tidak
mengajukan pemecatan dari jabatanmu sebagaimana usul surat-surat kabar yang
terkenal itu. Ya, kalau ada pertanyaan dari atas karena tulisan tersebut, maka
saya akan melindungimu, selama saya menjadi Asisten Residen. Sebab saya seperti
kamu juga, sangat mencintai rakyat. Meskipun saya seorang Belanda, tetapi saya
seorang manusia juga yang mencintai rakyat Bumiputera. Sebab mereka juga
manusia. Dan saya sebagai pemimpinnya wajib menjaga keselamatannya, sebagaimana
seorang ayah menjaga keselamatan anaknya. Kamu semestinya juga merasa begitu.
Tetapi saya sudah tua, Kadiroen. Dan saya berbuat sabar, sedang kamu sangat
berkehendak keras. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Yang sudah ya sudah.
Tetapi saya akan memberi nasihat lagi kepadamu. Ketahuilah, beberapa bulan lagi
saya akan pensiun dan siapa yang akan mengganti saya, saya belum tahu. Selama
ada saya, kamu tidak usah khawatir, kamu bebas menulis di surat kabar. Tetapi
ingatlah, pengganti saya belum tentu berhaluan seperti saya. Karena itu, saya
memperingatkan kalau saya sudah pensiun, berhentilah kamu menulis dalam surat
kabar itu.”

Kadiroen mendengar nasihat atasannya, yang berkata seperti ayah kepada anaknya.
Ia merasa hancur hatinya dan menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan Asisten
Residen. Oleh karena itu, ia mengungkapkan perasaan hatinya kepada atasannya
itu. Kadiroen menerangkan bagaimana asal mulanya ia tertarik pada gerakan
rakyat, bagaimana pikiran dan pandangannya tentang pergerakan itu dan
sebagainya. Tuan Asisten Residen mendengarkan dengan sabar dan akhirnya berkata:

“Kadiroen kalau saya mendengar kehendakmu yang begitu kuat, sesungguhnya hal
itu tidak boleh kau tahan-tahan lagi. Sebab kalau kau tahan, tentunya kau akan
merasa sengsara terus-menerus. Sekarang saya hanya menasihati kamu. Kadiroen,
kalau kau menulis yang hatihati. Kadiroen, itulah nasihat lain saya dan saya
hanya mendoakan supaya kamu selamat dalam menjalankan maksudmu yang mulia itu.”

Lalu Kadiroen dipersilakan pulang. Kadiroen sangat terkesan betul dengan Tuan
Asisten Residen yang sudah tua itu. Kepadanya, Kadiroen tak bisa menyembunyikan
perasaannya. Ia mengungkapkan perasaan hatinya seperti seorang anak kepada
orangtuanya sendiri. Di mana antara dua manusia dari lain bangsa memiliki watak,
akalbudi dan tujuan hidup yang sama baiknya, di situ hilanglah perasaan
perbedaan lain bangsa dan dua manusia tersebut bisa menyatukan hatinya. Tidak
ada perbedaan bangsa dan kedudukan yang bisa memisahkan mereka satu dengan yang
lain.

Tiga bulan setelah peristiwa itu terjadi maka Tuan Asisten Residen yang sudah
tua itu pergi; ia sudah pensiun. Dan sebagai gantinya, datang seorang asisten
residen baru, kalau mengingat pangkatnya, ia terhitung masih muda. Ia keluaran
sekolah tinggi di negeri Belanda. Ia anak seorang hartawan besar. Tuan Asisten
Residen yang baru itu ingatannya sangat tajam serta pandai. Tetapi watak dan
hatinya jauh dari sempurna. Sebagai anaknya seorang hartawan sejak masih kecil,
ia tidak pernah kekurangan apa-apa. Dan sudah biasa diladeni, dituruti dan
dihormati oleh orang-orang pembantunya yang bekerja pada hartawan itu. Di
sekolah, ia juga memiliki kebiasaan serupa itu.

Ia memiliki ayah yang sangat mahir mencari uang dan Tuan Asisten Residen yang
baru juga seperti ayahnya. Agamanya Kristen, sebuah agama yang baik dan luhur
bagi bangsa Eropa. Namun agama itu tidak mempengaruhi kehidupan Tuan Asisten
Residen yang baru yang masih muda itu. Dalam hal kepercayaan agama, ia mengaku
moderat dan maunya hanya percaya pada alam. Tetapi kepercayaan kepada agamanya
sudah rusak dalam hati sanubari tuan ini.

Ia senang mendapat jabatan sebagai amtenar Binnen-landsch-Bestuur, hanya karena
ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan masalah pemerintahan dan adat
istiadat Hindia. Supaya kalau ia sudah tahu betul, ia bisa minta lepas dan akan
menjadi pedagang besar di Hindia ini.

Pengetahuan dari Binnen-landsch-Bestuur itu nantinya akan ia pergunakan untuk
menambah kekayaan dengan menjadi pedagang besar di negeri ini.

Mengingat hal-hal tersebut, maka sudah tentu tuan tersebut dalam hatinya
berkeyakinan bahwa di dunia ini selamanya ada orang kaya dan orang miskin.
Sebagai seorang berpendidikan dan memiliki keinginan untuk selalu menumpuk
kekayaan maka ia percaya bahwa orang yang memiliki paham demikian adalah sesuai
dengan kodrat alam. Sudah barang tentu, ia dan ayahnya sering membantu berbagai
macam perkumpulan kekasihan (philantrofische bonden) seperti rumah miskin,
rumah anak yatim piatu dan sebagainya. Dengan memberi derma beratus-ratus rupiah
besarnya, sudah tentu uang derma itu lebih kecil dari hasil yang beribu-ribu
rupiah besarnya yang didapatnya. Adapun mereka suka berderma demikian tidak
disebabkan kasihan pada orang yang seharusnya ditolong - mereka percaya bahwa
orang miskin dan melarat itu sudah sesuai dengan kehendak alam, tetapi
disebabkan mereka mencari nama dari banyak orang semata. Kalau mereka
mendapatkan nama baik, tentu mereka akan dipercaya banyak orang. Hal yang mana
akan sangat berguna besar bagi usaha dagangnya dalam rangka menumpuk kekayaan
itu. Jadi, pemberian derma itu tidak keluar dari niat hati yang suci, tetapi
hanya buat modal mencari kekayaan semata. Sudah barang tentu, hal itu sangat
berbeda dengan niat para tuan-tuan dermawan yang beragama dengan
sungguh-sungguh. Atau yang percaya kepada kekuasaan Tuhan Allah sebab maksud
mereka memang benar-benar untuk menolong dengan rasa belas kasihan kepada si
miskin. Tuan-tuan bangsa Belanda yang bersifat adil seperti itu di Hindia ini
juga ada banyak. Terutama golongan para pejabat Belanda, ada banyak sekali yang
memiliki rasa belas kasihan seperti itu, sehingga boleh dibilang, Tuan Asisten
Residen yang baru tersebut memang sangat aneh (uitzondering).

Sebagaimana sudah diterangkan, Tuan Asisten Residen yang baru ini memang sangat
tajam ingatannya dan pandai sekali. Sehingga sangat gampang ia mendapatkan
jabatan Asisten Residen. Karena ia bisa menutupi watak dasar hatinya yang kurang
sempurna itu dengan kepandaiannya. Sudah barang tentu, orang yang demikian ini
tidak akan memiliki kesenangan dan ketentraman serta kenikmatan hati yang
sejati. Sebab ia selalu mengkhawatirkan harta benda serta kepentingannya
sendiri. Meskipun sudah kaya, ia selalu saja tidak bisa merasa senang. Sebab
selalu khawatir tidak mendapatkan keuntungan atau selalu merugi. Keinginan
nafsunya tidak pernah terpuaskan. Ia justru merasa lebih sengsara daripada
orang miskin yang suci hatinya dan berbakti kepada Tuhan Allah. Begitulah, si
kaya harta benda itu, karena kekurangsempurnaan hatinya tidak pernah merasakan
kebaikan dan sudah dihukum oleh Tuhan Allah seperti masuk dalam neraka dunia
sewaktu ia masih hidup. Orang yang adil, jika memikirkan orang yang serupa ini
lalu sungguh ia akan merasa berbelas kasihan pada si celaka ini. Dan ia tidak
akan membenci orang karena yang berdosa itu sudah mendapat hukuman berhari-hari.
Neraka perasaan, lebih berat bebannya daripada neraka harta benda atau kekayaan.

Sekarang Tuan Asisten Residen tersebut sudah menjadi atasan Kadiroen. Sebagai
pembaca surat kabar S.H.B yang memihak kepentingan kaum bermodal, maka Tuan
Asisten Residen tersebut sepakat dengan haluan surat kabar S.H.B. Surat kabar
itu mengira bahwa pergerakan rakyat juga bermaksud mencari keuntungan untuk
memperbaiki nasib rakyat. Jadi, akan sangat merugikan kaum bermodal. Karenanya
surat kabar itu tidak suka dengan adanya rakyat yang bergerak. Begitupun Tuan
Asisten Residen juga sepakat dengan gerakan S.H.B yang memusuhi Kadiroen.

Tidak lama Tuan Asisten Residen yang baru itu bekerja, Kadiroen segera
dipanggilnya. Tuan Asisten Residen bertanya kepada Kadiroen, apakah ia masih
selalu saja menulis dalam Sinar Ra’jat. Kadiroen mengaku terus terang bahwa hal
itu ia kerjakan terus, dan ia masih tetap memakai nama palsu Pentjari. Lalu Tuan
Asisten Residen yang baru berkata:

“Kadiroen, kau seorang wakil patih, kamu seharusnya bekerja betul sesuai
pangkatmu dan tidak usah ikut tulis-menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mengatakan bahwa sangatlah perlu untuk menulis dalam surat kabar karena
dengan begitu, ia bisa membantu kemajuan rakyat Hindia. Jadi untuk urusan
tulis-menulis itu tidak bertentangan dengan tugasnya. Malahan sangat cocok
dengan tugasnya sebagai pejabat yang juga harus memajukan rakyat yang ada di
bawah perintahnya. Tuan Asisten Residen menjawab bahwa mengenai masalah
tulis-menulis itu memang tidak mengapa. Tetapi mengenai caranya menulis atau
isinya karangan yang ditulisnya itu bisa merugikan kepentingan pemerintahan
negara. Sebab isi tulisan itu bisa menyerang kehormatan pemerintah. Kadiroen
menjelaskan pula bahwa sekarang ini ia menulis dengan hati-hati dan menyingkiri
semua hal yang merugikan kepentingan pemerintah. Tetapi kadang-kadang ia memang
harus menulis yang sebenarnya. Karena ia seorang pejabat, sudah barang tentu
harus menulis yang sebenarnya itu dengan hati-hati dan dengan tidak menyerang
kehormatan pemerintah.

Akhirnya, terjadi perdebatan yang hebat antara Tuan Asisten Residen dengan
Kadiroen. Dan sebagai penutup maka Tuan Asisten Residen berkata:

“Ne, baik! Kamu mau terus karang-mengarang. Saya ingin tahu apa betul semua
karanganmu di kemudian tidak ada salahnya. Tetapi jika akhirnya saya dapat tahu
bahwa kamu melanggar maka dengan tidak ada ampun lagi tentu kamu saya mintakan
pemecatan dengan tidak hormat. Sekarang kamu sudah saya peringatkan.”

Setelah selang beberapa hari, Kadiroen dipanggil lagi oleh Tuan Asisten Residen.
Di meja Tuan Asisten Residen ada bertumpuk-tumpuk lembaran surat kabar
SinarRa’jat. Tuan A.R sudah membaca betul surat kabar itu, terutama semua
karangan yang ditandai dengan nama Pentjari.

“Hai, Kadiroen, sayang kamu tidak suka menuruti aku. Sekarang aku mau memintakan
surat pemecatan kamu. Sebab kamu telah menulis dua buah karangan di mana di situ
ada pelanggaran undang-undang,” kata Tuan Asisten Residen.

Kadiroen tidak merasa berbuat hal itu. Ia tanya tulisan yang mana. Tuan A. R
menjawab:

“Di sini ada tulisan yang berjudul 'Menangis Meminta Pertolongan'. Di dalam
tulisan itu kamu meminta pemerintah supaya di Residentie B diadakan saluran
irigasi selokan-selokan air dan sebagainya untuk kepentingan petani. Memang
tulisan itu maksudnya baik, tetapi dalam penutupnya kamu sudah menulis begini:

'Kita mohon pertolongan Gupermen, dan kalau kita mendapatkan pertolongan itu,
maka tentulah kita rakyat akan hidup selamat'

“Kalimat ini melanggar pasal 154 Straf Wetboek. Dengan kalimat tersebut, kamu
sudah mengeluarkan perasaan kebencian pada Gupermen sebab maksudnya kalimat itu
begini:'Kalau Gupermen tidak menuruti, kehidupan kita, akan dibikin tidak
selamat'.

“Kesalahanmu ternyata ada di sini. Kedua, ada lagi pelanggaran dalam tulisanmu:
'Sebabnya Banyak Tebu Terbakar'. Dalam tulisan itu kamu sudah menerangkan dengan
betul dan disertai bukti-bukti mengapa banyak kebakaran kebun tebu. Jadi,
tulisan itu ada baiknya juga. Tetapi sebagai penutup kamu telah menulis:

'Kesusahan kehidupan rakyat telah melemahkan rakyat melawan nafsu kejahatan.
Moga-mogalah pabrik-pabrik gula yang begitu kaya itu mau turut memperbaiki
penghidupan rakyat itu, agar supaya tidak ada orang tertarik melakukan
kejahatan'.

“Kalimat itu melanggar pasal 160 Straf Wetboek sebab maksudnya: 'Kalau pabrik
tidak suka turut membantu, rakyat supaya membakar tebu saja'.

“Begitulah pikiran saya, Kadiroen. Dan karena itu, saya akan voorstel supaya
kamu dilepaskan dari pekerjaanmu dengan tidak hormat. Bagaimana pendapatmu?”

Kadiroen ditanya pendapatnya, tetapi cukup lama ia tidak menjawab. Beberapa
menit ia melihat Tuan Asisten Residen dengan melompong sangat keheranan, seperti
seorang melihat rembulan pecah menjadi tiga matahari. Kadiroen tidak bisa
percaya pada apa yang telah ia dengarkan itu. Dan ia mengira bahwa ia salah
mengerti. Oleh karena itu, ia bertanya lagi, apa yang sudah dikatakan Tuan
Asisten Residen mengulangi perkataannya. Kadiroen mendengarkan tuduhan Tuan
Asisten Residen yang berhati keras itu. Maka di dalam hatinya ia sepertinya
menangis sekaligus tertawa; menangis sebab Tuan Asisten Residen begitu salah
pengertian. Pertama, karena kesalahpengertian Tuan Asisten Residen itu telah
dijadikan kebenaran yang tetap. Kadiroen menyangka ada dua hal yang bisa
terjadi. Pertama, Tuan Asisten Residen sengaja mencari-cari kesalahannya
sehingga memutarbalikkan maksud kalimat. Atau, kedua, Tuan Asisten Residen
sangat khawatir bahwa semua surat kabar bumiputera akan menarik kehormatannya
kepada pemerintah sehingga membikin kusutnya negeri. Dengan demikian, hampir di
mana-mana ia melihat genderuwo disiang bolong yaitu mendapati semua hal menjadi
jahat ketika justru tidak ada kejahatan. Jadi kalau begitu, maka ternyatalah
bahwa kepintaran dan ketajaman pikirannya yang tidak disertai dengan kebaikan
hati itu justru sering menimbulkan kesalahan, menyangka busuk pada yang baik.
Atau, manusia yang busuk melihat bayangannya sendiri di mana-mana. Kadiroen
memikirkan hal ini, oleh karena itu, ia tidak sakit hati pada Tuan Asisten
Residen. Tetapi malahan ini menjadi berbelas hati. Watak dan hati Tuan Asisten
Residen itu sangat miskin dari kebaikan. Dengan sabar dan dengan jelas lalu
Kadiroen menerangkan dan membuktikan bahwa tuduhan Tuan A.R. yang pertama
keliru, karena maksud kalimat yang dituduhkan itu, tidak lain hanya:

“Meminta pertolongan pada pemerintah dan kalau pertolongan itu sudah didapatkan,
maka hal itu akan berbuah lesat, sebab akan membuat selamatnya rakyat.”

Orang yang waras ingatan dan batinnya tentu mengetahui hal ini. Adapun tuduhan
yang kedua disangkal oleh Kadiroen karena maksud kalimat itu tidak lain adalah
begini:

“Supaya pabrik gula suka menolong dan dengan pertolongan itu, kejahatan manusia
akan bisa dikurangi.” Kadiroen menerangkan bahwa sampai waktu ini tidak ada
tuntutan dari hakim pengadilan. Tidak ada tuduhan delik pers, karena
tulisan-tulisan tentang hal itu. Jadi, terbukti bahwa yang salah penerimaannya
hanya Tuan Asisten Residen sendiri. Lalu terjadi perselisihan yang ramai antara
Kadiroen dengan Tuan Asisten Residen. Dan akhirnya sebagai penutup Tuan A.R.
berkata: “Kadiroen, memang perkataanku susah ditangkap, buat kamu sendiri dan
buat sebagian orang-orang lain. Memang, tulisannya tidak bersalah melanggar
undang-undang. Tetapi saya katakan, kamu sudah betul-betul melanggar
undang-undang. Dan saya sebagai Asisten Residen di sini memiliki kekuasaan buat
menetapkan pendapatmu. Oleh karena itu, saya sekarang tetap akan mengajukan
pelepasanmu.”

Kadiroen menjawab bahwa itu urusan Tuan Asisten Residen. Tetapi karena Kadiroen
merasa ia tidak mendapatkan keadilan, ia meminta izin untuk bertemu sendiri
dengan Tuan Residen, untuk menerangkan bahwa ia tidak mempunyai kesalahan
apa-apa. Tuan Asisten Residen menantang Kadiroen untuk berbuat itu, dan ia
diberi tahu bahwa lain hari Kadiroen akan mendapat panggilan untuk menghadap
Tuan Residen.

Beberapa hari setelah kejadian itu, maka Kadiroen terpaksa menghadap Tuan
Residen karena dipanggil. Pembesar ini adalah seorang pejabat yang sudah tua. Ia
sudah biasa hidup dengan zaman kuno dan tidak begitu cocok dengan aturan dan
keadaan zaman baru yang menjelmakan pergerakan rakyat Hindia itu. Banyaknya
pekerjaan sudah tidak bisa memberi waktu banyak kepadanya untuk memikirkan dan
mempelajari secara dalam tentang hal-hal dan sebab-sebab pergerakan rakyat itu.
Tetapi tuan yang kuno itu percaya kepada Tuhan Allah dan memiliki hati yang
adil. Tuan Residen berbuat lain dengan Tuan Asisten Residen muda yang memintakan
lepasnya Kadiroen itu. Di muka Tuan Residen, maka Kadiroen ditanya
bermacam-macam hal. Kadiroen menjelaskan perkara dengan sebenarnya. Sesudah
pembicaraan menjadi terang, maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen! Memang saya tidak membetulkan pendapat Tuan Asisten Residen. Hari
kemarin ia sudah omong panjang lebar dengan saya. Tetapi saya sudah mengatakan
kepadanya bahwa tulisanmu yang menyebabkan tuduhan Tuan Asisten Residen menurut
pendapat saya memang tidak melanggar undang-undang. Oleh karena itu, saya tidak
suka kamu dilepas. Hal itu membikin tidak enaknya Tuan Asisten Residen. Ia
merasa di dalam kalangan Binnenlandsh-Bestuur kurang mendapatkan kehormatan dan
kesenangan. Karena ia punya pendapat baik, katanya, tidak semua dituruti dan
disepakati semua orang. Ia merasa selalu saja mendapat celaka. Meskipun, boleh
dibilang sebenarnya ia paling cepat mendapat pangkat Asisten Residen. Oleh
karena hal-hal itu, sekarang ini ia minta lepas sendiri dengan hormat. Berhubung
dengan kelepasannya Tuan A.R. yang diminta itu, maka perkaramu menjadi gampang
diputuskan. Sebab umpamanya ia tetap menjabat, dan minta voorstel-nya melepas
kamu diteruskan kepada pemerintah, tentu ini hari perkaramu belum bisa
diputuskan. Adapun putusan saya dalam perkara ini begini: sebagaimana kamu
tahu, maka di bawah perintah saya, sekarang ini ada dua pangkat besar yang
terbuka, yaitu pangkat regen di Kota P dan pangkat patih di kota M. Saya sudah
melihat semua Staatvan Dienst dan Conduite-Staat (Catatan Hal Ihwal Pekerjaan
dan Urusan Setiap Priyayi) dari amtenar-amtenarku. Dan saya tahu bahwa kamu ada
di paling depan menurut voorstel-nya Tuan Asisten residen yang dahulu, kamu ada
di rangking 1. Karena itu, kamu bisa saja voorstel-nya menjadi regen di Kota P
atau menjadi patih di Kota M. Kalau kamu mau berhenti menulis di surat kabar
Sinar Ra’jat,tentu saya akan membikin voorstel supaya kamu menjadi regen itu.
Setidak-tidaknya kamu menjadi patih di Kota M. Tetapi kalau kamu terus menulis
di Sinar Ra’jat, tentu saya tidak akan voorstel-kan kamu. Dan kalau patih yang
kamu wakili ini sudah sembuh, tentu kamu akan kembali menjadi wedono lagi. Saya
tidak akan voorstel-kan menaikkan pangkatmu karena kamu akan mempunyai waktu
yang terbagi dua, yaitu untuk keperluan pekerjaanmu dan untuk keperluan
menulismu. Pekerjaan regen atau patih itu begitu berat, sehingga kalau
dikerjakan betul oleh seorang biasa, tentu orang yang berpangkat itu lalu tidak
ada waktu untuk menulis. Sebaliknya, kalau terus tulis-menulis tentu
pekerjaannya menjadi kurang benar sebab waktunya terpecah. Adapun pekerjaan
wedono masih bisa merangkap begitu. Dari sebab itu, kalau kamu tetap masih
menjadi wedono tentu saya tidak melarang kamu untuk tulis-menulis. Tetapi jika
akhirnya ada delik pers yang sampai menghukum kamu, kamu tentu bisa berpikir
sendiri bahwa kamu akan dapat celaka. Jadi, sekarang ini saya memberi waktu
kepada kamu buat memilih; 'menjadi patih atauregen dengan tidak menulis lagi
atau tetapmenjadi wedono dengan boleh terusmenulis dalam Sinar Ra'jat'. Pilihlah
yang mana?”

Kadiroen mendengarkan perkataan Tuan Residen yang seperti itu, tentu ada sedikit
bahagia hatinya. Karena Kadiroen merasa mendapatkan keadilan dalam
perselisihannya dengan 'Tuan Asisten Residen. Tetapi sekarang ia mesti memilih
lagi. Kadiroen tahu, dalam pangkat dan pekerjaan priyayi ia sering mendapatkan
kesusahan atau sukar betul untuk memuliakan penghidupan rakyat dan untuk
memintarkan dan menguatkan rakyat di zaman baru ini. Sebaliknya, dalam
pergerakan rakyat terbuka jalan yang gampang untuk kepentingannya ini. Kadiroen
hanya memikirkan betul perkataan Tuan Residen yang berkata tentang waktu yang
terpecah itu. Kalau tetap ia menjabat sebagai priyayi, maka terpaksa ia memecah
waktunya, sehingga ia tidak bisa berbuat sesungguhnya dan semestinya dalam
pergerakan rakyat itu. Kadiroen juga ingat bahwa ia kemarin membaca suatu
advertensi yang menjadi mede-redacteur (yang gajinya hanya sedikit untuk
organisasi P.K. Sinar Ra’jat). Ia tahu, bahwa kalau ia yang minta pekerjaan
mede-redacteur itu, tentu akan ia dapatkan. Sedangkan Tuan Residen memberikan
dua perkara yang harus ia pilih. Tetapi sekarang Kadiroen menambahi sendiri
dengan satu pilihan lagi:

(1) Pangkat regen, setidak-tidaknya patih, tetapi mesti memutuskan hubungannya
dengan pergerakan rakyat. Gaji dan pangkatnya amat besar. Tetapi cita-citanya
atau idealismenya akan mati.

(2) Pangkat dan gaji wedono ada cukupan, berhubungan dengan gerakan rakyat masih
bisa. Tetapi pekerjaannya di sana-sini tidak bisa semestinya karena waktunya
terpecah.

(3) Pangkat tidak ada dan gaji hanya sedikit, tetapi sebagai mede-redacteur bisa
menunjang cita-citanya. Yaitu membantu dengan ikhlas semua tenaga dan usahanya
supaya rakyat Hindia bisa lepas, pintar dan kuat untuk bisa merdeka lahir batin.

Ia bisa menuntut cita-citanya bahwa tanah airnya akan merdeka, berdiri sendiri
seperti bangsa lainnya, sehingga bangsanya akan bisa dipandang sama dan
sederajat dengan bangsa lain.

Dalam hal menilik tiga perkara ini, maka sebagaimana dahulu sudah diceritakan
oleh orangtuanya, terserah buat Kadiroen. Jadi, ia boleh memilih yang ia sukai.
Oleh karena itu, Kadiroen dengan cepat memutuskan dan memilih: meminta lepas
dari pangkat dan jabatan priyayi dengan hormat sebab ia mau menjalani
perbuatannya sendiri yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinannya, yang sungguh
mulia untuk kepentingan orang banyak.

Begitulah, maka Kadiroen menerangkan keputusannya kepada Tuan Residen. Ia
menjelaskan dengan gamblang sebab-sebabnya ia ingin lepas dengan hormat itu.
Tuan Residen mendengarkan semua keterangan Kadiroen lalu menjadi gembira dan
memijat tangan Kadiroen dengan cara menghormati. Maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen, saya gembira sekali mengetahui dirimu, yang sekarang dengan
perbuatanmu sudah menunjukkan bahwa kamu memang seorang kesatria. Kamu sudah
menyatakan bahwa kamu memang seorang yang pemberani. Artinya bukan berani
berkelahi seperti anak-anak, tetapi berani, sebab kamu mau melepaskan semua
kepentingan dirimu sendiri untuk memenuhi kepentingan orang banyak menurut
keyakinanmu, Roch dan Rah adhi sejati tentu akan mendapatkan buah yang lezat
dari perbuatannya. Kadiroen, saya mendoakan semuga kamu selamat.”

Begitulah, dengan senang hati dan tenteram, Kadiroen meninggalkan pangkat dan
pekerjaannya untuk hidup sengsara, tetapi bermaksud mulia, sedangkan Tuan
Asisten Residen muda meninggalkan pangkat dan pekerjaannya, dengan murka dan
sakit hati. Tetapi akan hidup terus dalam kelimpahan harta benda. Yang baik
sudah mendapat surga di batinnya, sedang yang buruk sudah pula mendapat neraka
di batinnya. Neraka batin tidak bisa ditukar dengan surga batin. karena kekayaan
batin lebih langgeng atau lebih tetap serta kuat (onvergangkelijk).
BAB VII

Pembela Rakyat Mulai Mendapat Hadiah

Sariman dan istrinya baru saja datang dari bepergian verlof. Sariman duduk di
depan rumah sambil menunggu kedatangan Kadiroen yang waktu itu sedang mewakili
pekerjaannya sebagai hoofd-redacteur Sinar Ra’jat. Tidak berapa lama, yang
ditunggu pun datang. Keduanya lalu saling berjabat tangan serta menunjukkan
kebahagiaan masing-masing, karena mereka bisa bertemu lagi dengan selamat.
Sariman berkata sambil tertawa:

"Saudara Kadiroen, saya membawa oleh-oleh buat kamu dari kepergian saya. Tetapi
kamu sekarang belum boleh mengambil itu kalau kamu tidak mau berjanji mau kawin
dengan Ardinah kekasihmu, jika Ardinah sudah pisah secara sah dengan suaminya."

Dengan tertawa juga Kadiroen menjawab:

"Saya minta oleh-olehmu, sekalian juga minta kawin dengan Ardinah. Kalau kau
bisa membebaskan Ardinahku dari suaminya yang menyusahkan Ardinahku itu."
Mendapat Guru
Keduanya lalu menuju ke belakang. Tetapi baru datang ke pintu belakang, Kadiroen
terkejut dan wajahnya mendadak menjadi pucat sebentar. Sebentar kemudian menjadi
merah padam, sedang kata-katanya penuh makna cinta dan hatinya gembira, tetapi
bercampur sedih sebab gadis yang dicintai belum bebas. Maka Kadiroen berkata
sambil mengelus dadanya "Ardinah!"

Memang, waktu itu, Ardinah ada di situ. Dan gadis itu juga menjadi merah padam
wajahnya. Sedang ia berkata dengan amat senang bercampur rasa malu, "O, Tuanku!"

Sariman dan istrinya melihat Kadiroen dan Ardinah menjadi senang dalam hati.
Sementara itu Sariman berteriak sambil tertawa:

"E, memang sudah jodoh tetapi jangan tergesa-gesa dulu ya! Lebih dahulu harus
disahkan oleh penghulu. Sekarang kita berempat mesti vergadering dahulu. Marilah
kita sama-sama duduk dan berembuk."

Begitulah, maka keempat orang tadi bersama-sama duduk melingkari meja persegi
empat dan Kadiroen bertanya kepada Sariman dengan malu, sebentar-sebentar
pandangan matanya melirik ke arah Ardinah.

"Saudara Sariman, saya tidak mengerti sama sekali, bagaimana duduk perkaranya
ini?"

Istri Sariman menjawab dengan tertawa.

"Selamanya, orang yang sedang mabuk cinta akan kehilangan akal dan menjadi
bodoh."

Tertawanya itu semakin menambah malunya Kadiroen sebab waktu itu Ardinah ikut
setengah tertawa. Selesai tertawa, Sariman menyambung.

"Begini Saudara Kadiroen, sewaktu kamu menceritakan rahasia percintaanmu itu,
maka kamu menerangkan kebaikan Ardinah lahir dan batin ... E, jangan menjadi
merah Saudara Ardinah!" kata Sariman memotong ceritanya dengan tertawa sambil
melihat Ardinah. Sekarang Ardinah ganti menjadi malu sebab Kadiroen ikut
setengah tertawa.

"Sekarang saya teruskan ceritaku!" kata Sariman. "Selain dari itu, kamu, Saudara
Kadiroen sudah berkata bahwa Ardinah sudah melepas kamu dari kewajibanmu
menolong istri tua Kromo Nenggolo. Ardinah sudah menjelaskan bahwa ia memiliki
cara tersendiri untuk menolong itu. Hal itu saya jadikan pusat perhatianku, guna
berusaha membantu hubungan percintaanmu. Saya lalu berpendapat bahwa Ardinah -
mengingat watak Ardinah sebagaimana dahulu sudah kamu jelaskan - pasti akan
bertindak jika ia mempunyai niat. Jadi, sewaktu kamu pindah dari Onderdistrik
Gunung Ayu sebab kamu naik pangkat menjadi wedono, maka mestinya Ardinah sudah
bertindak sedemikian rupa, sehingga ia dicerai oleh Kromo Nenggolo. Sebab hanya
dengan cara itu, ia bisa menolong istri tua Kromo Nenggolo yang menderita batin
itu. Begitulah pendapat saya. Maka saya bersama istri saya minta verlof guna
membuktikan pendapat saya itu, apakah cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.
Saya tidak mengatakannya padamu agar kamu tidak susah seandainya kepergian saya
ini tidak membawa hasil.

Karena di Desa Meloko sudah ada P.K., maka dengan gampang saya bisa mengetahui
keadaan Ardinah di sana. Saudara-saudara anggota P.K. banyak yang kenal kepada
saya dan suka menolong. Dengan pertolongan saudara-saudara yang percaya kepada
saya itu, maka saya bisa mendapatkan Ardinah. Istri saya lalu berkenalan
dengannya. Selanjutnya, usaha-usaha yang lain saya serahkan kepada istri saya.
Oleh karena itu, istri saya akan menyambung pembicaraanku ini."

Istri Sariman meneruskan.

"Begini, sesudah saya berkenalan dengan Ardinah, maka saya berbuat sedemikian
rupa sehingga Ardinah menaruh kepercayaan kepada saya. Sesudah saya dipercaya,
lalu saya bisa meminta keterangan yang bermacam-macam. Pada saat itu, maka saya
mendapatkan cerita, bahwa betul ia dulunya menjadi istri Kromo Nenggolo. Tetapi
sekarang sudah dicerai dan diambil anak oleh kamitua desanya. Kamitua itu,
keduanya sudah kakek-nenek, tetapi mereka tidak mempunyai anak sama sekali.
Karena sewaktu Saudari Ardinah dicerai oleh Kromo Nenggolo, ia tidak mempunyai
sanak famili sama sekali, kamitua itu menjadi kasihan kepada Saudari Ardinah.
Maka ia diambil menjadi anak dan menjadi pembantu utama dalam keIuarga
kakek-nenek itu. Sudah beberapa kali ada pemuda melamar Ardinah, tetapi Ardinah
tidak mau kawin lagi dan ia akan melulu melayani ayah ibu tua yang amat baik
dengan anak angkatnya itu. Ardinah menjadi begitu besar kepercayaannya kepada
saya sehingga ia bilang bahwa meskipun secara lahiriah ia pernah menjadi istri
Kromo Nenggolo, tetapi selamanya ia menolak suaminya itu. Sehingga sampai
sekarang Ardinah menyatakan bahwa ia masih seorang gadis yang masih suci dan
kuat melawan nafsu. Apa sebabnya ia melawan, kamu pun, Saudara Kadiroen juga
sudah tahu. Selamanya Ardinah disiksa oleh suaminya, tetapi selamanya juga ia
berniat menolong istri tuanya dan selalu minta cerai. Tetapi si lelaki tidak mau
menuruti, sedang Ardinah tidak mendapatkan jalan pertolongan bagaimana ia bisa
melepaskan diri dari Kromo Nenggolo. Sudah tentu cara yang dikendaki Ardinah itu
adalah cara yang sah dan baik. Sesudah Ardinah bertemu denganmu, Kadiroen, maka
Ardinah kebetulan baru mengetahui dari omong-omong penduduk Meloko bahwa si
Lurah, suaminya, adalah seorang pemeras dan penindas rakyat, sebab sering
meminta bayaran yang luar biasa kepada penduduk yang minta pertolongannya.
Meskipun sesungguhnya pertolongan lurah itu merupakan kewajiban dari pangkat dan
pekerjaannya. Bengisnya lurah itu kepada penduduk desa memang sudah keterlaluan,
sehingga rakyat hidup dalam kemelaratan dan kesusahan, sedang si lurah sendiri
menjadi amat kaya. Lurah Kromo Nenggolo itu di desanya adalah orang paling
pintar dan paling kuat sendiri. Ditambah karena pangkatnya sebagai lurah, ia
memang berkuasa. Karenanya sudah tentu tidak ada seorang pun yang berani melawan
dia."

"Ya, hal itu saya sudah tahu dan sava telah menyerahkan urusan ini lebih jauh
kepada pengganti saya," kata Kadiroen memotong pembicaraan istri Sariman.

lstri Sariman melanjutkan cerita.

"Baik. Tetapi, meskipun tidak ada yang berani melawan dan berani mengadukan
kejahatan lurah terhadap penduduk kepada Asisten Wedono atau para
pembesar-pembesar negeri yang berwajib lainnya, di desa itu, di belakang lurah,
banyak yang berkata benci. Sehingga Ardinah ikut bisa mendengarnya dan hatinya
bertambah marah kepada suaminya. Ardinah lalu tahu bahwa lurah tadi, bukan saja
seorang yang suka membikin sakit hatinya istri tua, bukan saja seorang penindas
istri muda, tetapi juga seorang penindas dan pemeras rakyat. Dalam hati Ardinah
menjadi sangat marah. Dan tertarik atas kehendaknya untuk menolong istri tua dan
menolong rakyat yang tertindas dan terperas itu. Maka Ardinah selalu berpikir
keras buat mencari cara memberi pelajaran kepada suaminya yang amat busuk itu.
Niatan untuk membela kepentingan orang banyak telah memberi keberanian yang luar
biasa kepada si gadis Ardinah. Pada waktu asisten wedono yang baru mulai
menjabat pangkatnya, maka Ardinah mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi atas
kejahatan lurah. Setelah mendapat bukti-bukti yang cukup, maka, Ardinah bertamu
di rumah tiap-tiap penduduk desa, serta berjanji akan memimpin orang banyak
untuk mengadukan kejahatan suaminya di hadapan Tuan Asisten Wedono. Orang-orang
desa serentak mengetahui bahwa istri muda lurah adalah seorang perempuan yang
berani melawan lurahnya. Maka orang-orang desa tadi lalu terbuka pikirannya
sehingga menjadi berani juga. Begitulah, pada suatu hari berpuluh-puluh orang
desa berkumpul dan dipimpin Ardinah, beramai-ramai menghadap pada Tuan Asisten
Wedono. Seperti Srikandi dalam peperangan, maka Ardinah menuduh dengan
bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat guna menjatuhkan lakinya. Ia meminta
dipecatnya si lurah dari jabatannya itu. Karena Asisten Wedono tadi juga sudah
mengetahui kejahatan Kromo Nenggolo, maka sudah tentu ia sepakat saja. Dari
perkara itu Ardinah menjadi tahu, biasanya penduduk desa baru berani mengadukan
lurahnya di hadapan pembesar jika sudah ada lebih dari separo jumlah penduduk
yang bersatu mempunyai niat melawan lurahnya itu.

"Adapun tidak lama setelah perkara Kromo Nenggolo ditindaklanjuti oleh Tuan
Patih, Kontrolir dan sebagainya, maka sungguhlah si jahat itu mendapat surat
pemecatan dari residen. Bagaimana kegembiraan penduduk, itu pun tak usah saya
jelaskan pula.

"Tetapi bagaimana marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada Ardinah pun ada
batas-batasnya pula. Sudah barang tentu sejak Ardinah mengajak penduduk desa
untuk menggulingkan suaminya, ia tiap hari selalu siap sedia dan berjaga-jaga
untuk berperang melawan Kromo Nenggolo.

"Sebagai senjata perang, maka setiap hari Ardinah menyimpan sekantong abu yang
ia selipkan di dadanya. Setelah semua orang pulang dari kantor onderdistrik,
maka di rumah Kromo Nenggolo ada pertikaian ramai antara suami dan istri
mudanya. Ardinah berkata; `Hai, Kromo Nenggolo, ingatlah kepada istri tuamu,
sebab kamu sudah tahu bahwa saya tidak akan mau membantu hidupmu sebagaimana
istri tuamu. Sebaliknya, saya selalu bermusuhan denganmu. Karena itu, ceraikan
saya dan kembalilah kamu ke istri tuamu. Cobalah kamu menjadi orang baik-balk
agar kamu tidak selalu menjadi seorang pemarah terus-menerus.

"Kata-kata yang dikeluarkan dengan lemah lembut dan halus budi bahasanya itu,
diterima Kromo Nenggolo dengan luapan kemarahan. Laksana buto ijo, Kromo
Nenggolo menjawab: 'Hai, Ardinah, kamu seorang perempuan yang lembek. Kamu
tidak saja berani menjatuhkan diriku, tidak saja berani menolak terus-menerus
ajakanku, tetapi sekarang kamu malahan berani mengguruiku. Kecintaanku kepadamu
sekarang telah berubah menjadi kebencian yang hanya bisa saya lupakan kalau kamu
sudah mati. Saya tidak hanya akan menceraikanmu, tetapi saya juga akan
menceritakan jiwamu dari badanmu.'

"Habis berkata begitu, Kromo Nenggolo menghunus kerisnya dan berlari mendekati
Ardinah untuk menikam atau membunuh gadis muda itu. Tetapi Ardinah yang juga
sudah siap, tidak tinggal diam.

"Begitu Kromo Nenggolo sudah menghunus kerisnya, begitu juga Ardinah membuka abu
dari kantongnya. Dengan cepat Kromo Nenggolo lari hendak menusuk Ardinah dan
dengan cepat pula Ardinah melemparkan abu tepat di mata Kromo Nenggolo. Sudah
tentu Kromo Nenggolo tidak bisa melihat apa-apa, sehingga ia tidak tahu ke mana
perginya Ardinah. Sambil misuh-misuh dan mengamuk laksana orang gila, Kromo
Nenggolo menusuk-nusukkan kerisnya sedapat-dapatnya ke arah mana saja, meja,
kursi, tanah, dinding rumah dan sebagainya. Tetapi Ardinah sudah lari dan
mengunci kamar tempat berkelahi itu dari luar. Kromo Nenggolo terkurung dalam
kamar, laksana babi hutan yang masuk jebakan. Keris Kromo Nenggolo terputus,
tetapi matanya masih tidak bisa melihat apa-apa. Ia semakin mengamuk dan berlari
menabrak-nabrak dinding dan perkakas rumah. Sehingga badannya menjadi sakit
semua. Di sana-sini keluar darah, sehingga semakin lama semakin hilang pula
kekuatannya. Akhirnya, ia terjatuh setengah mati dan pingsan. Begitulah dengan
abu, Ardinah sudah bisa meredam nafsu amarah Kromo Nenggolo dan Ardinah menang
serta bisa selamat.

"Sewaktu Kromo Nenggolo pingsan, Ardinah membuka kunci kamar itu dan
bersama-sama dengan istri tua mereka mengangkat badan Kromo Nenggolo dan
membawanya ke tempat tidur. Sesudah luka-lukanya dicuci, diobati dan dibalut
rapi oleh dua perempuan tadi - satu sama telah berjanji untuk saling
tolong-menolong dan sepakat mengatur siasat perselisihan tadi - maka mata Kromo
Nenggolo pun dicuci pula oleh istri tua, dan selang beberapa lama ia pun bangun,
namun badannya masih terasa lemah. Ardinah bersembunyi, tetapi istri tuanya
menunggu di depan suaminya. Setelah mengetahui suaminya bangun, istri tua
memberi ciuman seraya berkata:

'O, suamiku, saya akan memelihara kamu sampai kamu sembuh dari sakitmu. Tetapi
kalau kau menurut, Ardinah akan memberikan untuk keselamatanmu.'

'Ya, Ardinah memang seorang perempuan yang cerdik, berani dan sesungguhnya baik
lahir-batinnya. Sekarang saya tahu dan mengakui kesalahan saya, dan saya telah
merasa takluk kepadanya. Saya akan menuruti kehendaknya, jika saya sudah sembuh,
saya akan menceraikannya,' kata Kromo NenggoIo.

"Tiga hari kemudian, sungguh Kromo Nenggolo menceraikan Ardinah dan kembali
setia serta mencintai istri tua. Sedang Ardinah memberi nasihat begini:

'Hai Kromo Nenggolo, manusia baru dikatakan selamat jika ia mempunyai hati yang
selalu merasa senang. Sedang kesenangan hati itu tidak ada dalam kepuasan nafsu.
Tetapi ada dalam kesediaan untuk menahan nafsu terus-menerus, jika nafsu itu
ingin mendapatkan kesenangan dan kekayaan lahiriah. Orang yang hatinya bisa
bersabar, yang berusaha membikin kesenangan orang lain, dan suka menerima dengan
senang hati, apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan Allah, dengan tidak
melepaskan diri untuk terus berusaha berbuat baik, dengan tidak lupa kepada
Tuhan Allah, maka orang itu akan mendapatkan keselamatan, yakni keselamatan
batin sebab rasa hatinya selalu senang. Inilah rahasia yang saya tinggalkan
untukmu dan kalau kamu bisa menjalankan hal-hal itu, maka akan mendapatkan
keselamatan juga.'

"Kromo Nenggolo mengikuti nasihat itu, dan sekarang ia menjadi seorang petani
yang baik-baik. Sedang istri tuanya selalu membantu Kromo Nenggolo untuk
mencapai jalan keutamaan itu.

"Adapun Ardinah lalu diambil anak oleh kamitua sebagaimana telah saya ceritakan.
Setelah saya mengetahui riwayat Ardinah itu, maka saya berkata kepada Ardinah
bahwa di rumah saya ada seorang perjaka bernama Kadiroen yang dahulunya pernah
menjadi Asisten Wedono membawahi Desa Meloko. Sewaktu Ardinah mendengar nama
Kadiroen, muka Ardinah lantas bersemu merah. Jadi saya mendapatkan bukti bahwa
gadis itu masih cinta kamu, Kadiroen! Oleh karena saya telah mendapatkan bukti
itu, saya lalu bercerita kepada Ardinah, bagaimana keadaanmu yang begitu setia
kepada si gadis ayu ini. Sehingga sampai sekarang kamu tidak mau kawin. Sewaktu
Ardinah mendengar cerita saya itu, maka ia lalu menangis dan mengaku bahwa ia
juga tidak mau. Ia diharap pada jodohnya alias Kadiroen. Karena itu, saya segera
saja atas nama kamu, Kadiroen, melamar Ardinah agar mau kawin denganmu, supaya
perkara ini bisa cepat selesai. Jadi orangtua Ardinah saya ceritai hal-hal itu
semua. Akhirnya Ardinah mau saya ajak bertamu di rumah kita."

Sampai di situ, selesailah cerita istri Sariman mengenai Ardinah. Sudah tentu
Ardinah menjadi malu bercampur senang ketika riwayatnya dijadikan bahan cerita
itu. Kebahagiaan Ardinah menjadi bertambah besar lagi karena setelah mendengar
riwayat Ardinah, Kadiroen pun lalu datang mendekati tunangannya, memegang
mencium tangan bidadarinya dan berkata:

"O, istriku. O, jiwaku! Saya sungguh-sungguh mencintaimu dan sangat bahagia
mendengar cerita apa yang telah kaukerjakan di Desa Meloko."

Mendengar keterangan Kadiroen, Ardinah pun lalu menangis sebab sakingbesarnya
kebahagiaan serta senang hatinya. Ia berdiri dan menjatuhkan kepalanya di dada
Kadiroen. Lama mereka tidak berbicara apa-apa dan hanya masih saling berpelukan,
membuktikan bahwa mereka telah menyatu lahir-batin karena ikatan cinta. Sariman
dan istrinya turut merasakan kebahagiaan calon pengantin baru itu. Maka
kemudian Sariman berkata, "Saudara Kadiroen, perkawinan sejati ialah lahirnya
percintaan sejati. Tetapi supaya perkawinan batinmu yang sudah sah itu bisa
diketahui sah lahiriahnya oleh semua orang, maka kamu harus menunggu penghulu
lebih dahulu. Juga sebelumnya kamu harus meminta izin kepada orangtuamu. Ibumu
masih menyandang gelar raden ayu, jadi saya tidak bisa memperkirakan apakah
kiranya ibumu akan sepakat jika kamu menikah dengan Ardinah yang tidak mempunyai
gelar kebangsawanan itu. Karena esok lusa ada vrij dua hari, ialah hari besar,
sedang sesudahnya itu lalu hari minggu, maka kita akan mendapatkan vrij tiga
hari lamanya. Marilah besok lusa kita berempat mengunjungi orangtuamu, Saudara
Kadiroen. Lebih dahulu Ardinah mesti diketahui oleh ibumu. Sedangkan istri saya
nanti akan menjelaskan kebaikan lahir-batinnya Ardinah. Kalau kita semua sudah
saling kenal-mengenal selama tiga hari, maka kamu Kadiroen mesti mulai bicara
dan meminta izin untuk kawin pada ibumu. Yang nomor satu, bagi seorang perjaka
yang akan kawin, harus meminta izin pada ibunya dan barulah ayah akan turut
campur.

Tiga hari kemudian, Sariman dan istrinya serta Ardinah duduk di muka rumah
orangtuanya Kadiroen. Di belakang rumah, ibu Kadiroen sedang duduk di dipan dan
di sampingnya, anak lelakinya, Kadiroen, duduk berjejer sambil memegang tangan
dan memandang mata si ibu sebagaimana seorang perjaka yang sangat setia dan
mencintai ibunya. Maka ia berkata:

"O, Ibu. lbu sudah tahu, siapa Ardinah. Ibu, saya sangat mencintai gadis itu dan
memohon izin ibu dan bapak supaya saya boleh mengawini Ardinah. Ardinah juga
sudah sepakat. Ibu, hidupku sungguh akan tidak berharga kalau tidak jadi kawin
dengan Adinah."

Ibu Kadiroen mendengar tangis anak lelakinya, lalu menjadi tersenyum dan sambil
setengah tertawa ia menjawab.

"E, ee, anakku minta kawin. Dulu tidak mau. Tiba-tiba sekarang menjadi
tergila-gila pada seorang janda. Nanti, nanti, ya, lbu mau pikir dahulu dan mau
berembuk dengan ayahmu dulu. Sudah, sekarang pergilah ke muka, kalau nanti saya
dan ayahmu sudah berembuk, kamu berempat akan saya panggil kemari."

Kadiroen ke depan rumah dengan muka yang amat pucat... "O, bagaimanakah
keputusannya, ayah dan ibu mau menyenangkan atau menyusahkan? Kalau tidak diberi
izin bagaimana?" Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar. Ia masih mengingat-ingat
kata-kata ibunya yang mengatakan "Tergila-gila dengan janda!" Apakah dalam
perkataan itu tidak menyiratkan penolakan?

Sariman dan istrinya serta Ardinah mengetahui Kadiroen datang dengan muka yang
amat pucat. Semua menjadi terkejut dan setengah bingung. Mereka merasa, Kadiroen
sudah minta izin kawin, tetapi apa sebabnya Kadiroen tidak bisa berbicara dan
roman mukanya pucat. Ibu Kadiroen masih seorang raden ayu, bakal menantunya
hanya seorang desa, sudah janda dan miskin. Juga sudah tidak punya orangtua
lagi. Ditolakkah? Semua sama-sama takut meminta keterangan dari Kadiroen, apa
betul sudah ditolak? Mata Ardinah berkaca-kaca hendak menangis. Semuanya
terdiam, tidak ada yang berkata.

"Kadiroen, Ardinah, Saudara Sariman sekalian, marilah, datang ke sini!" kata
seorang berteriak memanggil dari belakang. Yang dipanggil sama-sama
berdebar-debar hatinya. Sama-sama berdiri dan Kadiroen memegang tangan Ardinah
berjalan lebih dahulu. Sedang Sariman sekalian menyusul di belakangnya. Ibu dan
ayah Kadiroen, dua orang lelaki perempuan yang rambutnya sudah memutih itu,
duduk di atas dipan.

Di antara para pembaca buku ini, barangkali ada yang bergelar raden ayu dan
sudah menduga bahwa ibu Kadiroen akan berkata: "Ardinah seorang janda yang
miskin mau menjadi menantuku? Tidak boleh!" Tetapi kalau pembaca putra-putri
raden ayu itu, memang mengira begitu, maka sesungguhnya penulis cerita ini
dengan segala hormat dan kerendahan mohon ampun beribu ampun, bahwa penulis
akan membikin kecewanya praduga-praduga para pembaca yang bergelar raden ayu
ini. Sebab penulis terpaksa hanya menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dan
keadaan yang sebenarnya itu begini.

Ibu Kadiroen berkata:

"Kadiroen anakku! Ardinah anakku! Saksikanlah hai sahabat Sariman sekalian, kita
ayah dan ibu Kadiroen bersedia memberi izin Kadiroen mengawini Ardinah.
Ketahuilah, wahai anakku Kadiroen, sudah menjadi keberuntunganmu, kamu mendapat
anugerah Tuhan Allah akan kawin dengan Ardinah. Ardinah, sebagaimana saya
ketahui dari tingkah lakumu, wajah dan perkataan serta riwayatmu, Ardinah
bukanlah seorang gadis yang bergelar raden ayu, tetapi seorang gadis yang berisi
"Rach Ayu ". Rach Ayu, tempatnya tidak ada dalam gelar tetapi dalam hati. Dan
seorang yang memiliki hati sebagaimana Ardinah ini memang sesungguhnya seorang
perempuan Rach Ayu Sejati. Kita ibu dan ayah memberi doa dan izin pada kamu hai,
Kadiroen dan Ardinah untuk kawin. Selamatlah kamu!"

Mendengar kata-kata ibunya yang memberi izin, maka Kadiroen dan Ardinah menjadi
senang dan bahagia luar biasa. Kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakan oleh
dua muda-mudi waktu itu sungguh-sungguh tidak bisa dilukiskan dengan pena dan
tinta. Karena memang saking besarnya. Dari saking bahagianya maka Kadiroen dan
Ardinah menjadi menangis dan mereka berpegangan badan satu sama lainnya,
bersama-sama menyatukan muka di pangkuan ayah dan ibunya serta berkata:

"O...Ibuku..., Ayah..., O, apakah kebaikan kita sehingga mendapat anugerah
perasaan bahagia yang sebesar-besarnya ini. Ibuku... Ayahku... ? O,
Ibu...Ayah...kita merasakan begini bahagia..., begini nikmat di batin. O, kita
tidak bisa menerangkan apa yang kita rasakan amat nikmat ini."

Ganti-berganti Kadiroen dan Ardinah mengatakan hal sambil matanya bercucuran
karena bahagianya. Ganti berganti mereka menangis sambil mukanya jatuh di
pangkuan ayah maupun ibunya karena mendapatkan anugerah yang begitu besar;
sepasang perjaka dan gadis lulus dalam percintaannya.

Ibu dan ayah dengan sabar dan senang hati, berganti-ganti mengelus kepala
menantu mereka Ardinah, juga Kadiroen anaknya. Sariman sekalian ikut bahagia
melihat semua itu, sehingga mereka merasakan seperti amat muda, dan dari sebab
itu mereka saling berpelukan satu sama lain, ala pengantin baru. O bayangan
surga itu, lamalah terbayang-bayang...."

"Sekarang begini anak-anak," kata ayah Kadiroen sambil menjabarkan
kebahagiaannya, "Di mana ternyata kita semua mendapatkan kebahagiaan karena
Ardinah dan Kadiroen mendapat anugerah besar di situ kita wajib mengirim doa
terima kasih kita kepada Tuhan Allah Yang Mahabelaskasihan pada kita ini.
Sebentar lagi, marilah kita pergi ke mesjid supaya perkawinan ini disahkan oleh
penghulu. Dan sekarang marilah kita sama-sama duduk di tanah sambil menghaturkan
doa terima kasih kita!"

Enam manusia menyatukan diri duduk di tanah, dan dalam hati mereka yang sangat
bahagia, melayang sebuah doa.

"O, Tuhan Allah Yang Mahabesar, Yang Maha adil, bagaimanakah kita bisa
membuktikan rasa terima kasih kita, dengan terang dan sepantasnya kepada Gusti.
O, Tuhan, Allah Yang Maha kuasa, kita menghaturkan berjuta-juta terima kasih
atas kebaikan Tuhan...."

Setengah jam mereka duduk di atas tanah sambil berdoa dari jiwa-jiwa mereka yang
paling dalam. Berdoa yang sebersih-bersihnya dan senyata-nyatanya.

Di dalam kamar semua diam dan suasana menjadi sunyi. Hanya hati dan jiwa-jiwa
enam manusia tadi yang berbicara kepada Tuhan Allah Yang Maha adil. Suasana
kamar sunyi sebab hanya jiwa-jiwa mereka yang sedang berbicara.

Di luar rumah, angin kecil bertiup perlahan-lahan di pohon dan dedaunan.
Bunga-bunga melati yang menari-nari menyambut sinar mentari sedemikian hidup
karena hembusan angin yang sejuk. Kupu-kupu berterbangan dari satu bunga ke
bunga yang lainnya. Burung-burung bercinta-cintaan dalam hijaunya lembah dunia.
Semua kodrat Allah hidup. Hidup di dunia. Hidup, hidup dan bercinta-cintaan.

Demikianlah buat sementara waktu, lain kali kalau tidak berhalangan akan
disambung.

***


Komentar

  1. Baruu baca smapai bab 1..ntr dilanjut lgi dah ..sangat menginspirasi..

    BalasHapus
  2. Baruu baca smapai bab 1..ntr dilanjut lgi dah ..sangat menginspirasi..

    BalasHapus
  3. Ya, dengan membaca kita akan kaya inspirasi dan wawasan. Menuntut ilmu dengan cara Formalpun harus diimbangi dengan membaca, ambil sisi positif dari setiap bacaan yang kita baca......

    BalasHapus
  4. Ya, dengan membaca kita akan kaya inspirasi dan wawasan. Menuntut ilmu dengan cara Formalpun harus diimbangi dengan membaca, ambil sisi positif dari setiap bacaan yang kita baca......

    BalasHapus
  5. Ya, dengan membaca kita akan kaya inspirasi dan wawasan. Menuntut ilmu dengan cara Formalpun harus diimbangi dengan membaca, ambil sisi positif dari setiap bacaan yang kita baca......

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UMSK Kabupaten Bekasi 2018 akan dirundingkan oleh Serikat Pekerja dengan Apindo

AD/ART SPKEP SPSI